Berita » Balitkabi Berpartisipasi pada NNC Produk Ekspor

Kementerian Pertanian terus berupaya meningkatkan ekspor komoditas pertanian. Untuk memperkuat hal tersebut, 28 Januari 2021, dilakukan koordinasi tindak lanjut Notification of Non Compliance (NNC) produk ekspor tujuan Jepang secara luring di Hotel Rizen Padjajaran, Bogor dan daring melalui Zoom meeting. Acara ini diselenggarakan oleh Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati, Badan Karantina Pertanian. Acara dibuka oleh Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati,  Dr. Ir. A.M. Adnan, M.P., dengan narasumber Ibu Sri Nuryanti dari Agriculture Attache of Tokyo dan Ibu Retno Supeni sebagai Assistant Director and Head of Capacity Building (CB) Cluster Asean Japan Centre. Subkoordinator Subtansi Jasa Penelitian Balitkabi (B.S. Koentjoro, M. Kom.) mengikuti acara tersebut secara daring.

Dr. Ir. A.M. Adnan, M.P. menyampaikan agar kita dapat menangkap momen NNC Jepang ini sebagai challenge, bukan kendala, sehingga kedepannya kita sudah siap untuk menghadapi berbagai standar ekspor yang diberikan oleh negara-negara lain. Adapun produk yang mendapat NNC pada tahun 2020 yakni produk buah nanas segar (terdeteksi Tebuconazole 0,09 ppm), produk olahan ubi kayu (terdeteksi sianida >10 ppm) dan produk olahan kacang tanah (terdeteksi aflatoksin 13 ppb). Dengan adanya tantangan di atas, maka perlu tindak lanjut dan penulisan tindakan perbaikan.

Terlibatnya Badan Litbang Pertanian dalam acara ini, yakni memberikan dukungan terkait varietas bahan baku dengan kadar HCN rendah, teknologi penanganan pascapanen untuk mereduksi sianida dan aflatoksin. B.S Koentjoro mengungkapkan, “Balitkabi  telah menghasilkan beberapa varietas ubi kayu yang memiliki karakteristik kadar HCN rendah, rasa manis, enak, dan berwarna kuning. Beberapa diantaranya yang sangat diminati petani adalah varietas Adira 1, Malang 1, dan Malang 2”. “Terkait lokus-lokus ubi kayu ini akan disampaikan lebih lanjut”, tambah beliau.

Mengenai kadar HCN, Jepang diketahui memiliki standar HCN yang sangat rendah, yakni 10 ppm, sehingga perlu usaha yang keras untuk memenuhi permintaan ini. Selain itu, belum ada sinkronisasi antara laboratorium pengujian Jepang dan Indonesia, sehingga hasil analisis di Indonesia tidak sesuai dengan hasil di tempat kedatangan (Jepang). Oleh karena itu, Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian (BBUSKP) mengajukan pelatihan dan uji banding antara laboratorium Jepang dan laboratorium Indonesia, sehingga kedepannya dengan sumber daya manusia dan fasilitas yang ada dapat mendukung jalannya ekspor produk-produk pertanian Indonesia dengan lebih baik lagi. Permintaan ini ditanggapi dengan baik oleh Ibu Retno Supeni dari Asean Japan Centre. Beliau menyampaikan bahwa akan segera mengurus terkait pengajuan Capacity Building, berkoordinasi dengan  internal Asean Japan Center dan akan mengkomunikasikan hal tersebut dengan Attani Tokyo.

Harapan kedepannya, sektor pertanian terus berkembang dan ekspor produk pertanian terus meningkat dengan standar dan kualitas yang baik di mata dunia.

nnc

Subkoordinator Substansi Jaslit mengikuti NNC secara daring

nnc1 nnc2
Dr. Ir. A.M. Adnan, M.P. dan Ibu Retno Supeni

BSK/EU