Berita » Balitbang akan Kembangkan Lab Lapang Kedelai di Deli Serdang

1.pengemb-dele_deli

Upaya peningkatan produksi kedelai dapat dilakukan melalui peningkatan areal tanam dan peningkatan produksi. Upaya pendekatan untuk meningkatkan produksi kedelai pada tahun 2015 dilakukan melalui Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT) bagi peneliti/penyuluh dan petani kedelai di sentra produksi kedelai. Upaya ini harus didukung oleh semua pihak agar peningkatan produksi kedelai dapat tercapai. Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan ) dalam hal ini Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), mempunyai peran penting sebagai sumber teknologi di daerah. Dalam rangka pendampingan GP-PTT kedelai, Balitbangtan akan membangun Laboratorium Lapang (LL) sebagai tempat pembelajaran alih teknologi dari Balitbangtan kepada institusi terkait dan kelompok tani. Tim Balitbangtan yang diketuai Dr. Pramayufdy (Kepala Puslitbang Hortikultura) didampingi Dr. Catur Hermanto (Kepala BPTP Sumatera Utara), Ir. Sulusi Prabawati M.Sc. (KS PHP Puslibanghort), dan Prof. Dr. Marwoto (Balitkabi) mengadakan kunjungan ke Kelompok Tani Dirgantara, Desa Sumberejo, Kecamatan Pager Marbau, Deli Serdang dalam rangka penyusunan rancang bangun Laboratorium Lapang Inovasi Teknologi Pertanian di Kelompok Tani Dirgantara. Deli Serdang merupakan salah satu kabupaten penghasil kedelai di Sumatera Utara dengan luas area sekitar 3000-5000 ha. Tipe lahan pertanian di desa Sumberejo mayoritas adalah lahan sawah dengan pola tanam 90% kedelai – padi – padi dan sebagian kecil jagung – padi – padi. Praktek budidaya kedelai masih sangat sederhana dan belum melaksanakan rekomendasi yang telah ditetapkan. Benih yang ditanam berasal dari hasil tanaman sendiri di pematang dan sebagian dari Aceh Timur dan Langkat. Kualitas benih produksi sendiri lebih baik dari pada benih dari Langkat dan Aceh Timur. Varietas kedelai yang disukai adalah Anjasmoro, di samping itu terdapat varietas Wilis dan lokal. Permasalahan yang dihadapi petani desa Sumberejo adalah pada saat panen hujan mulai turun, sehingga proses pengeringan menjadi terkendala dan menyebabkan penurunan kualitas biji kedelai. Masalah lain adalah tenaga kerja semakin langka, benih belum mencukupi kebutuhan, serta harga jual hasil panen melalui pedagang pengumpul masih rendah yaitu antara Rp5.000 hingga Rp6.000, jauh dari HPP yang telah ditentukan. Petani berharap harga jual dapat ditingkatkan dan terdapat jaminan pasar yang pasti, agar gairah petani lebih meningkat. Berdasarkan pengamatan lapang, maka rancang bangun LL Inovasi Teknologi Pertanian yang diusulkan adalah: 1) Merancang LL pada pola tanam pertama yaitu pada tanaman kedelai yang sudah tanam, dengan melakukan pendampingan yang bertujuan meningkatkan pengetahuan petani dalam hal budidaya kedelai sesuai dengan teknologi yang telah dihasilkan Balitbangtan melalui: sarasehan, diskusi kelompok, pendampingan teknologi dan pemecahan masalah yang timbul selama proses produksi kedelai, 2) Kegiatan untuk tahun pertama pola pertama kedelai meliputi pendampingan/supervisi berkala selama musim tanam berlangsung, pembelajaran peningkatan kemampuan petani dalam budidaya kedelai dan produksi benih (teknik budidaya, mengenal varietas unggul dan karakternya, teknik pengendalian hama/penyakit ramah lingkungan, panen dan pasca panen, yang disampaikan dalam forum diskusi secara berkala sesuai dengan fase pertumbuhan tanaman. Untuk selanjutnya, musim kedua pertanaman padi, dilakukan introduksi teknologi yang meliputi pengenalan varietas unggul baru, sistem tanam (tegel, Jarwo), peralatan mekanisasi untuk tanam, sistem tanam, panen dsb. Demikian juga untuk kedelai pada tahun kedua di susun LL yang lebih lengkap.

Gambar 1. Cara tanam kedelai di tingkat petani dengan jarak tanam yang sudah teratur, jerami di kembalikan sebagai mulsa.
Saluran drainase belum dibuat (kiri) dan sudah ada drainase namun perlu diperbaiki (kanan). Prof. Marwoto