Info Teknologi » Kemunduran Mutu Fisiologis Benih Kedelai dan Upaya Penghambatannya

didikhPendahuluan

Benih kedelai termasuk kelompok benih ortodok. Benih pada kelompok ini dicirikan oleh ketahanannya terhadap dehidrasi (kehilangan air dari dalam benih). Mutu fisiologis benih kedelai (daya berkecambah dan vigor) telah lama diketahui cepat rusak/turun setelah panen, terlebih apabila penanganan pascapanen tidak dilakukan dengan baik dan benar. Hal tersebut akan dapat merugikan produsen/penangkar benih karena terkait dengan masa kadaluwarsa label (masa edar) benih bersertifikat.

Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 1316/HK.150/C/12/2016 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Pertanian Nomor 355/HK.130/C/05/2015 tertanggal 2 Desember 2016, masa edar benih kedelai bersertifikat menjadi lebih lama yakni diberikan paling lama 6 (enam) bulan setelah selesai pengujian (untuk pelabelan yang pertama). Selanjutnya, pelabelan ulang dapat dilakukan selama mutu benih masih memenuhi standar mutu yang berlaku, dengan masa edar maksimal setengah dari masa edar pada pelabelan pertama. Hal tersebut sangat terkait dengan upaya memperpanjang daya simpan benih kedelai. Peraturan baru tersebut tentu cukup melegakan produsen/penangkar benih karena status benih bersertifikat yang dimilikinya tidak terlalu cepat berubah status menjadi “non benih”, yang sesuai peraturan tidak boleh diperjualbelikan.

Relevan dengan hal di atas adalah pertanyaan tentang apa pemicu kemunduran mutu fisiologis benih (deteriorasi) dan bagaimana cara/strategi menghambat kemunduran mutu fisiologis tersebut.

Pemicu Deteriorasi Benih

Benih adalah benda hidup yang sangat bermanfaat digunakan sebagai bahan tanaman, yang berbeda dengan biji (sebagai bahan untuk dikonsumsi). Penelitian mengenai biokimia benih semakin banyak diminati oleh para peneliti, terutama oleh peneliti benih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa benih mengeluarkan senyawa folatil (senyawa yang bersifat mudah menguap) yang memegang peranan penting dalam proses deteriorasi benih. Senyawa folatil tersebut adalah metanol, etanol, dan asetaldehida. Senyawa penting lain yang berkaitan dengan reaksi biokimia deteriorasi benih adalah pectin dan air.

Reaksi yang melibatkan senyawa-senyawa folatil dalam proses deteriorasi benih adalah sebagai berikut: (1) Pectin + n H2O menjadi n metanol + pectat dengan katalisator enzim Pectin Methyl Esterase (PME). Bahan dasar pectin sudah tersedia di dalam benih sehingga reaksi tersebut akan berlangsung cepat mengarah ke kanan (terbentuknya metanol) manakala jumlah H2O (air) di dalam benih meningkat, bersama-sama dengan meningkatnya aktivitas enzim PME, (2) Dengan bantuan enzim Alcohol Dehidro-genase (ADH), metanol akan berubah menjadi acetaldehida atau etanol. Aktivitas ADH yang tinggi akan lebih mendorong terbentuknya acetaldehida daripada etanol. Dengan demikian, di dalam benih akan terjadi akumulasi senyawa acetaldehida yang bersifat sangat reaktif dengan protein. Acetaldehida yang telah berikatan kuat dengan protein di dalam benih disebut acetaldehyde-protein adduct (disingkat APA). Hasil penelitian telah membuktikan bahwa protein yang sudah terikat acetaldehyde akan sulit dimanfaatkan pada proses perkecambahan. Apabila hal ini terjadi, maka dikatakan mutu fisiologis benih telah turun, atau bahkan telah rusak.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa meningkatnya kadar air benih memicu aktivitas enzim PME dan senyawa-senyawa lain di dalam benih, sehingga menurunkan mutu fisiologis benih.

Upaya Menghambat Deteriorasi Benih Kedelai

Kadar air benih berperan sangat penting dalam memicu terjadinya deteriorasi benih sehingga menyebabkan turun/rusaknya mutu fisiologis benih dan sangat merugikan produsen/penangkar dalam beragribisnis benih kedelai. Supaya laju deteriorasi benih tidak terjadi secara cepat, maka upaya yang harus dilakukan adalah bagaimana cara yang harus dilakukan segera setelah panen agar kadar air benih dapat diturunkan sampai pada tingkat kadar air yang aman, yakni pada kondisi laju deteriorasi cukup rendah (aktivitas enzim PME sangat rendah). Hal penting lainnya yang perlu dipahami adalah bahwa benih kedelai tidak memiliki masa dormansi.

Saat panen optimal, tepatnya saat masak fisiologis benih tercapai (bobot kering benih maksimal), merupakan modal dasar bagi ketahanan hidup benih selama penyimpanan. Kadar air yang aman untuk tidak terjadinya deteriorasi benih secara cepat adalah antara 8–9%. Kadar air benih pada saat panen umumnya masih cukup tinggi (sekitar 25% atau bahkan lebih, tergantung cuaca saat panen). Benih kedelai dengan kondisi tersebut belum ideal/aman untuk dilakukan perontokan. Untuk itu brangkasan kedelai hasil panen harus segera dikeringkan hingga brangkasan siap dirontok (pada kadar air sekitar 17%).

Pengelolaan pascapanen benih kedelai, segera setelah panen.

Pengelolaan pascapanen benih kedelai, segera setelah panen.

Proses penanganan pascapanen yang biasa dilakukan dalam produksi/penangkaran benih kedelai adalah: pengeringan brangkasan, perontokan, pembersihan, sortasi benih, pengeringan benih, pengemasan (pengarungan), dan penyimpanan dalam gudang. Apabila calon benih yang ditangani cukup banyak sehingga perlu waktu sortasi yang cukup lama, maka yang akan terjadi adalah calon benih dengan kadar air cukup tinggi akan berada pada kondisi “penyimpanan” antara perontokan dan sortasi benih.

Pemeriksaan kadar air benih kedelai.

Pemeriksaan kadar air benih kedelai.

Hal demikian sangat memungkinkan terjadinya deteriorasi benih secara cepat selama periode perontokan dan sortasi sehingga pada saat pengemasan benih atau awal penyimpanan benih di gudang, mutu fisiologis benih kemungkinan sudah turun hingga 80% atau bahkan lebih rendah. Dengan demikian, waktu antara panen hingga benih siap disimpan di gudang merupakan hal yang harus diperhatikan untuk mendapatkan mutu fisiologis benih (minimal daya berkecambah) kedelai lebih dari 95%). Hal ini merupakan modal dasar bagi suksesnya pengelolaan benih kedelai agar benih tahan disimpan 6 (enam) bulan atau bahkan lebih dengan daya berkecambah 80% atau lebih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa benih kedelai dengan kadar air 9%, daya berkecambah pada awal penyimpanan >95% dan dikemas menggunakan plastik 0,05 mm dapat disimpan hingga 6 (enam) bulan dengan daya berkecambah >80%.

Berbagai varietas kedelai dengan karakteristik ukuran biji yang berbeda memiliki ketahanan simpan benih yang berbeda pula. Benih kedelai dari varietas dengan ukuran biji kecil lebih tahan disimpan (ketahanan simpan lebih lama) dibanding benih dari varietas dengan ukuran biji besar.

Bagan ilustrasi berikut sangat disarankan untuk penanganan pascapanen benih kedelai oleh produsen/penangkar sebagai kontribusi terhadap suksesnya usaha agribisnis penangkaran benih kedelai.

didikh3

Didik Harnowo