Berita » 6th SAFE 2018: Peluang Asia sebagai Dapur Pangan Dunia

Penulis menyampaikan makalah pada sesi paralel sustainable agriculture/environment.

Penulis menyampaikan makalah pada sesi paralel sustainable agriculture/environment.

Pada tanggal 19–20 Oktober 2018, Konferensi International Sustainable Agriculture, Food and Renewable Energy (6th SAFE 2018) dengan tema “Inclusive Agri-food Energy Produce for Community Empowerment in a Changing Climate” dilaksanakan di Manila, Filipina. Penyelenggara konferensi adalah Asia Pasifik SAFE Network bekerjasama dengan Pampanga State Agricultural University (PSAU), Central Bicol State University of Agriculture (CBSUA), dan Philippines Center for Postharvest and Mechanization (Philmech). Peserta konferensi berasal dari berbagai negara, seperti Indonesia, Filipina, Malaysia, Vietnam, Taiwan, Srilangka, India, Bangladesh, USA, Australia, dll. Sekitar 200 research paper yang dibagi dalam beberapa kelas paralel yaitu sustainable energy and development, food science and technology, product development and innovation, policy and management, serta sustainable agriculture/ environment dipresentasikan baik secara oral maupun poster, bersama dengan 12 plenary paper pada konferensi ini.

Prof. Dr. Helmi Syarifuddin salah satu pembicara plenary dari SAFE-Network regional office menekankan tentang peluang Asia sebagai dapur pangan dunia karena kekayaan ethnic agri-food yang dimiliki. Pengembangan agri-food untuk tujuan enterprenual perlu didukung dengan sustainable research dan inovasi teknologi yang terintegrasi dan mulitidisiplin. Diharapkan hal tersebut dapat menjadi agenda prioritas SAFE-Network di masa mendatang. Pembicara lain dari CBSUA Filipina, Rolando de Asis, Ph.D mencontohkan inisiatif CBSUA dalam sustainable organic farming dengan melakukan upgrade farm menjadi farm resort berkolaborasi dengan pihak ketiga seperti Dept of Tourism, Dept of Agriculture, University, NGO, dan lembaga pemerintah lain yang relevan serta membangun partnership dengan pemilik-pemilik lahan pertanian.

Dalam pengelolaan farm resort yang mendukung sustainable organic farming beberapa hal yang sudah diterapkan CBSUA adalah: (1) Pemanfaatan natural resource di lahan; (2) Mempraktekkan zero waste management dengan mendaur ulang limbah yang non-biodegradable dan menggunakan material yang ramah lingkungan; (3) Menawarkan kegiatan tourism yang affordable dan ramah lingkungan dengan area-area kunjungan yang ramah bagi turis, serta (4) Meningkatkan kemampuan petani di luar kesehariannya bertani yaitu sebagai pemandu wisata di farm resort. Poin dari agro-tourism ini adalah “nothing is thrown away”.

Pada kesempatan ini, peneliti Balitkabi, Dian Adi Anggraeni Elisabeth, dkk berkesempatan menyampaikan makalahnya pada sesi paralel sustainable agriculture/environment dengan judul “Adoption Determinants of Biofertilizer Technology for Soybean in Rainfed Area”. Makalah disusun berdasarkan hasil survei sosial ekonomi pada kegiatan KP4S Biodetas 2017 dan membahas tentang faktor-faktor yang dapat mempengaruhi petani dalam mengadopsi teknologi biofertilizer “Biodetas” pada pertanaman kedelai di lahan sawah tadah hujan di Desa Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Salah satu sesi plenary oleh Prof. Dr. Helmi Syariffudin: Asia sebagai dapur pangan dunia.

Salah satu sesi plenary oleh Prof. Dr. Helmi Syariffudin: Asia sebagai dapur pangan dunia.

DAAE