Berita » Balitkabi Bantu Atasi Serangan Penggerek Batang Kedelai dan Virus di Bojonegoro

1.bojonegoro_g1

Laporan Petani dari Kecamatan Sukosewu dan Kapas yang telah diverifikasi oleh Dinas Pertanian Bojonegoro menunjukkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan polong kedelai mereka yang berumur 1,5-2 bulan tidak normal. Atas permintaan Diperta Bojonegoro, Kepala Balitkabi menugaskan peneliti hama dan tanah, Dr. Ir. Suharsono dan Ir. Abdullah Taufiq, MP untuk melakukan observasi lapangan. Berdasarkan identifikasi, bersama Kelompok Tani, Penyuluh Pertanian dan Diperta pada 29 dan 30 Januari 2015, disimpulkan bahwa tanaman kedelai tersebut terserang penggerek batang (Melanagromyza sojae Zehntner) dan virus. Menurut informasi Diperta Bojonegoro, terdapat 100 ha pertanaman kedelai dari total luas pertanaman kedelai pada MH I (2.600 ha), yang tersebar di berbagai lokasi, pertumbuhan dan perkembangan polongnya tidak normal (Gambar 1). Berdasarkan pengamatan lapang di pertanaman kedelai Kelompok Tani Tunas Muda Desa Kalicilik, Kecamatan Sukosewu (Gambar 2), gejala serangan penggerek batang dan virus itu tampak jelas.

Gambar 1. Kedelai Anjasmoro di Desa Kalicilik, Kecamatan Sukosewu yang terserang virus dan penggerek batang.


Gambar 2. Pengamatan dan diskusi di lapang dengan petani, PPL dan petugas dari Diperta.

Dari pengamatan pada pertanaman seluas 0,15 ha di Desa Kalicilik, Kecamatan Sukosewu milik Bapak Endro (Kelompok Tani Tunas Muda) ditemukan gejala sebagai berikut. 1. Pada varietas Anjasmoro daun hijau dan kuning sedikit belang, keriting dan menebal diduga terserang Aphis, bintil akar cukup banyak, pertumbuhan batang normal, namun pada bagian tertentu terjadi pemenedekan ruas batang. Di sekitar ruas batang banyak ditemukan pertumbuhan daun yang tidak sempurna (kecil dan keriting) seperti serangan “sapu setan”, perkembangan polong tidak sempurna dan tidak bernas (Gambar 3). Menurut petani, pertumbuhan awal sampai berbunga sangat subur yang dicirikan dengan ukuran batang dan daun yang lebih besar. Setelah pada berbunga, daun keriting dan polong yang terbentuk tidak normal. Tanaman yang sangat subur menyebabkan tanaman makin rentan terhadap serangan hama dan penyakit.

Gambar 3. Ruas memendek, daun yang terbentuk berukuran kecil.

2. Di sekitar lahan, banyak tanaman gulma wedusan/kirinyu (Cromolena odorata) yang terserang Aphis (Gambar 4). Tanaman tersebut merupakan inang dari Aphis.

Gambar 4. Tanaman gulma wedusan/kirinyu (Cromolena odorata) yang terserang Aphis yang banyak ditemukan pada pematang di sekitar lahan.

3. Setelah dilakukan pembelahan batang, pada seluruh tanaman contoh terserang lalat/penggerek batang M. sojae (Zehntner) dengan gejala sebagai berikut: pada sepanjang jaringan empulur terdapat bekas gerekan berwarna coklat tua. Panjang gerekan bergantung saat awal dimana lalat mulai melakukan gerekan, dengan arah gerekan menuju batang bagian bawah (geotaxis) (Gambar 5). Pada polong ditemukan bekas isapan yang disebabkan oleh serangan hama penghisap polong yang terjadi pada saat pembentukan polong (Gambar 6).

Gambar 5. Gejala serangan lalat batang M. sojae pada varietas Anjasmoro.


Gambar 6. Perkembangan polong tidak normal, ukuran polong kecil dan dan sebagian besar polong mengekerut,
pembentukan biji dan pengisian biji tidak normal. Pada polong ditemukan bekas isapan.

4. Pengamatan terhadap varietas Wilis dari Program PAT di Kelompok Tani Sidomulyo Desa Ngerancang, Kecamatan Tambakrejo yang dibawa oleh ketua kelompok tani (Bpk Amrullah) ke kantor Diperta (Gambar 7), menunjukkan gejala yang sama: pertumbuhan dan perkembangan polong tidak normal. Setelah dilakukan pengamatan ternyata tanaman terserang lalat batang, namun pertumbuhan daun, dan batang normal. Serangan pada fase ini akan menyebabkan pertumbuhan stagnan dan pengisian polong akan terganggu sehingga diperkirakan hasil tidak maksimal. Dampak serangan lalat batang ini dapat menurunkan hasil sampai 40-89% bergantung fase pertumbuhan tanaman.

Gambar 7. Dr. Suharsono sedang menjelaskan penyebab pertumbuhan kedelai yang tidak normal kepada ketua kelompok tani Sidomulyo,
Kabid produksi, koordinator PPL, dan PPL di kantor Diperta Bojonegoro.

Saran-saran untuk mengatasi masalah tersebut adalah sebagai berikut. 1. Mengganti varietas selain varieta Anjasmoro, misalnya Argomulyo yang relatif toleran. Sebenarnya petani pada Kelompok Tani Tani Tunas Muda Desa Kalicilik, Kecamatan Sukosewu lebih suka dan sudah 5 tahun menanam varietas Argomulyo. Mereka menanam Anjasmoro karena tidak tersedia benih varietas Argomulyo (Gambar 8).

< img src="http://balitkabi.litbang.pertanian.go.id/wp-content/uploads/2015/02/1.bojonegoro_g8-1.gif" mce_src="http://balitkabi.litbang.pertanian.go.id/wp-content/uploads/2015/02/1.bojonegoro_g8-1.gif" border="0">

Gambar 8. Varietas Argomulyo (kiri), dan Anjasmoro (kanan). Argomulyo tidak terserang virus,
terserang penggerek batang tetapi masih tumbuh normal, polong normal. 2. Untuk daerah endemis lalat batang. Lalat dewasa berukuran kecil dan sering tersembunyi di kanopi dan serangan larva di dalam batang maka pengendalian dianjurkan saat tanam melakukan seed treatment dengan insektisida berbahan aktif lambasihalotrin, atau aplikasi ke tanah dengan insektisida berbahan aktif Carbofuran, dan penyemprotan pada umur 4-5 minggu setelah tanam dengan insektisida sistemik. 3. Membersihkan tanaman inang Aphis dan kutu kebul di sekitar lahan, salah satunya kirinyu/wedusan (Cromolena odorata). Perlu diketahui bahwa lalat batang mempunyai beberapa tanaman inang tanaman kacang-kacangan selain kedelai, yaitu : Astragalus sinicus (pakan ternak), Cajanus cajan (gude), Crotalaria juncea (orok-orok), Medicago sativa (lucerne), Phaseolus vulgaris (kacang jogo), Pisum sativum (ercis), Vigna angularis (kacang coklat), Vigna mungo (keratok), Vigna radiata (kacang hijau), Vigna sinensis sp. (kacang tunggak), Vigna unguiculata (kacang beras). 5. Mengurangi penggunaan pupuk organik dan pupuk kimia yang mengandung nitrogen (N) dan meningkatkan penggunaan pupuk SP36. Keragaan tanaman juga menunjukkan gejala kelebihan N dan kekurangan P (N dan P tidak seimbang) yang ditandai pertumbuhan batang dan daun yang subur, banyak bunga terbentuk tetapi tidak berkembang menjadi polong (Gambar 9).

Gambar 9. Tanaman yang menunjukkan salah satu gejala kekurangan fosfor (P). Pertumbuhan batang dan daun yang subur,
banyak bunga terbentuk tetapi tidak berkembang menjadi polong. Suharsono dan A. Taufiq/AW