Berita » Balitkabi Dukung Gerakan Penanganan Pascapanen Kedelai

Seluruh potensi peningkatan produksi kedelai harus digerakkan, termasuk menekan kehilangan hasil kedelai pada proses pascapanen. Untuk itu Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menyelenggarakan Gerakan Penanganan Pascapanen Kedelai (GPPK). GPPK tahun 2014 dilaksanakan di Sukorejo, Bangsalsari, Jember, Jawa Timur, Kamis (2/10). Balitkabi mendukung gerakan ini dengan menyajikan informasi praktis dengan poster berjudul “Penananganan Pascapanen yang Baik dan Benar dalam Menurunkan Susut Kedelai”. Poster ditulis dan dikawal oleh Ir. I Ketut Tastra, peneliti Mekanisasi.
Kehilangan hasil pada usahatani kedelai secara umum masih tinggi. Perkiraan kehilangan hasil kedelai yang dipanen pada kadar air tinggi (30–40% basis basah (bb)) mencapai 15,5% dan yang dipanen pada kadar air rendah (17–20% bb) sebesar 10%. Di samping kehilangan hasil secara fisik (kuantitas), susut mutu/viabilitas (kualitas) benih kedelai dalam penanganan pascapanen juga cukup tinggi, 2,5–8,0% (Purwadaria, 1989). Hal ini disebabkan karena benih kedelai mudah rusak dan cepat turun daya tumbuhnya, sehingga memerlukan cara penanganan yang cepat, tepat, dan teliti. Oleh karena itu, tujuan dari penanganan pascapanen kedelai adalah menjaga viabilitas benih kedelai supaya tetap sama seperti pada waktu panen dan mengurangi kehilangan hasil pada semua proses kegiatan yang dilakukan (panen, pengeringan, perontokan dan penyimpanan). Kegiatan penangana pascapanen kedelai umumnya dilakukan oleh petani, kelompok tani, koperasi, penangkar benih dan pedagang pengumpul. Kegiatan prosesing didukung oleh berbagai lembaga dalam masyarakat (Penyuluh pertanian, Lembaga Penelitian/Perguruan Tinggi, Industri Pangan, Industri Peralatan Bengkel Lokal, Penjual Jasa Alsintan) dan kebijakan pemerintah (perkreditan, pelatihan, harga jual kedelai dll) yang dalam satu kesatuan dapat disebut sebagai sistem penanganan pascapanen kedelai. Dalam perspektif pendekatan sistem, sinergi antara komponen/pelaku sangat menentukan tercapainya tujuan sistem penanganan pascapanen kedelai. Hal ini sangat diperlukan, sejalan dengan upaya pemerintah untuk mencapai sasaran swasembada kedelai pada tahun 2014.


Direktur dengan didampingi Sekda Kabupaten Jember dan Kepala Diperta serta jajarannya saat panen dengan sabit.Salah satu aspek penting untuk menumbuhkembangkan sinergi dalam sistem penjualan jasa alsintan pascapanen kedelai adalah pertimbangan adanya sifat fisik dan panas yang berbeda antara varietas yang sudah dikembangkan di masyarakat petani. Pengetahuan sifat fisik dan panas kedelai berguna dalam mengoptimalkan kinerja Alsintan pascapanen untuk menurunkan susut (kehilangan hasil) kedelai. Umumnya varietas kedelai berbiji kecil/sedang lebih tahan terhadap beban mekanis dan deraan suhu dibandingkan dengan varietas kedelai berbiji besar. Untuk itu, putaran mesin perontok untuk kedelai berbiji besar (400–450 rpm) harus lebih kecil dibanding kedelai kedelai berbiji kecil/sedang (450-500 rpm). Sementara, suhu pengeringan untuk kedelai berbiji besar (40–45 oC) harus lebih kecil dibanding kedelai biji kecil/sedang (45–50 oC) (Patriyawaty dan Tastra, 2010). Informasi selengkapnya dapat dibaca pada ”Informasi praktis penanganan pasca panen yang baik & benar dalam menurunkan susut hasil’ (Tastra, 2014).

Tastra/AW