Info Teknologi » Keragaman dan Potensi Plasma Nutfah Bengkuang (Pachyrhizus erosus (L) Urban)

bengkuangBengkuang telah dibudidayakan secara meluas di Sumatera, Jawa, NTT, Sulawesi, Bali, dan Kalimantan. Bengkuang yang berpotensi dikembangkan sebagai tanaman pangan sumber karbohidat sekaligus protein nabati memiliki beberapa kelebihan, yaitu: (i) hasil ubi dan stabilitas hasil yang tinggi, (ii) kandungan protein yang lebih tinggi dari tanaman ubi-ubian lainnya, (iii) dapat meningkatkan kesuburan tanah (fiksasi N dan efisiensi P), dan (iv) memiliki daerah penyebaran ekogeografi yang luas. Menurut data BPS (2013), terdapat 119 ha luas panen bengkuang dengan produksi 3.101,10 ton.

Hasil analisis 100 g ubi segar menunjukkan bahwa bengkuang memiliki kandungan 2,1–10,7 g pati dan 1–2,2 g protein (Sørensen 1996). Berdasarkan hasil survey Karuniawan (2004) diperoleh bahwa jika asumsi rata-rata hasil ubi di Indonesia adalah 35 t/ha, dan kandungan pati dan protein mengacu pada data Sørensen (1996), maka potensi pati dan protein yang dihasilkan oleh bengkuang di Indonesia per hektarnya adalah 0,735–3,75 ton pati dan 0,35–0,77 ton protein. Kisaran angka estimasi yang besar tersebut mengindikasikan terdapatnya variasi genetik yang tinggi berpotensi ditingkatkan sebagai sumber pati dan sekaligus protein melalui seleksi dan persilangan diantara plasma nutfah.

Tabel 1. Zat gizi yang terkandung dalam bengkuang per 100 g bahan.
Zat gizi Kadar per 100 gram
Energi (kkal) 55
Protein (g) 1,4
Lemak (g) 0,2
Karbohidrat (g) 12,8
Kalsium (mg) 15
Fosfor (mg) 18
Besi (mg) 0,6
Vitamin c (mg) 20
Vitamin B1 (mg) 0,04
Vitamin A (IU) 21
Air (g) 85,1
Direktorat Depkes Gizi (1992).

Di Indonesia, bengkuang diambil umbinya dan dimanfaatkan sebagai bahan makanan, yaitu sebagai buah atau bagian dari beberapa jenis masakan seperti rujak, asinan atau dimakan segar. Selain itu, bengkuang juga diolah menjadi tepung, bahan baku obat dan pangan olahan lainnya. Umbi bengkuang digunakan sebagai agen pemutih (whitening agent) yang dapat memutihkan dan menghilangkan tanda hitam dan pigmentasi di kulit. Bengkuang mengandung vitamin C dan senyawa fenol yang dapat berfungsi sebagai sumber antioksidan bagi tubuh. Komposisi zat gizi bengkuang bisa dilihat pada Tabel 1.

Gambar 1. Pertanaman bengkuang di petani.

Gambar 1. Pertanaman bengkuang di petani.

Bengkuang memiliki variabilitas genetik yang cukup luas di Indonesia. Eksplorasi plasma nutfah bengkuang yang telah dilakukan pada daerah-daerah potensial sentra produksi bengkuang yang tersebar pada sembilan propinsi di Indonesia, yaitu Jawa Timur (Ponorogo, Malang, Jombang, Gresik, Kediri, Pasuruan, Probolinggo, Blitar, dan Sampang), Jawa Tengah (Kebumen, Rembang, dan Kendal), Jawa Barat (Bogor), Lampung (Lampung Selatan), Bengkulu (Kepahiang), Sumatera Selatan (Banyuasin), Sumatera Barat (Solok dan Padang), Sumatera Utara (Langkat), dan Gorontalo (Gorontalo) menghasilkan 113 aksesi yang memiliki variabilitas morfologi yang berbeda-beda. Eksplorasi plasma nutfah bengkuang dilakukan terhadap pertanaman bengkuang petani, pedagang, dan petani pemilik benih atau polong bengkuang.

Kegiatan karakterisasi mendasarkan pada 50 deskriptor yang terdiri dari 29 karakter kuantitatif dan 21 karakter kualitatif. Karakterisasi bertujuan untuk menghasilkan deskripsi tanaman penting yang nantinya dapat digunakan sebagai pedoman dalam pemberdayaan genetik pada program pemuliaan, atau dimanfaatkan langsung untuk kepentingan komersialisasi. Karakterisasi yang dilakukan terhadap karakter morfologi batang, daun, bunga, polong, biji, dan umbi menunjukkan adanya keragaman. Pigmen pada batang utama terdiri dari hijau dan ungu. Daun pada tanaman bengkuang memiliki tiga helai pada setiap tangkai daun utamanya, yaitu satu daun terminal dan dua daun lateral dengan sebagian besar memiliki tipe daun Cartago. Warna daun terdiri dari hijau sangat terang, hijau terang, hijau, dan hijau gelap. Warna kelopak bunga didominasi oleh warna ungu gelap, dengan bentuk kelopak bunga yang dominan adalah lanceolate. Warna mahkota bunga keseluruhan berwarna ungu, dan warna stylus adalah putih. Hasil karakterisasi morfologi biji plasma nutfah bengkuang menunjukkan bahwa warna biji didominasi oleh warna coklat muda. Bentuk biji bengkuang yang paling dominan adalah bulat, sedangkan karakter permukaan kulit biji keseluruhan memiliki permukaan yang halus.

Gambar 2. Bagian dari kearifan lokal (cara penyimpanan dan prosesing biji bengkuang).

Gambar 2. Bagian dari kearifan lokal (cara penyimpanan dan prosesing biji bengkuang).

Gambar 3. Hasil eksplorasi plasma nutfah bengkuang dalam bentuk polong.

Gambar 3. Hasil eksplorasi plasma nutfah bengkuang dalam bentuk polong.

Gambar 4. Keragaman biji plasma nutfah bengkuang hasil eksplorasi.

Gambar 4. Keragaman biji plasma nutfah bengkuang hasil eksplorasi.

Di Indonesia, nilai ekonomi bengkuang lebih ditentukan oleh karakter umbi, dan produksi biji yang sebagian besar untuk keperluan benih. Warna umbi bengkuang yang dominan adalah krem, sedangkan pada karakter bentuk umbi, bentuk yang paling banyak dijumpai adalah oval. Karakter berat umbi memiliki variasi nilai antara 0,10‒2,17 kg dengan rata-rata berat 0,35 kg.

Gambar 5. Keragaman umbi plasma nutfah bengkuang hasil karakterisasi.

Gambar 5. Keragaman umbi plasma nutfah bengkuang hasil karakterisasi.

Gambar 6. Katalog plasma nutfah bengkuang.

Gambar 6. Katalog plasma nutfah bengkuang.

Daftar Pustaka

Direktorat Depkes Gizi. 1992. Daftar Komposisi bahan Makanan. Jakarta: Bhratara Karya Aksara

Karuniawan, A. 2004. Cultivation status and genetic diversity of yam bean (Pachyrhizus erosus (L) Urban) in Indonesia. Cuvillier Verlaag Göttingen. Germany. P.p.90.

Sorensen, M., 1996. Yam Bean Pachyrhizus DC. International Plant Genetic Resources Institute, Rome, Italy.

 

Ayda Krisnawati