Berita » KEPAS semakin Mantap Menjejakkan Langkahnya

Panen bersama kedelai Kepas di Jambi.

Panen bersama kedelai Kepas di Jambi.

Pengembangan kedelai di lahan sub-optimal merupakan alternatif yang cukup jitu untuk menjamin ketersediaan benih kedelai. Lahan tersebut masih tersedia cukup luas, salah satu lahan yang dapat digunakan sebagai ruang tanam kedelai yaitu lahan pasang surut. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia melalui Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) melakukan terobosan dengan melaksanakan pengembangan kedelai pada lahan pasang surut, dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) Jambi dijadikan lokasi percontohan. Lahan yang hanya dapat dua kali dalam setahun pola tanam padi – kedelai sebelumnya pernah digunakan untuk penelitian budi daya kedelai pasang surut (2017), saat ini digunakan lagi untuk pengembangan dan penyediaan benih kedelai.

Rintisan perakitan teknologi budi daya kedelai pada lahan pasang surut melalui pendekatan Pengelolaan Tanaman dan Sumber Daya Terpadu (PTT) telah dilaksanakan mulai tahun 2007 hingga 2009 di Kab. Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) dalam bentuk Gelar Teknologi (Geltek) dengan skala luasan 3−10 ha. Varietas yang digunakan adalah Anjasmoro dengan kisaran hasil 2,11 t/ha hingga 2,77 t/ha. Melalui teknologi KEPAS ini, produktivitas kedelai meningkat 26% hingga 95% dibanding teknologi yang dikembangkan petani. Secara ekonomi, teknologi KEPAS sangat layak diusahakan dengan nisbah B/C sebesar 1,68 hingga 3,76.

Tahun 2017, langkah KEPAS semakin lebar. Pengembangan teknologi KEPAS diperluas pada lahan sawah pasang surut tipe C di Desa Simpang, Kec. Berbak, Kab. Tanjabtim seluas 52,5 ha, melibatkan 35 petani kooperator dari tiga Kelompok Tani (Ojo Lali, Sido Makmur, dan Jati Mulyo). Tujuan kegiatan adalah mengembangkan teknologi budi daya KEPAS (KEPAS-1, KEPAS-2, dan Superimposed) dengan produktivitas 2,5−3,0 t/ha, serta mengevaluasi kelayakan teknis dan sosial ekonominya.

Tahun ini, kehebatan KEPAS digelar di dua provinsi yaitu di Jambi (Ds. Simpang, Kec. Berbak, Kab. Tanjabtim) seluas 40 ha (22 petani kooperator), dan di Kalimantan Selatan (di 6 desa di Kec. Wanaraya, Kab. Barito Kuala) seluas 42 ha (99 petani kooperator).

Budi daya kedelai pasang surut di Tanjabtim seluas 40 ha dengan menggunakan dua varietas unggul, yaitu Varietas Anjasmoro dan Dega 1. Varietas Anjasmoro sudah dikenal karena mempunyai adaptasi yang luas dan sudah tersebar di seluruh provinsi Indonesia, sedangkan Varietas Dega 1 merupakan varietas baru Balitbangtan yang mempunyai keunggulan umur genjah (umur panen 71 hari), selain itu karakteristik yang menonjol dari Dega 1 adalah biji besar (22,98 g/100 biji) dengan potensi hasil 3,8 t/ha. Kedelai yang di tanam pada Mei 2018 kini sudah memasuki panen, akhirnya pada Kamis (2/8/2018) mulai dilakukan panen bersama secara simbolis dilakukan oleh Bupati Tanjabtim H. Romi Hariyanto, Kepala Balitkabi (diwakili Prof. Didik Harnowo), Kapolres, Dandim, Anggota Dewan, dan Kepala Diperta Kabupaten Tanjabtim.

 

Keragaan kedelai Varietas Anjasmoro dan Dega 1 di lahan pasang surut Jambi dengan teknologi KEPAS.

Keragaan kedelai Varietas Anjasmoro dan Dega 1 di lahan pasang surut Jambi
dengan teknologi KEPAS.

Kepala Balitkabi dalam sambutannya menyampaikan bahwa saat ini ada peningkatan produktivitas kedelai khususnya di Kelurahan Simpang, Kab. Tanjabtim dari 1,5 t/ha menjadi 2,4 t/ha. “Sungguh capaian yang luar biasa,” kata Didik. Balitkabi mempunyai tugas menghasilkan kedelai yang semakin baik, dengan lahirnya varietas-varietas baru akan memberi harapan baru bagi petani. “Apa yang kita saksikan saat ini dapat direplikasi di tempat lain” ujar Didik lebih lanjut.

Sambutan Kepala Balitkabi (kiri) dan peserta temu lapang (kanan).

Sambutan Kepala Balitkabi (kiri) dan peserta temu lapang (kanan).

Sementara itu, Kadis TPH Tanjabtim melaporkan bahwa Varietas Anjasmoro sangat disukai petani, demikian juga dengan Dega 1. Dilaporkan juga bahwa ketersediaan benih kurang pada bulan April. Padahal kebutuhan benih di Kelurahan Simpang sebesar 24−32 ton. Diharapkan para petugas agar lebih proaktif dalam pengambilan sampel yang diuji. Masyarakat Kec. Berbak menanti arahan dari Bupati sebagai penyemangat bagi petani.

Bupati Romi mengaku senang dan berterimakasih kepada Balitkabi serta Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian, yang telah memilih Tanjabtim sebagai lokasi penanaman kedelai melalui teknologi KEPAS, yang hasilnya saat ini dapat dinikmati oleh petani. “Tolong kami dibantu, kalau bisa jangan hanya di Kecamatan Berbak,” ujar Bupati.

Di sela sela acara tersebut juga dilakukan peresmian gudang simpan alat dan mesin pertanian.

BSK/KN