Info Teknologi » Sumber Baru Gen Ketahanan terhadap Penyakit Layu Bakteri Ralstonia

novita

Tanaman kacang tanah yang terserang penyakit layu bakteri Ralstonia Sumber : http://www.agronomers.com/2014/12/bercak-daun-cercospora-penyebaran.html

Layu bakteri Ralstonia merupakan kendala biotik penting pada produksi kacang tanah di Indonesia, dan menjadi prasyarat pelepasan varietas unggul kacang tanah di Indonesia. Kerugian yang ditimbulkan oleh penyakit ini adalah penurunan hasil sebagai akibat menurunnya jumlah tanaman dipanen, dan penurunan kualitas biji apabila tanaman mampu bertahan hidup hingga panen. Kehilangan hasil akibat penyakit layu bakteri berkisar antara 15−35% pada varietas tahan, dan mencapai 60−100% pada varietas rentan yang ditanam di lahan dengan infestasi tinggi. Lingkungan tropis seperti di Indonesia merupakan lingkungan yang sesuai untuk perkembangan bakteri layu ini.

Sebanyak 306 dari 554 aksesi koleksi plasma nutfah di Balitkabi merupakan plasma nutfah introduksi, diantaranya dari India, Nepal, Thailand, Filipina, dan India. Tujuan perbaikan varietas kacang tanah semakin berkembang, baik dalam peningkatan produktivitas maupun karakter lain. Galur-galur introduksi merupakan sumber gen perbaikan potensi hasil, ketahanan terhadap penyakit daun, Aspergillus flavus, kekeringan, dan kualitas biji yang merupakan tujuan program perbaikan kacang tanah di Indonesia. Mengingat status penting penyakit layu bakteri pada budidaya kacang tanah di Indonesia, pemanfaatan galur-galur introduksi dalam program perbaikan varietas di Indonesia perlu disertai informasi ketahanannya terhadap penyakit layu bakteri Ralstonia. Sebanyak 150 aksesi kacang tanah asal introduksi diuji ketahannya terhadap penyakit layu bakteri di Tayu-Pati, Jawa Tengah. Populasi bakteri R. solanacearum di lahan pengujian cukup tinggi, yaitu 2,6 × 106 cfu/g.

Kisaran intensitas layu antara 0−100%, pembanding rentan MLGA 0336 merupakan salah satu aksesi dengan intensitas layu 100%. Gejala serangan layu pertama terjadi pada umur 10 hari terdapat pada 108 aksesi. Tanaman layu karena bakteri Ralstonia terus terjadi hingga panen pada tanaman peka, sebaliknya gejala tersebut berhenti pada sekitar umur berbunga pada tanaman tahan. Pada kondisi demikian, sebagian besar aksesi (79 aksesi) bereaksi rentan, 24 aksesi agak rentan, 24 aksesi agak tahan, dan 23 aksesi bereaksi tahan. Aksesi yang tergolong tahan mempunyai intensitas layu berkisar antara 0−14,8%. Ketahanan aksesi-aksesi tersebut lebih tinggi dibandingkan Varietas Gajah sebagai pembanding tahan (MLGA 001) dengan intensitas layu 16%.

Gajah adalah varietas unggul kacang tanah yang dilepas tahun 1950 dan masih ditanam petani karena ketahanannya yang tinggi terhadap penyakit layu bakteri. Ketahanan tertinggi terdapat pada varietas Turangga (MLGA 0292) dengan intensitas layu 0%. Varietas Turangga merupakan salah satu varietas unggul yang telah diidentifikasi genetika ketahanannya, yaitu diatur oleh gen-gen yang terdapat di dalam inti sel dan dikendalikan secara digenik yang berinteraksi epistatik duplikat resesif. Turangga mempunyai ketahanan tinggi dan efek daya gabung umum tinggi sehingga pengembangan kombinasi persilangan yang melibatkan varietas tersebut berpeluang besar menghasilkan progeni dengan ketahanan yang tinggi terhadap penyakit layu bakteri. Selain tahan layu, Varietas Turangga juga tahan penyakit karat dan bercak daun.

Hasil ini sangat penting untuk kemajuan perbaikan karakter varietas unggul kacang tanah di Indonesia. Pada umumnya varietas introduksi mempunyai karakter ketahanan terhadap penyakit daun, produktivitas tinggi dan karakteristik biji bagus, tetapi rentan terhadap penyakit layu bakteri. Penyakit daun merupakan penyakit yang sangat penting dalam budidaya kacang tanah, baik di Indonesia maupun di areal produksi kacang tanah di India, China, dan negara-negara Asia lainnya. Keunggulan varietas introduksi tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan ketahanan varietas lokal Indonesia yang semuanya rentan terhadap penyakit daun tersebut.

Pemanfaatan aksesi tahan yang diperoleh pada pengujian ini akan memperluas dasar genetik karakter ketahanan terhadap penyakit layu bakteri pada kacang tanah di Indonesia. Dasar genetik ketahanan terhadap penyakit layu bakteri pada kacang tanah di Indonesia masih sangat terbatas. Selama kurun waktu 1950−2014, pemerintah Indonesia telah melepas 42 varietas unggul kacang tanah, 29 diantaranya dideskripsikan sebagai tahan penyakit layu bakteri. Dari 29 varietas unggul tahan layu bakteri tersebut, 23 varietas diantaranya mendapatkan sumber ketahanan dari Schwarz 21, baik secara langsung maupun tidak langsung. Schwarz 21 adalah varietas unggul kacang tanah tahan layu pertama yang dilepas di Indonesia pada era pemerintahan Belanda yaitu pada tahun 1925. Pengujian ketahanan terhadap penyakit layu bakteri Ralstonia ini merupakan upaya peningkatan keragaman sumber ketahanan terhadap penyakit tersebut.

Aksesi tahan pada pengujian ini mempunyai tinggi tanaman antara 42-64 cm, jumlah cabang per tanaman 3−5, jumlah polong isi 13−37 polong per tanaman, hasil polong kering setara 2,9−4,5 t/ha. Varietas unggul kacang tanah di Indonesia pada umumnya berukuran biji kecil hingga sedang, demikian juga dengan varietas lokal koleksi plasma nutfah. Sehingga aksesi introduksi tahan yang didapatkan pada pengujian ini juga berpotensi meningkatkan produktivitas varietas unggul baru.

Novita Nugrahaeni