Berita » 240 Petani Banjarnegara Inginkan Nilai Tambah Ubi Kayu

Ir Erliana Ginting, M.Sc., peneliti pascapanen Balitkabi, sedang menjelaskan cara meningkatkan nilai tambah ubi kayu dan ubi jalarBalitkabi menjadi langganan para tamu untuk berkunjung. Tetamu Balitkabi beragam latar belakangnya: ada siswa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak Kanak, SD, SMP, hingga siswa SMK; juga para Mahasiswa, Kelompok Tani, Petugas Pertanian dan Perusahaan Swasta. Namun Selasa, 1 Maret 2011 ini, tamu yang datang tak seperti biasanya. Istimewa dan luar biasa banyak. Aula Serbaguna Balitkabi sungguh terasa sempit saja. Siapa mereka?  

Sebanyak 240 tamu terdiri dari Kontak Tani, Bapak Petani, para Ibu Tani, dan Pemuda Tani serta Kelompok Penyuluh Pertanian dan staf Kecamatan Mandiraja, serta staf Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah belajar sehari tentang budidaya ubi kayu, dan pengolahan umbi-umbian dan kacang-kacangan di Balitkabi. Mereka diterima langsung oleh Kepala Balitkabi, Dr. M. Muchlish Adie, pemulia ubi kayu Dr. Sholikin, peneliti pascapanen, Ir. Erliana Ginting, M.Sc., dan Dr. A. Rahmianna, dibantu staf Jasa Penelitian.

  Mulai Produksi hingga Pengolahan Ubi Kayu Pada kesempatan pertama, Noto Rahardjo, S.P., Penyuluh Pertanian yang mendampingi para petani, menyampaikan bahwa yang diinginkan petani dari Balitkbi, tidak hanya untuk meningkatkan produksi ubi kayu namun juga sekaligus agar hasil ubi kayu mendatangkan nilai tambah. “Karena ubi kayu merupakan salah satu komoditas yang banyak ditanam petani di Mandiraja” tambahnya. Dalam kaitan dengan itu, Kepala Balitkabi menjelaskan tentang Tugas Pokok dan Fungsi Balitkabi beserta hasil-hasil penelitian yang telah dicapai. Dr Muchlish Adie menyatakan bahwa hasil-hasil penelitian ini bukan untuk peneliti Balitkabi, namun untuk dikembangkan oleh para petani. “Oleh karena itu, Balitkabi mendorong para Bapak dan Ibu untuk mengembangkan varietas-varietas unggul dan teknologi pangan yang telah dihasilkan oleh Balitkabi di Banjarnegara” tutur beliau. Selanjutnya Dr. Sholikin, menegaskan bahwa banyaknya varietas ubi kayu yang dihasilkan oleh para pemulia adalah untuk dipilih mana yang cocok untuk suatu daerah. Setiap daerah memiliki spesifikasi tertentu. “Silakan pilih yang cocok untuk Banjarnegara”, urai Dr Sholikin di tengah penjelasan tentang budidaya ubi kayu. Sementara itu, peningkatan nilai tambah umbi-umbian dapat ditempuh dengan memrosesnya menjadi produk setengah jadi seperti tepung, atau produk pangan olahan, tutur Ir Erliana Ginting M.Sc. “Dengan teknologi yang sederhana, murah, dan bahannya dapat diperoleh di daerah, ubi jalar dan ubi kayu dapat diolah menjadi kue basah, kue kering, rerotian, bahkan untuk kue mahal seperti “Black Forest”. “Resepnya nanti akan kami berikan kepada Bapak dan Ibu” kata Bu Erli. Pengolahan ini akan meningkatkan nilai tambah umbi-umbian untuk masyarakat tani atau industri kecil dan rumah tangga di Banjarnegara. Di samping penjelasan di Aula, para tamu juga meninjau lapang, melihat proses penanaman di Kebun Percobaan Kendalpayak. Di sini para petani mendapat penjelasan dari Ir Margono Rahmad, M.S., kepala kebun Kendalpayak.

Ir Erliana Ginting, M.Sc., peneliti pascapanen Balitkabi, sedang menjelaskan cara meningkatkan nilai tambah ubi kayu dan ubi jalar

Ir Erliana Ginting, M.Sc., peneliti pascapanen Balitkabi, sedang menjelaskan cara meningkatkan nilai tambah ubi kayu dan ubi jalar

Kunjungan 240 tamu dari petani Banjarnegara memenuhi Aula Balitkabi

Kunjungan 240 tamu dari petani Banjarnegara memenuhi Aula Balitkabi

Pendamping rombongan petani dari Banjarnegara, Noto Rahardjo, S.P. (kiri), menyampaikan keinginan petani dari kunjungannnya didampingi Dr Muchlish Adie, dan Dr A Rahmianna

Pendamping rombongan petani dari Banjarnegara, Noto Rahardjo, S.P. (kiri), menyampaikan keinginan petani dari kunjungannnya didampingi Dr Muchlish Adie, dan Dr A Rahmianna

Dilaporkan oleh: Achmad Winarto.