Info Teknologi » Peran Bahan Organik pada Lahan Kering Masam untuk Produksi Kedelai dan Ubi Kayu

yana2

Usaha peningkatan produksi kedelai dan ubi kayu untuk mencapai swasembada pangan dapat ditempuh dengan ekstensifikasi ke lahan suboptimal, salah satunya adalah lahan kering masam. Tanah pada lahan kering masam umumnya didominasi kaolinit serta oksida dan hidroksida Fe dan Al, liat beraktivitas rendah, sehingga Kapasitas Tukar Kation (KTK) rendah dan daya menyimpan lengas tanah juga rendah (Uehara dan Gillman 1981). Populasi mikroba pada lahan kering masam juga umumnya rendah, berkisar antara 57 x 103 – 29 x 104 cfu/g tanah (Prihastuti et al. 2006). Pemberian ameliorasi bahan organik merupakan upaya untuk membenahi kesuburan tanah pada lahan kering masam. Sumber bahan organik dapat diperoleh dari limbah pertanian dan non pertanian, diantaranya berupa: kompos dan pupuk kandang. Bahan organik memegang peranan penting dalam meningkatkan dan mempertahankan kesuburan kimia, fisika dan fisiko-kimia, maupun biologi tanah, yang akan menentukan tingkat produktifitas tanaman dan keberlanjutan penggunaan lahan untuk pertanian (Ding et al. 2002).

  1. Pengaruh Bahan Organik terhadap Tanaman Kedelai

Kompos meningkatkan aktivitas nitrogenase pada akar kedelai, yang berakibat asam organik mengkelat Al dalam jumlah tinggi (2,8 µmol/jam/bintil/tanaman) sehingga dapat mengurangi racun Al, dan kebutuhan tanaman akan unsur nitrogen tercukupi (Triadiati dkk. 2013). Pemberian kompos pada tanaman kedelai dapat meningkatkan tinggi tanaman, jumlah bunga, jumlah polong, jumlah bintil akar, bobot kering brangkasan, bobot kering akar, kandungan protein dan lemak. Pada tanaman di polibag, kedelai di tanah masam yang dipupuk kompos jerami padi (10 g) + pupuk kandang sapi (33 g) per polibag tumbuh normal dengan tinggi tanaman 181 cm, jumlah bunga 42 kuntum, jumlah polong 35 buah, bobot basah tanaman 31 g dan bobot kering tanaman 9 g. Kandungan fosfor pada kompos blotong dilaporkan dapat meningkatkan kandungan lemak dan protein pada biji kedelai (Hanum 2013).

Aplikasi pupuk organik di lapangan sering dibutuhkan dalam jumlah tinggi yaitu 20 t/ha (Refliaty et al. 2011). Kombinasi pupuk anorganik dan organik lebih efisien dapat meningkatkan hasil kedelai, dibanding hanya dipupuk anorganik saja. Pemupukan 50% dari (22,5 kg N + 67,5 kg P2O5 + 30 kg K2O) dikombinasi dengan bahan organik meningkatkan jumlah biji per tanaman sebesar 58% dan hasil 54%. Pupuk organik dilaporkan meningkatkan jumlah biji per tanaman 59% dan hasil biji 58% dibanding perlakuan pemupukan anorganik dengan dosis 22,5 kg N + 67,5 kg P2O5 + 30 kg K2O (Indrayani dan Umar 2011). Bahan organik dikombinasikan dengan dolomit, nyata meningkatkan hasil kedelai hingga 76% (Sudaryono dkk. 2011). Titik optimum sinergisme positif dolomit dan pupuk kandang dicapai pada takaran 300 kg/ha dolomit dan 500 kg/ha pupuk kandang. Kombinasi pemberian dolomit di atas 300 kg/ha dengan pupuk kandang di atas 500 kg/ha tidak meningkatkan hasil kedelai di lahan kering masam Ultisol. Pemberian pupuk anorganik P secara tunggal justru tidak memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai (Sudaryono dkk 2011, Hanum 2013).

2. Pengaruh Bahan Organik Terhadap Tanaman Ubi Kayu

yana1

Perbaikan sifat fisik tanah berpengaruh nyata terhadap perakaran tanaman ubi kayu, dengan korelasi antara total panjang akar dan berat isi tanah (r= -0,7) dan berakibat meningkatkan hasil ubi kayu, dengan korelasi antara total panjang akar dan berat umbi segar (r = 0,7). Pupuk anorganik hanya mampu meningkatkan porositas tanah 0,95 % sedangkan kompos 10 t/ha dapat menurunkan berat isi tanah hingga 9,3% dan meningkatkan porositas tanah hingga 9,4% dibandingkan tanpa dipupuk. Perbaikan sifat fisik tanah terus meningkat pada tahun kedua (Prasetyo dkk. 2014).

Pemberian pupuk kandang meningkatkan kandungan hara P dan Mg pada batang ubi kayu umur empat bulan. Pemberian pupuk kandang sapi 10 ton/ha meningkatkan kandungan hara P mencapai 1,8% lebih tinggi dibandingkan pemberian pupuk anorganik NPK 400 kg/ha (1,5% P) atau tanpa pupuk (1,3% P). Pemberian pupuk kandang ayam 10 t/ha meningkatkan kandungan hara Mg sebesar 0,55% pada batang ubi kayu, lebih besar dibanding pemberian pupuk anorganik NPK 400 kg/ha (0,52% Mg) dan tanpa pemupukan (0,45% Mg) (Odedina et al. 2012).

Penambahan bahan organik dikombinasikan pupuk anorganik, memberikan hasil umbi lebih tinggi dibanding hanya menggunakan bahan organik atau pupuk anorganik saja (Ayoola and Makinde (2007), Prasetyo dkk. (2014)). Tumewu dkk. (2015) melaporkan bahwa pemupukan 20 t/ha bokashi kotoran sapi memberikan hasil umbi (4,4 kg/tanaman) tidak berbeda nyata dengan pemupukan 250 kg NPK/ha + 150 kg urea/ha. Kombinasi pupuk (Urea 300 kg/ha + pupuk kandang 5 t/ha) menghasilkan panjang dan berat kering akar 214,58 % lebih baik dibanding tanpa pupuk, berakibat berat umbi segar yang dihasilkan meningkat 265,3% lebih tinggi dibandingkan tanpa pupuk (Prasetyo dkk. 2014). Pemberian pupuk organik kotoran unggas+kompos sampah kota (1:1) sebanyak 5 t/ha pada tanaman ubi kayu yang ditumpangsarikan dengan jagung di Nigeria memberikan hasil yang tidak berbeda dengan hasil pemupukan 400 kg/ha NPK, tetapi berbeda nyata dengan hasil perlakuan tanpa pupuk. Pada tahun pertama, perlakuan pemberian pupuk organik menghasilkan 10,01 t/ha dan pada tahun kedua menghasilkan 11,48 t/ha. Pemberian pupuk anorganik menghasilkan 10,34 t/ha pada tahun pertama dan 12,43 t/ha pada tahun kedua. Kombinasi antara keduanya menghasilkan 8,83 t/ha pada tahun pertama dan 12,40 t/ha pada tahun kedua. Perlakuan kontrol hanya menghasilkan 6,26 t/ha pada tahun pertama dan 7,90 t/ha pada tahun kedua (Ayoola and Makinde 2007). Meningkatnya hasil ubi kayu pada tahun kedua dikarenakan waktu yang diperlukan dekomposisi bahan organik yang cenderung lama dan hal ini cocok untuk pertanaman ubi kayu yang umurnya lebih lama (9−12 bulan).

Pemberian kotoran unggas 6,3 t/ha meningkatkan hasil ubi kayu lebih tinggi dibanding pemberian pupuk anorganik 120 N + 80 P + 50 K kg/ha pada pertanaman tumpang sari ubikayu varietas Oko Iyawo dengan merica, mencapai hasil umbi 25 t/ha dan 24,3 t/ha pada tahun pertama dan kedua. Pemupukan anorganik 120 N + 80 P + 50 K kg/ha menghasilkan umbi berturut-turut 21,7 t/ha dan 20,3 t/ha pada tahun pertama dan kedua. Sedangkan kombinasi antara pupuk anorganik 60 N + 40 P + 25 K kg/ha (separuh dosis) dengan kotoran unggas 3,15 t/ha (separuh dosis) memberikan hasil panen 22,9 ton/ha umbi pada tahun pertama dan 21,2 ton/ha tahun kedua (Adeola et al. 2011).

Siti Muzaiyanah