Berita » Balitkabi Dukung CIP dalam Penguatan Database Adopsi dan Penyebaran Varietas Ubijalar di Indonesia

Dalam rangka penguatan database adopsi dan penyebaran varietas ubijalar di Indonesia, CIP (Centre International Potato and Sweet potato) bekerjasama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian mengadakan “Expert Elicitation Workshop on Tracking Sweet Potato Improved Cultivars Adoption in Indonesia”, yang berlangsung pada tanggal 15 Desember 2015 di Bandung, Jawa Barat. Kegiatan yang sama juga diselenggarakan di negara-negara Asia lainnya yang merupakan Project SIAC (Strengthening Impact Assessment in the CGIAR). Workshop diikuti oleh sekitar 20 peserta yang berasal dari berbagai institusi antara lain: Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, Puslitbang Tanaman Pangan, BB Biogen, Institut Pertanian Bogor, Universitas Padjajaran, Universitas Papua, Universitas Brawijaya, BPTP Jambi. Selain itu juga menghadirkan petani ubijalar dan pelaku bisnis ubijalar. Fasilitator acara tersebut adalah Dr. Sukendra Mahalaya dan Ir. Tjintokohadi, M.Sc. (CIP Indonesia). Narasumber pada acara ini adalah : Marcel Gatto, Ph.D. (Social and Health Sciences and Innovation Systems CIP) dan Dr. M. Jusuf (Balitkabi). Peneliti Balitkabi lainnya yang turut serta pada workshop tersebut adalah: Erliana Ginting, M.Sc,, Febria Cahya Indriani, M.P. dan Joko Restuono, S.P. Workshop dibuka oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Dr. I Made Jana Mejaya) yang mewakili Kepala Badan Litbang Pertanian. Dr. I Made Jana Mejaya menyampaikan bahwa kerjasama dengan CIP telah dimulai sejak awal tahun 1990-an hingga sekarang. Hal tersebut merupakan salah satu cara untuk meningkatkan peranan komoditas ubijalar di Indonesia. Beberapa varietas yang telah berkembang saat ini merupakan hasil kerjasama tersebut, dan diharapkan dapat ditingkatkan lagi. Hasil Workshop ini sangat bermanfaat khususnya untuk Badan Litbang Pertanian dalam mengambil kebijakan dan mendukung program pengembangan ubi jalar di Indonesia. Dr. M. Jusuf selaku peneliti ubijalar Balitkabi menyampaikan beberapa strategi untuk meningkatkan adopsi varietas unggul, antara lain: 1) Mempertimbangkan preferensi petani dan konsumen, 2) Petani dilibatkan dalam tahap seleksi, 3) Bibit ubi jalar yang disebarkan jelas identitas genetiknya, serta 4) Meningkatkan sosialisasi varietas baru melalui Diseminasi. Faktor utama penentu adopsi varietas di sebagian besar wilayah di Indonesia antara lain: harga jual, produksi tinggi dan permintaan pasar. Pada daerah yang makanan pokoknya ubi jalar seperti di Papua, ubijalar diadopsi karena berumur genjah dan rasanya enak. Tantangan ke depan pengembangan ubijalar di Indonesia antara lain: 1) Ubijalar bukan komoditas prioritas bagi pemerintah, 2) Kebijakan pemerintah seyogyanya disesuaikan dengan kondisi dan pola konsumsi pangan di masing-masing daerah, 3) Sistem perbanyakan bahan tanam dan distribusinya belum tersedia, 5) Alih fungsi lahan pertanian yang menyebabkan lahan pertanian khususnya ubijalar menjadi semakin berkurang. Peluang pengembangan ubijalar lebih lanjut masih terbuka luas karena ubijalar banyak mengandung nutrisi (beta-karoten, antosianin, mineral dan serat), selain itu dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.


Dr. I Made Jana Mejaya (Kepala Puslitbang TP) dan Marcel Gatto, Ph.D. (CIP) (kanan)
serta Dr. M. Jusuf sedang menyampaikan topik “Produksi Ubijalar di Indonesia, penyebaran dan tingkat adopsi varietas oleh petani”.


Dr. I Made Jana Mejaya dan Marcel Gatto, Ph.D. berfoto bersama dengan peserta workshop.

FCI/EG