Berita » Acara Puncak Hakteknas 2019: Martabat Bangsa Berada di Inovasi

 

Wapres M. Jusuf Kalla pada acara puncak Hakteknas 2019

Wapres M. Jusuf Kalla pada acara puncak Hakteknas 2019

Rangkaian peringatan Hakteknas 2019 telah dimulai sejak awal Agustus dan acara puncak dilaksanakan di lapangan Puputan Renon Denpasar Bali, 28 Agustus 2019. Dihadiri oleh Wakil Presiden RI, Menristekdikti, Gubernur Bali, dan diikuti oleh sekitar 2000 peserta. Menristekdikti menyampaikan bahwa inovasi menjadi penggerak pembangunan nasional. Menguasai dan mengembangkan Iptek menjadi satu keharusan. Sudah saatnya komunitas Iptek dengan inovasinya, melakukan reformasi dan rekonstruksi. Lembaga riset harus adaptif dan responsif dengan perubahan dan tuntutan dunia saat ini. Melakukan penyesuaian riset yang dahulu activity based menjadi output based.

Wakil Presiden dengan tegas menyampaikan bahwa inovasi merupakan kemajuan masa depan. Hadirnya inovasi harus memiliki nilai tambah minimal pada aspek presisi, efisiensi, kecepatan, dan lebih bermakna. Pada intinya, inovasi harus selalu lebih baik. Berkelakar Wapres menyampaikan sudah empat kali hadir pada peringatan Hakteknas, masih melihat yang dipamerkan dua-tiga tahun yang lalu, kadang masih dipamerkan lagi. “Kalau seperti ini dimana letak kebaruan dan kemajuan inovasinya?” tanya Jusuf Kalla. Dicontohkan negara Cina, dahulu hanya meniru, mengembangkan, dan saat ini sudah berinovasi.

Acara puncak Hakteknas 2019 di Denpasar  28 Agustus 2019

Acara puncak Hakteknas 2019 di Denpasar 28 Agustus 2019

Juga disampaikan bahwa, kita memiliki sekitar 4500 perguruan tinggi, tetapi posisi inovasi global Indonesia hanya unggul di atas Kamboja. Sebaliknya Cina dengan hanya 2500 perguruan tinggi telah memposisikan sebagai negara penghasil inovasi yang produktif. Tidak ada hubungan antara jumlah perguruan tinggi dengan inovasi. Yang diperlukan adalah pandai-pandai membuat neraca untung rugi dari inovasi, melihat daya saing dari negara lain. Diperlukan kerja fokus, tulus dan kalau perlu diberikan tekanan. Posisi pangan, misalnya beras, daging, masih memprihatinkan sehingga diperlukan inovasi lagi, lanjut Jusuf Kalla.

Pada akhir arahannya, kita diajak untuk berpikir keras, sekali lagi bukan hanya memperbaiki tetapi harus pandai membuat neraca, karena kemajuan pada hakekatnya ada di inovasi. Kemajuan riset bukan berada di upacara seremonial tetapi berada di laboratorium.
MMA/JSU