Info Teknologi » Mematahkan Dormansi pada Kacang Tanah

Sumber: http://www.herbavita.eu/sites/default/files/seed.png.

Sumber: http://www.herbavita.eu/sites/default/files/seed.png.

Dormansi benih adalah suatu kondisi di mana benih hidup tidak berkecambah sampai batas waktu akhir pengamatan perkecambahan walaupun faktor lingkungan optimum untuk perkecambahannya (Widajati et al. 2013). Ada beberapa tipe dormansi, namun secara umum dormansi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu dormansi primer dan dormansi sekunder. Dormansi merupakan proses biologi yang alamiah, namun dapat menjadi masalah karena menyebabkan pertumbuhan benih yang tidak seragam sehingga berpotensi menurunkan hasil. Selain itu, dormansi juga dapat mengacaukan interpretasi dalam pengujian benih di laboratorium.

Adanya dormansi pada kacang tanah telah dilaporkan oleh John et al. (1948). Hasil kajian Wang et al. (2012) yang menggunakan 103 aksesi plasma nutfah kacang tanah di Amerika melaporkan bahwa empat varietas botani (hypogaea, vulgaris, peruviana, dan fastigiata) mengalami dormansi yang berbeda-beda, walaupun tergolong pada spesies yang sama. Varietas botani hypogeae tergolong lebih dorman dibandingkan tiga varietas botani lainnya.

Bagaimana dengan varietas yang ada di Indonesia? Kajian mengenai dormansi pada varietas kacang tanah yang dirilis di atas tahun 2004 masih sangat terbatas. Cahyono (2001) melaporkan bahwa perlakuan after-ripening (penyimpanan benih setelah panen) selama 6 minggu belum dapat mematahkan dormansi benih kacang tanah varietas Gajah, Kidang, Pelanduk, Zebra, Macan, dan Panter. Nurussintani et al. (2013) melaporkan bahwa varietas lokal Tuban masih mengalami dormansi saat after-ripening 2 minggu. Hasil penelitian Hapsari dan Rejeki (dalam proses publikasi) menunjukkan bahwa varietas Hypoma 2 masih mengalami dormansi saat after-ripening 12 minggu.

International Seed Testing Association (ISTA) yang merupakan asosiasi perbenihan independen untuk laboratorium penguji benih, merekomendasikan pematahan dormansi kacang tanah melalui pemanasan dengan suhu 40˚C selama 7 hari atau dapat diperpanjang jika benih terindikasi masih mengalami dormansi. Cara yang direkomendasikan ISTA dirasakan cukup lama, ada cara lain yang dapat digunakan untuk mematahkan dormansi pada kacang tanah, diantaranya adalah dengan perlakuan KNO3 0,2% (Cahyono 2001, Nurussintani et al. 2013). Hasil penelitian Hapsari dan Rejeki (dalam proses publikasi), perlakuan perendaman dengan air saja atau pemanasan di oven pada suhu 40˚C selama 5 dan 7 hari dapat meningkatkan kecepatan tumbuh dan indeks vigor benih pada benih kacang tanah yang terindikasi mengalami dormansi.

Secara genetik, dilaporkan bahwa dormansi pada kacang tanah dikontrol oleh gen monogenik, dimana benih yang dorman lebih dominan daripada benih yang tidak dorman dan tidak terdapat efek maternal (Upadhayaya dan Nigam 1999, Asibuo et al. 2008). Peneliti lain melaporkan bahwa selain faktor genetik, kondisi lingkungan (tempat penyimpanan benih) dan lingkungan di mana induk tanaman itu ditanam juga merupakan faktor yang mempengaruhi dormansi benih (Faye et al. 2009).

 

Daftar Pustaka

Asibuo JY, Akromah R, Osei SK, Hans Kofi AD, Seth OD, Adelaide A. 2008. Inheritance of fresh seed dormancy in groundnut. Afric. J. of Biotech 7 (4): 421-424.

Cahyono. 2001. Pengaruh perlakuan pematahan dormansi terhadap viabilitas benih beberapa varietas kacang tanah. Skripsi. Jurusan budidaya pertanian, Fakultas Pertanian, IPB, Bogor.

Faye I, Ndoye O, Diop TA. 2009. Evaluation of fresh seed dormancy on seven peanut (Arachis hypogaea L.) lines derived from crosses between Spanish varieties: variability on intensity and duration. J.Appl. Sci. Res. 5:853-857

John CM, Seshradi RM, Bhanvanishankar. 1948. Dormancy in groundnut. Madars Agric 25: 1-9

Nurussintani W, Damanhuri, Purnamaningsih S. 2013. Perlakuan pematahan dormansi terhadap daya tumbuh benih 3 varietas kacang tanah (Arachis hypogaea L.). J. Produksi Tanaman 1(1): 86-93.

Upadhayaya HD, Nigam S, 1999. Inheritance of fresh seed dormancy in peanut. Crop Sci 39: 98-101

Wang ML, Chen CY, Pinnow,DL Barkley NA, Pittman RN, Lamb M, Pederson GA. 2012. Seed dormancy variability in the US peanut mini-core collection. Res. J. of Seed Sci 5 (3): 84-95.

Widajati E, Murniati E, Palupi ER, Kartika T, Suhartanto MR, Qadir A. 2013. Dasar Ilmu dan Teknologi Benih. Bogor:IPB Press. 173p

 

Ratri Tri Hapsari