Info Teknologi » Budi Daya Kedelai Secara Tumpangsari dengan Jagung pada Lahan Kering Beriklim Kering Alfisol

Pendahuluan

Dua permasalahan utama dalam produksi kedelai di Indonesia adalah: (a) areal tanam/panen kedelai tidak luas (sekitar 600 ribu ha), dan (b) produktivitasnya rendah yakni 1,6 t/ha. Perluasan areal tanam/panen selain lahan optimal, kini dan ke depan akan lebih diarahkan pada suboptimal yang potensinya sangat besar. Lahan yang tergolong suboptimal, diantaranya adalah lahan kering beriklim kering.

Lahan kering beriklim kering adalah lahan kering yang total curah hujannya kurang dari 2.000 mm/tahun. Lahan ini umumnya tersebar pada wilayah yang bertipe iklim D dan E menurut klasifikasi iklim Oldeman, sehingga mempunyai bulan basah (curah hujan >200 mm/bulan) kurang dari tiga hingga empat bulan, dan memiliki bulan kering (curah hujan <100 mm/bulan) sebanyak empat bulan hingga lebih dari enam bulan dalam setahunnya.

Di Indonesia, lahan kering beriklim kering menduduki areal sangat luas, yakni sekitar 13,3 juta hektar, dan yang 7,8 juta hektar diantaranya potensial dapat digunakan untuk pertanian. Tanah yang umum dijumpai pada lahan kering beriklim kering di Indonesia selain Vertisol, Mollisol, dan Entisol, adalah Alfisol yang umumnya bereaksi netral hingga agak alkalis karena relatif kaya kation basa.

Pada lahan kering beriklim kering, tanaman yang banyak diusahakan petani adalah jagung, yang dimanfaatkan selain sebagai bahan pangan pokok, juga sebagai sumber pendapatan. Selain jagung, komoditas pangan yang juga relatif banyak ditanam adalah kacang tanah dan kacang hijau.

Meskipun demikian, dari segi tanah dan iklim, kedelai juga sangat berpeluang dikembangkan pada lahan kering beriklim kering, mengingat dari segi kesuburan tanah lahan kering di wilyah beriklim kering umumnya relatif subur, kedelai umur panennya relatif singkat (71-90 hari), dan kini juga telah tersedia varietas unggul kedelai yang toleran naungan (Dena 1) sehingga cocok untuk ditumpangsarikan dengan jagung.

Permasalahan Lahan Kering Alfisol

Pada wilayah lahan kering beriklim kering, jagung adalah komoditas tanaman pangan yang dominan diusahakan petani, digunakan sebagai bahan pangan pokok dan/atau sumber pendapatan. Karena kedudukan tanaman jagung sangat strategis, maka dalam mengembangkan kedelai pada wilayah lahan kering beriklim kering, kedelai harus dibudidayakan secara tumpangsari dengan jagung. Di wilayah ini, pengusahaan kedelai secara monokultur dipastikan akan sulit diterima petani sebab akan mengurangi areal dan produksi jagung.

Dalam budi daya kedelai secara tumpangsari dengan jagung, satu hal yang perlu diperhatikan, yakni varietas kedelai hendaknya memiliki satu atau lebih karakter sebagai berikut: (a) genjah (umur panen <80 hari), (b) toleran kekeringan, dan/atau (c) toleran naungan.

Kandungan bahan organik dalam tanah umumnya rendah. Ketersediaan hara makro N, P, K, dan S, umumnya beragam dari status sedang hingga rendah, oleh karena itu untuk menjamin pertumbuhan tanaman dan hasil panen yang memadai masih membutuhkan tambahan hara N, P, K, dan S dari pupuk, baik pupuk anorganik maupun organik.

Penggunaan pupuk organik pada lahan kering di wilayah beriklim kering merupakan hal yang strategis karena: (1) selain sebagai sumber hara, bahan organik juga dapat memperbaiki struktur tanah, kemampuan tanah untuk menyimpan dan menyediakan lengas, serta meningkatkan populasi dan aktifitas mikrobia dalam tanah yang sangat bermanfaat bagi penyediaan dan penyerapan hara oleh akar tanaman, (2) petani lahan kering iklim kering relatif kekurangan modal, sehingga pupuk kandang hasil samping ternak yang umumnya banyak dipelihara petani merupakan pupuk murah dan tersedia dekat dengan petani.

Rekomendasi Teknologi Budi Daya
Uraian Pelaksanaan
Sistem tanam Tumpangsari: “Jagung baris ganda + Kedelai”
Pilihan varietas  a) Jagung: (i) Hibrida atau Komposit yang berumur sekitar 90 – 100 hari, diantaranya Hibrida: Bima 19 URI, Bima 20 URI, NASA 29, Pioneer 21, Bisi 18, dan Pertiwi 6, serta (ii) Komposit: Lamuru, Gumarang, dan Anoman.

b) Kedelai: Dena 1 (varietas unggul toleran naungan, umur panen 78 hari, dan potensi hasil 2,89 t/ha pada budi daya monokultur).

Penyiapan lahan Olah sempurna, dibajak dan diratakan (dengan traktor atau tenaga ternak)
Perlakuan benih (daya tumbuh >80%) a) Jagung: Ridomil atau Saromil, untuk pengendalian penyakit bulai. Benih jagung yang diproduksi dan dipasarkan umumnya telah diperlakukan/diberi fungisida, yakni Ridomil atau Saromil. Bagi wilayah yang endemik penyakit bulai, benih yang dibeli dari pasaran dapat diperlakukan lagi dengan fungisida Acrobat 50 WP.

b) Kedelai: (i) untuk mengendalikan serangan lalat kacang, benih diperlakukan/diberi Marshall 25 ST (dosis sesuai dengan petunjuk dalam kemasannya), dan (ii) untuk pembentukan bintil akar, bagi lahan yang belum pernah/jarang ditanami kedelai, benih perlu diinokulasi dengan Rhizobium, diantaranya Rhizobium Agrisoy (dosis sesuai dengan petunjuk dalam kemasannya).

Jarak tanam  a) Jagung (baris ganda): (50 cm x 200 cm) x 40 cm, 2 tanaman per rumpun.

b) Kedelai: dalam lorong antara barisan tanaman jagung yang selebar 200 cm ditanam 4 baris tanaman kedelai, dengan jarak antar barisan kedelai 40 cm dan jarak antar rumpun/tanaman dalam barisan 15 cm, ditanam 2−3 benih per lubang tugal tanam.

Cara tanam a) Jagung: secara tugal (kedalaman lubang tugal 3−4 cm), ditanam 2 benih per lubang tugal, setelah tanam lubang tugal ditutup tanah.

b) Kedelai: secara tugal (kedalaman lubang tugal 2−3 cm, ditanam 2−3 benih per lubang tugal, setelah tanam lubang tugal ditutup tanah.

Pengendalian gulma Apabila sebelum tanah diolah gulmanya banyak, gulma disemprot dengan herbisida kontak-sistemik. Penyiangan I pada umur 15−20 hst, dengan herbisida (nozle pakai sungkup agar herbisida tidak mengenai tanaman) atau manual (cangkul, parang, tangan). Jika diperlukan, penyiangan II pada umur 30−35 hst (manual).
Pemupukan a) Jagung: dipupuk 85−100 kg Urea + 75−100 kg SP-36 + 30−50 kg KCl/ha. Pupuk diberikan dua kali secara ditugal di samping rumpun tanaman. Pemupukan pertama pada umur 10−15 hari setelah tanam (hst): 30% Urea + 100% SP-36 + 50% KCl, dan kedua pada umur 30−35 hst: 70% Urea + 50% KCl.

b) Kedelai: (i). Pupuk kandang 1.500 kg diberikan pada saat tanam, dihambur dalam barisan tanam/sebagai penutup benih dalam lubang tanam/tugal, dan (ii). Pupuk 30−50 kg Urea + 60−90 kg SP-36 + 30−50 kg KCl/ha. Pupuk (campuran Urea, SP-36, dan KCl) diaplikasikan 100% pada saat tanaman berumur 7−10 hst, ditabur pada permukaan tanah sekitar 5 cm di samping barisan tanaman, atau disebar merata pada permukaan tanah (jika tenaga kerja terbatas).

Pengairan Dari hujan

Pada lahan kering beriklim kering bertanah Alfisol di Probolinggo (Jawa Timur), dengan penerapan teknologi budi daya tersebut, pertanaman tumbuh cukup baik (Foto 1), dan diperoleh hasil biji kering jagung (varietas Pertiwi 6) dan biji kering kedelai (Dena 1) berturut-turut 4,00 t/ha dan 1,29 t/ha.

subandi

Keragaan pertumbuhan tanaman “Tumpangsari baris ganda jagung (varietas Pertiwi-6) dengan Kedelai (Dena 1)” pada lahan kering iklim kering bertanah Alfisol di Kabupaten Probolinggo (Jawa Timur), musim hujan tahun 2017.

Selain hasil panen dalam bentuk biji jagung dan kedelai, juga diperoleh hasil panen dalam bentuk biomas kering sebagai hasil samping tanaman kedelai (brangkasan) dan jagung (brangkasan + klobot + janggel) sebanyak berturut-turut 2,56 t/ha dan 7,16 t/ha, yang dapat digunakan sebagai pakan ternak, diantaranya sapi sebagai ternak besar yang banyak dipelihara oleh petani/masyarakat wilayah lahan kering beriklim kering.

Prof. Subandi