Liputan Media » [murianews.com] Blora Jadi Percontohan Pengembangan Kedelai di Bawah Pohon Jati, Ini Sebabnya

kedelai-e

Wakil Bupati Blora Arief Rohman bersama sejumlah pejabat dari Kementerian Pertanian melangsungkan panen perdana kedelai yang ditanam di bawah naungan pohon jati. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, BloraUji coba pengembangan kedelai dibawan naungan pohon jati di wilayah Blora dinilai berhasil. Setelah dipanen, hasil yang didapat tidak kalah dengan penanaman kedelai di areal sawah.

”Alhamdulillah pengembangan di Blora ini hasilnya bagus. Meskipun ditanam di bawah tegakan jati, terbukti masih bisa menghasilkan kedelai sebanyak 2 ton per hektar dengan kualitas unggul. Kabupaten Blora akan dijadikan lokasi percontohan untuk budidaya kedelai di bawah naungan jati (Budena Jati),” kata Kepala Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) Joko Susilo Utomo saat penen kedelai yang ditanam di bawah pohon jati.

Panen perdana juga dihadiri Wakil Bupati Blora Arief Rohman, Kepala Puslitbang Tanaman Pangan dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Agus Wahyana Anggara, Administratur Perhutani KPH Blora Rukman Supriyatna, Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Blora Supoyo, Kabag Humas dan Protokol hariyanto, serta jajaran Forkopimcam Japah.

Penanaman kedelai ada kawasan hutan jati Perhutani KPH Blora seluas 41,4 hektar. Lokasinya ditempatkan di petak 53, 54,55 dan 57, RPH Gendongan, BKPH Ngapus yang secara administratif masuk di wilayah Desa Bogem dan Desa Tlogowungu, Kecamatan Japah.

Hutan jati yang biasanya ditanam jagung pada sela tegakan dicoba untuk ditanami kedelai pada awal bulan Februari lalu. Ada empat varietas kedelai unggul yang ditanam. Yakni Dena-1 seluas 4,75 hektar, Dega-1 2 hektar, Anjasmoro 15,2 hektar dan Argomulyo 19,45 hektar.

Joko menerangkan, pengembangan teknologi Budena Jati di hutan BKPH Ngapus ini merupakan tahapan awal yang nantinya akan dijadikan percontohan untuk perluasan di lahan hutan jati lainnya. Menurutnya, hingga saat ini Indonesia masih banyak impor kedelai karena produksinya masih rendah. Sehingga untuk mengembangkan tanaman kedelai ini kita butuh lahan baru.

”Tidak mungkin berebut dengan lahan sawah yang rutin ditanami padi dan jagung. Sehingga kami dari Balitkabi mencoba teknologi pengembangan Budena Jati yang menyasar lahan hutan, khususnya di sela tegakan jati seperti yang kita lakukan di Blora ini,” ujarnya.

Teknologi, benih, dan pendampingan dilakukan Balitkabi. Lahannya dari Perhutani dan dilaksanakan oleh petani yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).

”Hasil panen ini akan dipakai untuk penanaman di lahan baru kembali guna mendukung program swasembada kedelai 2020 melalui penyediaan benih berkualitas. Untuk tahun 2019 akan dilakukan perluasan areal tanam sebesar 2 juta hektar se Indonesia,” sambungnya.

Editor: Supriyadi

 

Sumber