Berita » Agricultural Spesialist Kedubes AS Berdiskusi dengan Peneliti Balitkabi

Balitkabi dengan tupoksi penelitian aneka kacang dan umbi, menjadi salah satu tujuan kunjungan Ibnu Edy Wiyono  dan Sugiarti Meylinah, dua Agricultural Spesialist dari Kedubes Amerika, Senin (6/2/2012). Tujuan kunjungan adalah mendiskusikan permasalahan dan prospek pengembangan kedelai dan kacang tanah di Indonesia. Diskusi diikuti oleh para Profesor Riset dan Ketua Kelti lingkup Balitkabi.

 

Pada kesempatan tersebut, Prof. Marwoto, Ketua Program Balitkabi, memberikan gambaran produksi kedelai dan kacang tanah nasional serta program penelitian dan inovasi hasil penelitian. Pak Edy yang berkecimpung di bidang oil seed (termasuk oil seed dari kedelai dan kacang tanah), menanyakan keterkaitan ketersediaan lahan dengan produksi kedelai, ketersediaan benih kedelai, serta kesiapan riset peralatan untuk pengeringan. Disampaikan harga kedelai asal USA saat ini berkisar Rp 5.300 hingga Rp 5.900 per kg. Pengalaman di Grobogan, kedelai yang dipanen bulan Januari, bermasalah dengan proses pengeringannya. Prof. Marwoto menyampaikan, dari sisi teknologi, Balitkabi telah menyiapkan berbagai teknologi kedelai, untuk lahan sawah, kering, masam bahkan teknologi untuk lahan perkebunan dan kehutanan.

Menurut Pak Edy, arah kebijakan Amerika masih fokus ke beras dan jagung. Perhatian terhadap beras ditekankan pada golden rice, penopang pangan fungsional. Sedangkan riset jagung diarahkan untuk transgenic corn. Saat ini sedang disiapkan uji adaptasi jagung transgenik tahan herbisida glyphosate dan jagung transgenik tahan hama (Bt) di Indonesia. Dijelaskan­nya bahwa pengembangan produk transgenik Amerika tetap berpegang pada ”environ­mental safety” dan ”food safety”, karena pangan fungsional telah menjadi perhatian riset di Amerika. Pegangan baku dan konsisten untuk Penelitian dan Pengembangan (R&D) di Amerika adalah RISET – NUTRISI – MARKET. Sementara Ibu Sugiarti yang membidangi ”grain and feed”; menyakan ubikayu mendukung biofuel.

Suasana diskusi dua utusan Kedubes Amerika dengan peneliti Balitkabi, Senin, 6/2/2012.

Kebijakan dan riset ke depan untuk kedelai di Amerika, banyak ditanyakan oleh peneliti Balitkabi. Kedelai transgenik tahan herbisida, masih menjadi program prioritas, hampir seluruh petani kedelai menggunakannya, walaupun penjagaan terhadap keamanan lingkungan terus diprioritaskan.  Bahkan, menurut Pak Edy, petani pun tetap diuji kelayakannya dalam menggunakan herbisida. Pemerintah Amerika memang memberikan subsidi kepada petani Amerika, berupa stabilitas harga kedelai dan fasilitas pendukung.  Dicontohkan, betapa mudahnya petani kedelai menggunakan silo. Berkait dengan kebijakan kedelai di Indonesia, Departemen Pertanian AS (USDA) memberikan prioritas pada peningkatan kemampuan bagi industri kecil berbahan baku kedelai, seperti industri tempe. Tentang kemungkinan pertukaran plasmanutfah kedelai, disarankan ditempuh lewat perguruan tinggi dan balai-balai penelitian. Dr Muchlish Adie, Kepala Balitkabi, menyampaikan pesan agar Kedutaan Amerika ikut serta memberitakan inovasi kedelai dan kacang tanah, termasuk kedelai, yang telah dihasilkan para peneliti Litbang Pertanian di Balitkabi.

MMA/Win