Liputan Media » [Sinar Tani] Tahun 2018 Tahun Kedelai

image-4

Setelah berhasil mempertahankan swasembada padi (beras), lalu menggapai kecukupan jagung pada tahun 2017, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian mulai menggarap kedelai. Karena itu tahun 2018, pemerintah menjadikan sebagai tahun kedelai.

Kedelai menjadi salah satu komoditas unggulan stra­tegis, setelah padi dan jagung. Apalagi kebutuhan industri pangan dalam negeri terhadap komoditas tersebut cukup tinggi. Saat ini rata-rata sebanyak 2,3 juta ton biji kering/tahun. Sementara, produksi dalam negeri rata-rata lima tahun terakhir sebesar 982,47 ribu ton biji kering atau 43% dari kebutuhan.

Dengan masih defisitnya pro­duksi terhadap kebutuhan menyebabkan sisanya harus impor. Impor kedelai selama ini banyak dipasok dari Amerika Serikat (AS). Namun kedelai produksi negeri Paman Sam itu berasal dari benih GMO atau hasil transgenik.
Karena itu kini pemerintah berupaya bisa memenuhi ke­bu­tuhan kedelai sendiri. Da­ta Kementerian Pertanian menye­butkan, perkembangan produksi kedelai memiliki tren yang cenderung meningkat. Terlihat dari rata-rata produksi kedelai pada periode 2011-2013 sebesar 824,81 ribu ton meningkat menjadi 934,58 ribu ton pada periode 2014-2016 atau naik sebesar 109,77 ribu ton (13,31%).
Rata-rata produktivitas kedelai juga naik. Pada periode 2011-2013 sebesar 14,23 kuintal (ku)/hektar (ha) meningkat menjadi 15,42 ku/ha pada periode 2014-2016 atau naik sebesar 12 ku/ha (4,43%). Begitu juga rata-rata luas panen kedelai. Jika pada periode 2011-2013 hanya sebesar 580.220 ha meningkat menjadi 605.920 ha pada periode 2014-2016 atau naik seluas 12.360 ha (8,34%).

Persipan Hulu-Hilir
Direktur Aneka Kacang dan Umbi, Ditjen Tanaman Pangan, Rita Mezu menjelaskan, peningkatan produksi kedelai nasional ini terjadi karena ada dukungan program dari pemerintah. Untuk pencapaian swasembada kedelai 2018, pihaknya telah melakukan persiapan dari hulu-on farm-hilir.
Dimulai dengan percepatan pelaksanaan kegiatan peningkatan produksi kedelai melalui APBN-P 2017 seluas 500 ribu ha. “Kegiatan ini selain untuk mendukung pencapaian target produksi juga mendukung ketersediaan benih kegiatan tahun 2018,” katanya.
Sekretaris Jenderal Ditjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Maman Suherman juga mengatakan, pada tahun 2017 pemerintah menargetkan penanaman kedelai seluas 500 ribu ha dengan anggaran dari APBN-P 2017 yang dipusatkan pada 20 provinsi. “Sekarang ini kita akan menggerakkan 500 ribu ha lahan baru untuk menggenjot produksi kedelai. Dari lahan itu kita menargetkan produksi paling tidak sebanyak 750 ribu ton,” katanya.
Lahan yang dipakai untuk program ini, menurut Maman, adalah lahan tidur seperti lahan bekas pertambangan, perkebunan tanam yang belum menghasilkan, lahan pasang surut dan lahan bekas tanaman sayuran ataupun tanaman jagung. “Kita akan memanfaatkan lahan-lahan kering di 20 provinsi. Di Pulau Jawa, gerakan pertanaman kedelai akan dilakukan di lahan perkebunan tebu dan Perhutani. Sedangkan di luar Pulau Jawa pada lahan perkebunan kelapa dan lahan bekas tambang,” tuturnya.
Maman berharap, dengan mendorong penanaman pada musim tanam ini, akan bisa panen pada periode Januari-Maret 2018 mendatang. Kalkulasinya, jika lahan pertanaman kedelai yang ada saat ini sekitar 1,5 juta ha (existing) lalu ditambah lahan baru 500 ribu ha, maka pada tahun 2018 akan ada lahan kedelai seluas 2 juta ha.
Dengan produktivitas tanaman kedelai sekitar 1,5 ton/ha, pada tahun depan paling tidak akan ada produksi sebanyak 3 juta ton. Jika kebutuhan dalam negeri hanya 2,8 juta ton, maka produksi akan berlebih. “Adanya gerakan ini, kita berharap pada tahun 2019, Indonesia sudah swasembada kedelai,” ujarnya

 

Sinar Tani Edisi 3-9 Januari 2018 No 3733 Tahun XLVIII

image-3 image-2 image