Berita » Balitbangtan Gelar Teknologi Budidaya Kedelai Grobogan 3 Ton per Hektar

grob

Kebutuhan kedelai di Indonesia sekitar 2,2 juta ton, produksi kedelai dalam negeri baru bisa memenuhi sekitar 40% dan sisanya impor. Luas areal, produktivitas dan produksi dari tahun 2011 hingga 2015 berfluktuasi dan cenderung lamban dengan peningkatan luas areal 622.254 ha (2011)–624.848 ha (2015), produktivitas 1,37 t/ha (2011)–1,57 (2015), dan produksi 851.286 ton (2011)–982.967 (2015). Berdasarkan angka tersebut terlihat bahwa laju peningkatan produksi yang paling signifikan adalah peningkatan produktivitas. Hal ini membuktikan bahwa penerapan teknologi yang dihasilkan Balitbangtan telah banyak diterapkan petani. Tingkat produktivitas kedelai nasional 1,57 t/ha, dipandang masih rendah dan jauh dari potensi genetis dari tanaman kedelai yang mampu berproduksi >3 ton/ha. Menteri Pertanian Amran Sulaiman memerintahkan Balitbangtan untuk bisa mewujudkan impian produktivitas kedelai dapat mencapai >3 ton/ha dalam skala luas minimal 100 ha, sebagai percontohan dan diharapkan dapat dikembangkan di lahan petani sekitarnya. Oleh karena itu, Balitbangtan berusaha untuk menjawab tantangan Menteri Pertanian dengan mengadakan Gelar Teknologi Budidaya Kedelai 3 ton/ha di Kabupaten Banyuwangi pada bulan Agustus–November 2015 dan Kabupaten Grobogan Jawa Tengah pada bulan Oktober 2015–Januari 2016, masing-masing 100 ha. Gelar Teknologi Kedelai 3 ton/ha telah diadakan di Banyuwangi seluas 100 ha di tengah hamparan kedelai 660 Ha di Kecamatan Tapan Rejo dengan menggunakan varietas Anjasmoro dan paket teknologi spesifik lokasi budidaya kedelai di lahan sawah berpengairan dapat menghasilkan kedelai 3,2 t/ha. Gelar Teknologi di Kabupaten Grobogan dengan teknologi budidaya kedelai varietas Grobogan seluas 107 ha di tengah hamparan seluas 6.000 ha, dari 14.000 ha kedelai di Kabupaten Grobogan. Varietas yang ditanam Varietas Grobogan dengan teknologi budidaya spesifik lokasi lahan sawah tadah hujan yang dikawal dengan program Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT). Kondisi pertanaman di areal gelar teknologi dalam kategori baik dengan kisaran hasil 2,85–3,45 t/ha dengan rata-rata 3,1 t/ha, sedang rata-rata produktivitas di Kabupaten Grobogan 2,28 ton/ha, Jawa Tengah 1,82 t/ha dan rata-rata nasional 1,57 t/ha. Produktivitas di Grobogan paling tinggi di Indonesia. Kedua Gelar Teknologi Budidaya Kedelai tersebut membuktikan Balitbangtan telah menjawab permintaan Menteri Pertanian. Gelar teknologi ini telah didiseminasikan melalui multi-chanel, salah satunya dengan melalui gerakan panen raya dan temu wicara dengan para petani dan pemangku kepentingan pengusaha, pemerintah pusat, dan daerah. Panen dan Temu Wicara Gelar Teknologi Budidaya Kedelai Grobogan dengan hasil 3 ton/ha telah dilaksanakan di Kabupaten Grobogan, tepatnya di Kecamatan Nambuhan dan Pulo Kulon pada tanggal 20 Januari 2016. Panen dan Temu Wicara diikuti oleh sekitar 500 orang terdiri dari petani, penyuluh, Dinas Pertanian Tanaman Pangan, para ketua kelompok tani se Kabupaten Grobogan. Hadir pada acara ini Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Tengah mewakili Gubernur Jawa Tengah, Bupati Grobogan diwakili Asisten II, Sekretaris Balitbangtan Dr. Agung Hendriadi, Jajaran Eselon II Balitbangtan, Kepala BPTP Dr. Ismail Abdul Wahab dan Kepala Balitkabi Dr. Didik Harnowo beserta peneliti dan penyuluh, Jajaran SKPD Kabupaten Grobogan. Kepala Dinas Tanaman Pangan Jawa Tengah mengatakan bahwa Gubernur sangat memperhatikan secara serius untuk pengembangan kedelai dan akan diperluas di lahan Perum Perhutani di sela tanaman jati muda dan kayu putih. Kepala Balitbangtan dalam kata sambutannya mengatakan bahwa Balitbangtan telah menjawab tantangan Menteri Pertanian untuk mengaktualisasikan kedelai yang mampu menghasilkan 3 ton/ha dalam areal 100 ha dan selanjutnya Balitbangtan siap untuk mengawal dan pendampingan bimbingan teknis dalam pengembangan budidaya kedelai spesifik lokasi. Dalam temu wicara ada suara petani yang amat sangat menggelitik, yakni masalah harga. HPP yang telah ditetapkan Rp7.600,-/kg selama ini tidak pernah terealisasi, siapa sebenarnya yang mengawal? Bulog selama ini juga belum bisa melakukan pembelian, kata Ali Muktar petani Pulo Kulon Grobogan. Selanjutnya pak Ali Muktar mengatakan bahwa jika harga kedelai tidak bisa naik atau sesuai HPP yang ditetapkan, bukan tidak mungkin petani akan beralih menanam kacang hijau atau jagung yang hasil analisis usahataninya lebih menguntungkan. Pertanyaan ini sangat mendasar yang harus diperhatikan bagi Pengelola UPSUS Pajale, untuk memberikan solusi dan kebijakan lebih lanjut.


Panen Kedelai Grobogan, temu wicara dan pers release yang diikuti oleh Kepala Distan Jawa Tengah Ir. Surya, Komandan Kodim,
Sekretaris Balitbangtan Bapak Dr. Agung Hendriadi, Kepala Balitkabi Dr. Didik Harnowo, Prof. Dr. Marwoto peneliti Balitkabi.

MWT