Berita » Balitkabi Angkat Khasiat Daun Ubi Jalar dalam Presentasi Proposal Kerjasama dengan Hirata Corporation

Tim Balitkabi beserta Kepala Balitkabi Dr. Yuliantoro Baliadi dalam  video conference pembahasan usulan proposal Balitbangtan dan Hirata Corporation

Tim Balitkabi beserta Kepala Balitkabi Dr. Yuliantoro Baliadi dalam video conference pembahasan usulan proposal Balitbangtan dan Hirata Corporation

Mendukung empat kunci dalam mencapai pertanian Maju, Mandiri dan Modern di bawah komando Dr. Syahrul Yasin Limpo, telah dilakukan tindaklanjut MoU antara Balitbangtan dan Hirata Corporation yang telah ditandatangani desk to desk pada tanggal 27 Maret 2020 dan 6 April 2020 tentang “Joint Collaboration Program for Sustainable Development for Functional Foods, Cosmetics, & Toiletries and Pharmaceuticals Use”. Pada tanggal 8-9 April 2020, Balitkabi bersama lima UPT lingkup Balitbangtan lainnya melakukan presentasi usulan proposal melalui video conference dengan Hirata Corporation yang difasilitasi oleh Sub-bagian Kerjasama Sekretariat Balitbangtan.

Tim dari Balitkabi, Balittas, dan Balitjestro berkesempatan mempresentasikan usulan proposalnya pada hari pertama tanggal 8 April 2020. Hadir dalam pembahasan proposal melalui vidcon tersebut Bapak Dr. Hardiyanto selaku Plt. Sekretaris Balitbangtan, Dr. M. Prama Yufdi sebagai moderator, Kabag KSOH Balitbangtan, Kasub Kerjasama Sekretariat Balitbangtan, kepala dan pejabat UPT lingkup Balitbangtan dari Balittro, Balithi, BB Pascapanen, Puslitbangbun, Puslitbanghorti, dan Puslitbangtan, perwakilan Biro KLN, para peneliti yang menyampaikan usulan proposal, yaitu Prof. Dr. Nurindah dari Balittas, Dr. Chaereni dari Balitjestro, dan Ir. Erliana Ginting, MSc dari Balitkabi yang masing-masing didampingi oleh tim dan Kepala Balainya serta Mr. Tomohiro Kamogawa sebagai perwakilan dari Hirata Corporation.

Dalam arahannya, Plt. Sekretaris Balitbangtan menyampaikan bahwa penelitian yang disusun dalam joint collaboration ini hendaknya menghasilkan output yang dapat dikomersialisasikan dengan segmen pasar tidak hanya di Indonesia tetapi juga global. “Ketersediaan bahan baku dan keterlibatan peneliti sosial ekonomi juga perlu dipertimbangkan untuk menguji kelayakannya agar dapat berkelanjutan dan menjadi indikator keberhasilan Balitbangtan dalam komersialisasi teknologi/produk yang dihasilkan serta perluasan networking”, tambah Dr. Hardiyanto. Dalam penyampaian usulan proposal, peneliti diharapkan dapat menyampaikan permasalahan dan kegiatannya dengan rinci dan jelas, termasuk target output yang ingin dicapai setiap tahun dan menggunakan kesempatan ini untuk sharing knowledge dengan pihak Hirata Corp dalam bentuk transfer teknologi, training dan lain-lain untuk meningkatkan kompetensi peneliti dengan tetap mengikuti regulasi yang berlaku di Indonesia.

Balitkabi menyampaikan proposal berjudul “Herbal Tea Derived from Leaves of Selected Sweet Potato Cultivars”. Ide penelitian didasarkan pada keunggulan daun ubijalar yang kaya kandungan gizi dan komponen bioaktif (pigmen alami, termasuk lutein yang dapat mencegah katarak, senyawa fenol, flavonoid dan kafeat) yang dapat berfungsi sebagai antioksidan, antipenuaan dini, antimikroba, antidiabetes, antihipertensi, dan antikanker serta pemanfaatannya yang masih terbatas untuk pakan ternak, pupuk dan sayur. Sekitar 95% daun ubi jalar terbuang menjadi limbah pada saat panen, sehingga berpeluang untuk diolah menjadi teh herbal.

Beberapa varietas ubijalar telah dilepas oleh Balitbangtan dengan warna daging umbi putih, kuning, orange, dan ungu, di antaranya Beta 1, Antin 3, Pating 1 menarik diidentifikasi daunnya untuk bahan baku teh herbal. Penelitian direncanakan selama 3 tahun, pada tahun pertama akan diidentifikasi komposisi kimia, komponen bioaktif, dan aktivitas antioksidan daun ubi jalar dari sekitar 10 varietas yang daunnya berwarna hijau dan ungu untuk selanjutnya dipilih 2-4 varietas yang sesuai; tahun kedua dilakukan optimasi pengolahan teh herbal dengan metode fermentasi dan non-fermentasi menjadi berbagai bentuk olahan teh (teh bubuk, teh celup dan teh ekstrak) serta penerimaan panelis terhadap atribut sensorisnya; dan pada tahun ketiga dilakukan pengemasan dan uji daya simpan produk serta survei pasar untuk melihat preferensi konsumen.

Mr. Kamogawa mengapresiasi usulan proposal yang disampaikan dan memberi contoh varietas Siloh di Jepang yang kandungan lutein pada umbinya relatif tinggi dan jika ingin diunggulkan, varietas-varietas ubijalar yang ada di Indonesia harus memiliki kandungan lutein lebih tinggi. Pembahasan bersama masih perlukan karena pihak Hirata Corp ingin memfokuskan pada kegiatan penelitian berupa eksplorasi, karakterisasi dan evaluasi terhadap potensi aneka komoditas, terutama plasma nutfah yang dimiliki oleh masing-masing UPT Balitbangtan di tiga tahun pertama serta untuk mendapatkan kandidat komoditas yang unggul dari segi nilai kebaruannya (novelty), unik/khas (original) dari Indonesia dan produknya (dalam bentuk functional foods, cosmetics, toiletries dan pharmaceuticals) belum ada di pasar global.

Dr. M. Prama Yufdy sebagai moderator menambahkan kalau kita perlu kembali ke indigenous atau traditional knowledge yang dapat dikembangkan dan dieksplorasi sisi ilmiahnya. “Baru pada fase ke dua, tiga tahun berikutnya dilanjutkan dengan kegiatan produksi termasuk peralatan yang dibutuhkan dan fase ketiga untuk komersialisasi di tingkat industri, “ ujarnya. Bergerak sigap menindaklanjuti saran dan masukan dari pihak Hirata Corp dan Balitbangtan, diharapkan dapat menjadi langkah awal mencari mutiara terpendam kekayaan hayati komoditas kita dan jalan mulus mengkomersialisasikan hasil-hasil inovasi Balitbangtan di pasar global. Semoga!!!

Beberapa peserta Vidcon

Beberapa peserta Vidcon

Suasana presentasi proposal kerjasama penelitian Balitkabi dengan Hirata Corporation melalui Video Conference, 8 April 2020

Suasana presentasi proposal kerjasama penelitian Balitkabi dengan Hirata Corporation melalui Video Conference, 8 April 2020

DAAE/EG