Berita ยป Advokasi SI KATAM Terpadu

SI KATAM, Sistem Informasi Kalender Tanam Terpadu, merupakan inovasi Balitbangtan yang high-technology dan telah dilaunching oleh Menteri Pertanian 28 Agustus 2007. KATAM Terpadu telah dioperasionalkan di 34 Provinsi yang mencakup 6911 kecamatan, yang dapat dijadikan rujukan bagi pengambil kebijakan dalam penyusunan rencana pengelolaan pertanian tanaman pangan di tingkat kecamatan. Informasi KATAM meliputi estimasi waktu dan luas tanam padi dan palawija, yang dilengkapi dengan informasi rawan bencana banjir, kekeringan, dan serangan OPT, serta rekomendasi teknologi berupa varietas, benih, dan pemupukan berimbang.Menyikapi dinamika cuaca/iklim MT I 2013/2014 dan awal MT II 2014 serta akan dilaunchingnya KATAM versi 1.7 MT II 2014 melalui web, dilakukan workshop Advokasi Kalender Tanam Terpadu MT II 2014 dan Teknologi Inovasi Pengelolaan Sumberdaya Lahan Pertanian di Bogor, 11-13 Februari 2014. Workshop diikuti oleh sekitar 150 peserta yang sebagian besar adalah dari Gugus Katam Terpadu yang ada di setiap BPTP. Pemulia kedelai Balitkabi (Muchlish Adie) juga mengikuti workshop tersebut. Narasumber selain dari lingkup Balitbangtan beserta Profesor Riset, juga dari IPB (menyampaikan tentang Sistem Peringatan Dini Kekeringan, SPDK), ITB (Smarth Climate Model), serta dari BMKG.
Pembukaan workshop yang dilakukan oleh Kepala BBP2TP (Dr Agung Hendriadi) mewakili Kepala Balitbangtan mengajak untuk merenungkan posisi KATAM saat ini (1) sudah dimanfaatkan oleh petani, atau (2) KATAM bagus tetapi sosialisasinya kurang, atau (3) KATAM bagus, sosialisasi telah dilakukan tetapi terbatas di tingkat penyuluh, atau (4) KATAM kurang operasional. Terhadap berbagai hal tersebut, perlu verifikasi, perlu updating, dan perlu kerjakeras kita semua. Sistem koordinasi dan komunikasi yang sangat intensif diperlukan dari semua pihak yang terlibat baik sesama Tim Katam Pusat maupun dengan gugus tugas di BPTP.Prof. Suyamto yang menyampaikan tentang Tinjauan Simpul Kritis dan Langkah Operasional Pemecahannya untuk Meningkatkan Akurasi Informasi dan Efektivitas Katam Terpadu, mengemukakan bahwa titik kritisnya berada di: (1) Akurasi informasi/rekomendasi Katam Terpadu, dan (2) Efektivitas penerapan Katam Terpadu di lapangan untuk meningkatkan produktivitas dan produksi. Berbagai permasalahan untuk meningkatkan presisi KATAM didiskusikan, termasuk salah satunya adalah rekomendasi varietas. Sehubungan dengan hal tersebut, Balit diminta untuk berperan aktif merekomendasikan varietas yang paling sesuai untuk setiap kawasan, termasuk untuk kedelai. Saat ini KATAM bukan milik Balitbangtan tetapi adalah milik negara kita. Agroinovasi kreativitas tiada henti untuk kesejahteraan masyarakat dan petani.

MMA/AW