Berita » ARISA, Kemitraan Australia-Indonesia untuk Meningkatkan Kesejahteraan Petani

Tanggal 11 Februari 2015, Proyek ARISA mengadakan roadshow (sosialisasi) ke Balitkabi. Utusan ARISA terdiri tiga orang: Dr. Saediman Mboe, Dr. Robert Caudwell, dan Mrs. Lauren Xie), sementara Balitkabi diwakili peneliti lima komoditas dari kelti HPT, Pemuliaan, dan Ekofisiologi. Dr. M.M. Adie menyampaikan bahwa Balitkabi sudah ditetapkan sebagai Pusat Unggulan Iptek komoditas Akabi sejak 2014.Acara roadshow bertujuan untuk memperkenalkan proyek ARISA, mempresentasikan pendekatan “system inovasi” pada penelitian terapan, mempresentasikan panduan hibah inovasi ARISA, menjelaskan format dan proses pengajuan aplikasi hibah inovasi ARISA, menjelaskan tahap-tahap proses seleksi hibah ARISA, serta menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin diajukan terkait proyek dan hibah ARISA. Dr. Robert Caudwell menjelaskan bahwa Proyek Penelitian Terapan dan Sistem Inovasi Pertanian (Applied Research and Innovation Siystem in Agriculture project atau ARISA) adalah bagian dari Kemitraan Australia–Indonesia untuk pengembangan ekonomi pedesaan (Partnership for Rural Economic Development atau AIP-Rural). AIP-Rural terdiri dari empat proyek termasuk ARISA, yang didanai oleh Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia. Kantor perwakilan AIP-Rural Indonesia bertempat di Surabaya. ARISA diimplementasikan oleh CSIRO (Lembaga Ilmu Pengetahuan Australia) bersama-sama dengan BPPT dan RISTEK Indonesia.

ARISA bertujuan untuk meningkatkan jumlah dan volume inovasi-inovasi relevan yang menjangkau petani kecil dengan mendukung kolaborasi antara lembaga penelitian dan perusahaan swasta yang ingin memproduksi secara komersial dan mendiseminasikan inovasi-inovasi yang bermanfaat bagi petani kecil. Melalui dukungannya pada inovasi-inovasi tersebut, ARISA menargetkan sekurang-kurangnya 10.000 petani kecil di Jawa Timur, NTT, dan NTB meningkat pendapatannya sebesar 30% pada akhir 2018. Fokus kegiatan ARISA adalah pada penelitian terapan dan adaptif untuk mengkomersialisasikan inovasi-inovasi yang ada sekarang di Indonesia Timur, bukan tertuju pada penelitian untuk menghasilkan pengetahuan atau teknologi baru. Dr. Saediman bersama dengan Mrs. Lauren Xie menjelaskan mengenai Agriculture Innovation System, yang terdiri dari empat tahap, yaitu generation (penemuan, pengembangan atau importasi teknologi atau pengetahuan baru yang memiliki potensi meningkatkan pendapatan petani), dissemination (penyampaian teknologi atau pengetahuan kepada petani baik secara langsung maupun tidak langsung untuk mendukung adopsi), adoption (penerapan teknologi atau pengetahuan, yang memberikan manfaat kepada petani dan/atau bagian lainnya dari rantai nilai), serta respon (penggunaan pembelajaran dari proses-proses sebelumnya untuk selanjutnya menyempurnakan produk awal dan/atau memperbaiki diseminasi kepada petani kecil). Proyek ARISA akan mendukung dan mengembangkan kerjasama penelitian yang merupakan kolaborasi antara pihak lembaga penelitian dengan usaha agribisnis swasta dalam upaya komersialisasi inovasi yang tersedia, atau sebaliknya, pihak swasta bermitra dengan lembaga penelitian, dan terletak di Indonesia Timur (Jawa Timur, NTT dan NTB). Di samping itu ARISA tidak hanya menyediakan bantuan finansial tapi juga non finansial (seperti pelatihan). Dalam akhir acara, Dr. M.M. Adie menyampaikan semoga kita dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk dapat berperan aktif dalam peningkatan kesejahteraan petani.

KN