Berita » Balitkabi harus Sombongkan Hasil Inoteknya

dsc_8860

Balitkabi memperoleh kesempatan kedua kunjungan Plt. Kepala Balitbangtan yang juga Sekjen Kementan Ir. Syukur Iwantoro, M.S., M.B.A. (25/01/2019) setelah sebelumnya mengunjungi Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) di Karangploso. Disampaikan oleh Plt. Kepala Balitbangtan yang baru pertama kali mengunjungi Balitkabi, selain ingin bersilaturahmi sekaligus mencari jawaban mengapa produksi nasional komoditas Akabi secara umum menurun, di saat kita dituntut untuk meningkatkan produktivitas pangan. Beliau juga menegaskan bahwa UPT lingkup Balitbangtan tidak cukup hanya menghasilkan output tetapi tuntutan outcome yang berdampak langsung bagi masyarakat dan pengguna. Sebagai penghasil riset akabi, Balitkabi mampu berperan penting ikut mengungkit produksi komoditas akabi yang saat ini masih rendah.” Peneliti harus sombong, sering bersilaturahmi, dan jangan malu promosikan hasil temuannya agar khalayak, industri hingga policy maker mengetahui,” demikian ditegaskan oleh Syukur.

  • image
  • image
  • image

Guna memperoleh gambaran umum kinerja Balitkabi, Dr. Ir. Yuliantoro Baliadi,M.S. selaku Kepala Balitkabi memaparkan hasil-hasil penelitian berupa varietas unggul dan inovasi teknologi akabi. Pemaparan mengenai banyaknya varietas unggul kedelai dengan berbagai keunggulannya membuat Syukur heran. “Mengapa di Pusat (Jakarta) selama ini tertanam stigma bahwa kedelai merupakan tanaman sub tropis yang tidak mungkin berkembang baik di daerah tropis seperti Indonesia?” tanya Syukur lebih lanjut. Penelitian hingga diperolehnya varietas kedelai dan ubi jalar berbasis pangan fungsional seperti kandungan antioksidan tinggi yang berfungsi sebagai anti aging dan anti cancer menjadi perhatian penting Sosok kelahiran Situbondo ini. “Saat ini sudah ada varietas-varietas kedelai yang sesuai untuk kondisi lahan di Indonesia dan produktivitas tinggi, seharusnya kedelai bisa berkembang dan Indonesia bisa swasembada kedelai, ungkap Syukur. Harus dicari akar permasalahan yang menghambat dan langkah-langkah untuk mengatasinya.

Pada kesempatan diskusi banyak muncul masukan dari para peneliti Balitkabi. Kendala belum ada jaminan harga kedelai lokal hingga membanjirnya kedelai impor membuat petani enggan menanam kedelai diungkap oleh Ir. Abdullah Taufiq, M.S. Di samping itu, Prof. Dr. Arief Harsono menyampaikan bahwa hingga saat ini sistem perbenihan kedelai belum berjalan dengan baik sehingga membuat produksi kedelai cenderung turun. Prof. Dr. Didik Harnowo menyoroti perlunya sentuhan kebijakan eksporimpor, perlu skenario mengurangi impor dan mendorong ekspor kedelai.

Menanggapi hal tersebut Syukur menyampaikan bahwa ternyata inovasi-inovasi yang telah dihasilkan Balitkabi sangat luar biasa. Ke depan diperlukan sosialisasi, provokasi, dan promosi masif hasil penelitian agar dibaca oleh policy maker, diketahui pengusaha /investor. Diseminasi sangat penting, perlu dukungan media cetak, elektronik, dan online secara cepat dan terus menerus. Dorong tulisan di media on line, media cetak nasional, gaungkan melalui press release hasil penelitian Balitkabi, karena pesan akan lebih cepat tersampaikan kepada policy maker. Ketergantungan dana penelitian bersumber dari APBN harus dipikirkan, karena bukan tidak mungkin dana penelitian dari APBN semakin turun, padahal tuntutan keberlanjutan fungsional peneliti harus tetap diperjuangkan. Untuk itu perlu dibangun kerjasama dengan para investor dan pengusaha. Mental reseacher perlu dibangun, jadikan kendala sebagai tantangan baik dana maupun perhatian dari pusat. “Dengan keterbatasan saya yakin kita bisa survive, kata Syukur lebih lanjut dengan tegas.

Menutup acara tersebut, Syukur menyampaikan ide jika Balitkabi berminat mengubah status menjadi Badan Layanan Umum (BLU) dan beliau siap mendampingi proses itu. Dengan status BLU, Balitkabi akan lebih leluasa mengelola keuangan, menjalin kemitraan dengan para pebisnis, dan diharapkan akan tumbuh peneliti-peneliti yang berjiwa entrepreneur. Inilah wawasan sekaligus PR (Pekerjaan Rumah) Balitkabi setelah kunjungan Plt. Kepala Balitbangtan.

dsc_8920

WR/RDP