Berita » Aceh Timur Mendukung Swasembada Kedelai

Kabupaten Aceh Timur pernah menjadi salah satu sentra produksi kedelai pada tahun 1992 – 1995 yang luasnya mencapai sekitar 25.000 ha, namun karena harga kedelai tidak menarik dan pasokan kedelai impor membanjir maka luas pertanaman kedelai menurun dan pada tahun 2012 tercatat hanya 12.000 ha.  Membaiknya harga kedelai akhir-akhir ini yang mencapai Rp 8.000,- dan adanya jaminan Bulog untuk menampung biji kedelai merupakan kesempatan baik untuk mengembalikan Aceh Timur sebagai sentra produksi kedelai di Provinsi NAD, ujar Bupati Aceh Timur Hasbullah dalam sambutan penerimaan kunjungan kerja Kepala Badan Litbang Pertanian Dr Haryono MSc beserta rombongan pada tanggal 14 September 2012 yang lalu. Turut mendampingi kunjungan kerja Kepala Badan Litbang Pertanian di Aceh Timur Kepala Puslitbangbun, Kepala BB Mektan dan peneliti-peneliti senior berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan pembangunan pertanian Kabupaten Aceh Timur, peneliti Balitkabi diwakili oleh  Prof. Dr. Marwoto.

  Kabupaten Aceh Timur siap mendukung program pemerintah pusat untuk pencapaian swasembada kedelai 2014.  Dengan mengatakan tekad mengembalikan Kabupaten Aceh Timur sebagai sentra produksi di NAD Bupati telah menyiapkan lahan untuk kedelai seluas 35.000 ha, di kawasan lahan sawah tadah hujan, lahan kering, dan perkebunan dengan sasaran produktivitas di atas 1,7 t/ha.  Tekad untuk mendukung swasembada kedelai juga diungkapkan lewat spanduk-spanduk yang menyatakan bahwa Rakyat Aceh Timur mendukung program Nasional Swasembada Kedelai. Spanduk-spanduk itu dipasang di sepanjang jalan menuju calon lokasi pengembangan kedelai.   Dr. Haryono MSc dalam sambutannya mengatakan bahwa Badan Litbang Pertanian telah mempunyai teknologi budidaya kedelai spesifik lokasi, yang dirakit dari komponen teknologi yang telah dihasilkan yakni: varietas unggul, benih berkualitas, teknologi budidaya spesifik lokasi (untuk lahan sawah, sawah tadah hujan, lahan kering, kering masam, dan tumpangsari dengan tanaman karet dan sawit muda) melalui pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT).  Penerapan rakitan teknologi budidaya kedelai spesifik lokasi melalui pendekatan PTT telah dikaji di berbagai lokasi terbukti mampu meningkatkan produksi 1,3 t/ha dari rata-rata nasional menjadi 1,7–2,77 t/ha.  Badan Litbang Pertanian siap membantu Kabupaten Aceh Timur menjadi daerah sentra produksi kedelai kembali. Sebagai tindak lanjut kunjungan kerja ini Badan Litbang Pertanian akan bekerjasama dengan Dinas Pertanian Pangan Kabupaten Aceh Timur untuk menyelenggarakan gelar teknologi budidaya kedelai spesifik lokasi seluas 5 ha di lahan kering dan 5 ha di lahan kawasan perkebunan sawit/karet pada musim tanam 2012 ini. Komponen teknologi yang digelarkan adalah varietas unggul kedelai Anjasmoro, Argomulyo, Grobogan, dan Tanggamus yang disusun dalam sebuah rakitan teknologi budidaya spesifik lokasi.  Pelaksanaan gelar teknologi oleh kelompok tani yang di dampingi oleh Dinas Pertanian, varietas  unggul dan benih berkualitas (Balitkabi), pendampingan teknologi di lapangan (BPTP NAD) dan supervisi dari Badan Litbang Pertanian dan Puslitbangtan.


Kunjungan Kepala Badan Litbang Pertanian Dr. Haryono MSc di Aceh Timur diterima dengan upacara adat “Peusijuk” oleh tokoh adat dan Bupati Aceh Timur di Pendopo Kabupaten.


Sambutan Bupati Aceh Timur dan Kepala Badan Litbang Pertanian di Pemda Aceh Timur.


Spanduk dukungan swasembada kedelai dan dialog interaktif Dr Haryono MSc didamping Bupati Aceh Timur dan Mantan Gubernur NAD Abdullah Puteh dengan Petani, penyuluh di Kecamatan Peunaron, Kabupaten Aceh Timur.