Info Teknologi » Serangan Tungau Merah pada Tanaman Ubi Kayu

Ubi kayu merupakan tanaman semusim dengan umur lebih dari 6 bulan, banyak dibudidayakan di lahan kering dengan tingkat kesuburan tanah yang rendah dan ketersediaan air terbatas. Umur ubi kayu yang panjang menyebabkan tanaman ini berisiko tumbuh pada musim kemarau yang panjang dan berpeluang mengalami cekaman kekeringan. Pada kondisi kekeringan, tanaman ubi kayu dapat terserang hama tungau merah (Tetranychus urticae).

Serangan tungau merah yang parah dapat menyebabkan kematian tanaman ubi kayu, tergantung lama serangan dan umur tanaman. Serangan hama tungau merah dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan semua daun luruh dan kehilangan hasil.

Pengendalian hama tungau merah pada tanaman ubi kayu hampir tidak pernah dilakukan, meskipun pengendalian dapat dilakukan dengan cara sederhana, seperti menyemprotkan air pada tanaman terserang maupun dengan menanam varietas tahan. Varietas ubi kayu toleran kekeringan terindikasi juga tahan terhadap tungau merah dan mempunyai kemampuan genetik untuk mempertahankan jumlah daun hijau sebanyak mungkin selama musim kering. Ketahanan tanaman terhadap tungau merah dipengaruhi oleh kandungan polifenol, morfologi, dan anatomi daun.

1. Gejala Serangan Hama Tungau Merah pada Ubi Kayu

Tungau merah menyerang tanaman dengan cara merusak sel-sel mesofil dan mengisap isi sel termasuk klorofil. Gejala awal serangan tungau merah adalah adanya bintik-bintik berwarna kuning pada bagian dasar daun, berlanjut ke sekitar tulang daun utama, dan daun berubah warna menjadi cokelat (Gambar 1). Meskipun luka yang disebabkan oleh individu tungau merah sangat kecil, namun apabila serangan disebabkan oleh ratusan bahkan ribuan tungau merah akan dapat menyebabkan gejala serangan yang parah, dan secara nyata dapat mengurangi kemampuan tanaman untuk berfotosintesis. Daun yang mengalami serangan tungau merah mempunyai laju fotosintesis yang rendah, transpirasi meningkat, dan kadar klorofil rendah.

Gambar 1. Daun yang terserang tungau merah.

Gambar 1. Daun yang terserang tungau merah.

Pada saat populasi berkembang, tungau menyebar ke seluruh daun, termasuk permukaan atas daun, dan bintik-bintik kuning menyebar ke seluruh daun, menyebabkan daun berwarna kemerahan seperti karat. Pada serangan parah, daun bagian tengah dan bawah akan rontok, selanjutnya serangan mengarah ke bagian pucuk, dimana tunas mengalami penyusutan ukuran dan banyak dijumpai adanya jaring (web) berwarna putih yang menyelimuti daun pada sepertiga bagian atas tanaman. Pada kondisi demikian dapat menyebabkan tanaman mati. Gejala serangan tungau merah pada tanaman ubi kayu dapat dilihat pada Gambar 2.

Tungau merah dapat menyebabkan kerusakan parah pada seluruh varietas ubi kayu, menyebabkan klorosis dan kehilangan area fotosintesis hingga 90%, serta defoliasi. Penurunan hasil ubi kayu akibat serangan hama tungau merah dapat mencapai 60%. Serangan yang parah dapat mengakibatkan kematian tanaman, tergantung pada lama serangan dan umur tanaman.

Gambar 2. Tanaman sehat (a), tanaman terserang dengan tingkat serangan sedang (b), dan tanaman terserang dengan tingkat serangan sangat berat (c) di KP Kendalpayak.

Gambar 2. Tanaman sehat (a), tanaman terserang dengan tingkat serangan sedang (b), dan tanaman terserang dengan tingkat serangan sangat berat (c) di KP Kendalpayak.

Pada tahun 2010 yang mengindikasikan terjadinya perubahan iklim berupa pemanasan global menimbulkan terjadinya peningkatan serangan tungau merah pada pertanaman ubi kayu. Serangan hama ini hampir merata di seluruh wilayah Indonesia. Populasi T. urticae yang tinggi disebabkan karena hama tersebut lebih tahan terhadap perubahan iklim termasuk pemanasan global dibandingkan predatornya. Ubi kayu yang ditanam pada musim kering mengalami serangan tungau merah, dengan intensitas mencapai lebih dari 75% dengan tingkat hasil hingga 95%.

Serangan tungau merah pada titik tumbuh dan tunas dapat menyebabkan pembentukan daun berkurang, ruas batang memendek, penurunan produktivitas tanaman, serta mempengaruhi kuantitas dan kualitas bahan tanam.

2. Pengendalian Tungau Merah

Pengendalian tungau merah dapat dilakukan secara biologi, kultur teknis, dan kimiawi.

a. Pengendalian secara biologi

Pengendalian secara biologi dapat dilakukan dengan menggunakan musuh alami (predator) yang ada di alam. Terdapat 32 jenis predator yang telah dilaporkan menyerang tungau. Predator tungau yang paling penting adalah: (1) Oligota minuta untuk Mononychellus tanajoa, (2) Stethorus tridens untuk T. urticae dan T. cinnabarinus, dan (3) Phytoseiidae. Terdapat 30 jenis predator dari keluarga Phytoseiidae yang menyerang tungau pada ubi kayu.

Musuh alami yang sering membatasi populasi T. urticae diantaranya genus Amblyseius, Metaseiulus, Phytoseiulus, Stethorus, dan Orius (Gambar 3), Thrips, Lepto thrips, dan larva Lacewing, Chrysopa. Scolothrips takahashii merupakan thrip predator yang dapat digunakan sebagai agen hayati yang efektif terhadap T. urticae pada tanaman strawberry. Predator lainnya seperti Orius minutus, Coccinellla septempunctata, Stethorus gilvifrons, dan Stethorus punctillum dinilai sebagai agen hayati yang potensial. Di Amerika Serikat terdapat lima jenis tungau predator yang tersedia secara komersial, yaitu: Phytoseiulus persimilis (Gambar 3), Mesoseiulus longipes, Neoseiulus californicus, Galendromus occidentalis (Gambar 4) dan Amblyseius fallicus. Pengendalian T. urticae dengan menggunakan predator Phytoseiidae dinilai tidak efektif. Hal itu disebabkan perkembangan dari Phytoseiidae lebih lambat dari pada perkembangan tungau merah, sehingga predator tidak mampu memangsa tungau merah.

Gambar 3. (a) Larva Orius insidiosus (Say) dan (b) Phytoseiulus persimilis dewasa (sumber : Price dalam Fasulo and Denmark 2010).

Gambar 3. (a) Larva Orius insidiosus (Say) dan (b) Phytoseiulus persimilis dewasa (sumber : Price dalam Fasulo and Denmark 2010).

Feltiella acarisuga (Gambar 4) merupakan salah satu predator yang mempunyai daya pemangsa tinggi. Kemampuan F. acarisuga memangsa tungau merah lebih tinggi dibandingkan dengan Neoseiulus californicus dan Amblyseius swirskii,. Larva F. acarisuga mempunyai kemampuan memakan telur tungau merah sebanyak 50 telur/hari, diikuti N. californicus sebanyak 26 telur/hari, dan A. swirskii sebanyak 15 telur/hari. N. californicus betina mampu memproduksi telur lebih banyak dibandingkan dengan A. swirskii betina.

Gambar 4. (a) Galendromus occidentalis (sumber: Price dalam Fasulo and Denmark 2010) dan (b) Feltiella acarisuga (Sumber: David R. Gillespie, Agassiz dalam Osborne et al. 2012).

Gambar 4. (a) Galendromus occidentalis (sumber: Price dalam Fasulo and Denmark 2010) dan (b) Feltiella acarisuga (Sumber: David R. Gillespie, Agassiz dalam Osborne et al. 2012).

Pengendalian T. urticae secara hayati dapat terganggu dengan adanya pemanasan global berupa penurunan interaksi antara predator dengan mangsanya dan menurunnya laju predasi yang berakibat pada menurunnya laju reproduksi tungau predator.

b. Pengendalian dengan cara kultur teknis

Selain memilih bahan tanam, pengairan juga merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengendalikan populasi tungau merah. Tanaman ubi kayu yang terserang tungau merah diairi (digenangi) selama 30 menit, disemprot dengan air menggunakan tekanan yang kuat dapat mengendalikan populasi tungau merah. Irigasi yang memadai merupakan cara yang penting untuk mengendalikan populasi tungau, karena tanaman yang tercekam kekeringan mudah terserang tungau. Tanaman terserang dicabut dan dibakar untuk menghindari penyebaran tungau yang lebih luas.

c. Pengendalian dengan cara kimia

Pengendalian kimia sering menyebabkan resistansi silang yang luas di dalam dan di antara kelas pestisida, sehingga menyebabkan resistensi terhadap pestisida yang baru dalam kurun waktu 2‒4 tahun. Banyak aspek biologi tungau merah yang menyebabkan terjadinya perubahan resistensi yang cepat terhadap pestisida, diantaranya perkembangan yang pesat, daya tetas tinggi, dan penentuan seks haplodiploid.

Pengendalian secara kimia, dilakukan melalui pemantauan terhadap populasi tungau merah dan pemilihan insektisida yang digunakan harus tepat, karena kesalahan pemilihan dan penggunaan insektisida dapat menyebabkan kematian pada musuh alami.

Penggunaan insektisida dalam spektrum luas sering menyebabkan predator tungau mati, dan berakibat pada munculnya wabah tungau, sehingga penggunaan pestisida perlu dihindari. Semprotan air, minyak, insektisida, atau sabun dapat digunakan untuk pengendalian tungau merah. Sebelum melakukan penyemprotan, pemantauan tingkat populasi tungau harus dilakukan.

Aplikasi insektisida untuk pengendalian tungau merah harus memperhatikan cara penyemprotan. Cakupan yang luas dari penyemprotan sangat penting ketika melakukan aplikasi miticides, bagian bawah daun harus menjadi target penyemprotan supaya terjadi kontak antara insektisida yang diaplikasikan dengan tungau sebanyak mungkin, karena sisi bawah daun merupakan tempat berkumpulnya tungau merah. Aplikasi insektisida dilakukan pada interval 5‒10 hari. Telur tungau yang belum menetas tidak terpengaruh oleh sebagian miticides. Hal yang sama kemungkinan juga terjadi pada larva dan nimfa yang mengalami pergantian kulit (molting). Selama molting, tungau tetap tidak aktif di bawah bekas kulit yang berfungsi sebagai penghalang terhadap insektisida. Pada fase ini tungau juga tidak makan, yang menyebabkan insektisida yang bersifat sistemik tidak berpengaruh. Apabila aplikasi hanya dilakukan sekali, maka tungau dapat bertahan hidup.

Pengendalian hama tungau merah dapat dilakukan dengan aplikasi akarisida seperti Challenger, Ortus, Vertimec dan Delmite, karena efek samping terhadap predator lebih rendah atau bahkan dapat diabaikan.

Pengendalian tungau merah pada intensitas serangan ringan hingga sedang dengan menggunakan dikofol 2 ml/l mampu menekan serangan sebesar 90,83% hingga 98,62%, sedangkan pengendalian pada intensitas serangan sedang hingga tinggi hanya mampu menekan tingkat serangan sebesar 18,40% hingga 62,48%. Pengendalian terhadap tungau merah berdampak pada peningkatan rata-rata hasil umbi dari 22,56 t/ha menjadi 26,96 t/ha.

 Titik Sundari