Berita » Apresiasi pada Hasil Penelitian Unggulan Balitkabi

Pada Temu Koordinasi peneliti, perekayasa dan penyuluh lingkup Badan Litbang Pertanian di regional II diselenggarakan di Surabaya 15–17 Februari 2013, Balitkabi memaparlan hasil unggulannya yaitu: (1) Varietas unggul kedelai toleran kekeringan untuk antisipasi dampak perubahan iklim dan (2) Inovasi teknologi umbi-umbian mendukung diversifikasi pangan.

Pemaparan hasil unggulan, oleh dua srikandi terbaik Balitkabi, Ir. Suhartina MS dan Ir. Erliana Ginting M.Sc., mendapatkan apresiasi dari peserta diskusi kelompok bidang tanaman pangan. Badan Litbang Pertanian memang telah merakit varietas kedelai toleran kekeringan sebagai adaptasi terhadap perubahan iklim global. Melalui proses seleksi bertahap dan lingkungan seleksi yang sesuai, pada September 2012, Menteri Pertanian melepas secara resmi varietas kedelai pertama di Indonesia yang berkarakteristik utama toleran kekeringan dan diberi nama DERING 1 (De = kedelai RING = toleran kekeringan). DERING 1 memiliki potensi hasil hingga 2,80 t/ha; umur masaknya 81 hari dan ukuran bijinya 10,70 g/100 biji. Karakteristik lainnya adalah tahan penyakit karat, tahan hama pengisap polong dan pengisap polong. DERING 1 prospektif dikembangkan di lahan sawah bekas tanaman padi pada MK II atau pada sentra kedelai dengan ketersediaan air terbatas. Untuk mendukung pengembangan DERING 1, pada bulan Mei tersedia Benih Penjenis (BS) sebanyak 500 kg, dan pada akhir 2013 akan tersedia 12 ton benih FS yang berpeluang dikembangkan menjadi Benih Pokok (SS) seluas 300 ha.

Selain permasalahan peningkatan produksi kedelai, kenyataan yang harus dihadapi Bangsa Indonesia adalah masih tingginya konsumsi beras yang diikuti pula oleh impor terigu. Hal tersebut akan merapuhkan ketahanan pangan nasional. Penguatan ketersediaan pangan nasional dilakukan dengan mengidentifikasi dan mengoptimalkan sumber karbohidrat non-beras dan non-terigu. Aneka umbi-umbian prospektif sebagai sumber karbohidrat dan sumber pangan fungsional. Bahkan jika dibandingkan dengan beras, jagung maupun terigu, aneka umbi-umbian memiliki serat pangan yang lebih tinggi serta memiliki indeks glikemik (IG) rendah, lebih rendah jika dibandingkan dengan IG beras, jagung maupun roti. Aneka umbi-umbian sebagai bahan baku olahan produk berbagai makanan, mampu mengurangi konsumsi tepung terigu antara 10–100%, tergantung jenis olahannya. Dengan asumsi konsumsi mie instan 4,2 kg/kapita/tahun, maka dengan substitusi 20% terigu, pemerintah mampu menghemat Rp 6,6 T. Bahkan beberapa varietas ubijalar yang telah dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian, juga berposisi sebagai sumber pangan sehat dan menyehatkan (sumber pangan fungsional), karena kandungan antosianin dan beta-karotennya yang cukup tinggi.

Diskusi interaktif yang dipandu oleh Prof. Dr Sudaryono, memang menjadi menarik. Tidak kurang sembilan peserta memberikan masukan, menanyakan prospeknya serta saran perbaikan inovasi unggulan ke depan. Bahkan Prof. Dr. Kusuma K., ikut urun rembug, bahwa kehebatan inovasi harus ditunjukkan secara riil, bukan dengan powerpoint dan ubikayu juga menjadi dewa penyelamat pangan untuk ternak. Beliau juga menambahkan inovasi yang bercitra tinggi dan bagus, berpeluang disambut/dimanfaatkan orang kaya sebaliknya inovasi berbasiskan sumberdaya lokal dan bercitra maka rakyat kecil akan menggunakannya. Juga disarankan untuk DERING 1 perlu diperbaiki sehingga terlahir varietas baru yang tidak hanya toleran kekeringan tetapi juga berukuran biji besar dan berumur genjah.

Teruslah berinovasi untuk kepentingan rakyat.