Berita » Balitkabi Mendorong Sulawesi Selatan Menjadi Produsen Benih Kedelai

1-few-3

Kedelai sebagai salah satu komoditas pangan penting di Indonesia. Hingga kini sekitar 60% dari kebutuhannya masih dipenuhi dari impor. Dari pertimbangan ketahanan pangan nasional hal yang demikian tidak dikehendaki, oleh karenanya pemerintah telah dan terus berupaya meningkatkan produksi kedelai dalam negeri melalui dua upaya pokok yakni perluasan areal tanam dan peningkatan produktivitas pertanaman. Untuk keberhasilan upaya tersebut diperlukan dukungan dalam berbagai hal, salah satu dan yang paling menentukan adalah ketersediaan benih bermutu varietas unggul yang sesuai, dalam jumlah cukup dan tersedia tepat waktu. Oleh kerena itu penyediaan benih kedelai harus dipikirkan oleh berbagai pihak yang terkait.

Kebutuhan dan Sumber Benih

Produksi kedelai nasional untuk mencapai tataran swasembada kedelai pada tahun 2014 harus sebesar sekitar 2,8 juta ton. Jika  produktivitas dapat ditingkatkan dari yang sekarang 1,3 t/ha menjadi 1,5 t/ha, maka harus diupayakan menanam untuk memperoleh areal panen sekitar 2,0 juta hektar. Berdasar pada angka luas tanam/panen tersebut, maka diperlukan benih kedelai (kelas benih sebar) sebanyak sekitar 90.000 ton; suatu jumlah yang banyak, sehingga menuntut perencanaan yang matang dan kerja yang sungguh-sungguh dari pihak-pihak yang terkait. Di antara pihak tersebut adalah para penangkar atau produksen benih, baik benih sebar (extension seed), benih pokok (stock seed), benih dasar (foundation seed), dan benih penjenis (breeder seed). Berdasarkan peraturan, benih penjenis (breeder seed) harus diproduksi dengan pengawasan dari pemulia varietas unggul, sedangkan untuk benih-benih kelas di bawahnya diproduksi oleh Balai Benih dan beragam penangkar, disesuaikan dengan tingkat kemampuannya. Semakin tinggi tingkat kelas benih menuntut penangkar yang semakin tinggi pula tingkat kemampuan/profesionalismenya.

Sulawesi Selatan menjadi Sumber Benih Kedelai Potensial

Dari pertimbangan ketersediaan lahan, kondisi iklim, dan kemampuan petani/kelompok tani, Provinsi Sulawesi Selatan dapat dijadikan sebagai penghasil benih kedelai yang sangat potensial, di samping provinsi lain di antaranya Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dari pertimbangan iklim, Sulawesi Selatan mempunyai kelebihan dibandingkan dengan provinsi lain pada umumnya. Berdasarkan sebaran iklimnya, wilayah provinsi Sulawesi Selatan dipilah menjadi tiga sektor, yakni: (a) Sektor Barat, (b) Sektor Timur, dan (c) Sektor Peralihan. Wilayah Sektor Barat musim hujannya berlangsung antara Oktober/November – Juni/Juli, dan musim kemarau antara Juli/Agustus – September/Oktober. Wilayah Sektor Timur, kondisi iklimnya berkebalikan dengan Sektor Barat, apabila Sektor Barat memasuki musim hujan, maka Sektor Timur memasuki musim kemarau; demikian juga, jika Sektor Barat musim kemarau maka Sektor Timur musim hujan.  Bagi Wilayah Sekor Peralihan, waktu penyebaran musim hujan dan kemaraunya kurang-lebih di antara kondisi Sektor Barat dan Sektor Timur. Karena kondisi iklimnya yang khas seperti itu, maka provinsi Sulawesi Selatan akan dapat memproduksi benih kedelai yang berkualitas untuk memenuhi jadwal tanam kedelai sepanjang tahun di Indonesia.

Balitkabi dan BPTP Membina Penangkar Benih di Sulawesi Selatan

Mempertimbangan potensi Sulawesi Selatan yang besar sebagai produsen benih kedelai yang berkualitas, maka Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) dan BPTP-Sulawesi Selatan memandang penting untuk melakukan pembinaan petani/kelompok tani sebagai penangkar benih kedelai, dan telah  melakukan kegiatan mulai tahun 2012. Diawali survei kecil guna melihat potensi (wilayah, sosial, pasar) dan pemilihan penangkar (petani/kelompok), Balitkabi dan BPTP membina petani/kelompok tani untuk menangkarkan benih kedelai di Desa Jenetea, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros. Varietas kedelai yang ditangkarkan adalah Varietas unggul Grobogan dan Anjasmoro, berturut-turut seluas 2,0 ha dan 1,0 ha (sebagai langkah awal). Penentuan varietas didasarkan pada pilihan petani/kelompok tani sendiri setelah ikut menyaksikan dan mengevaluasi keragaan 10 varietas unggul yang ditanam/disosialisasikan di kebun percobaan Balitsereal di Maros. Pada saat ini ditanam benih kelas benih dasar (foundation seed), sehingga nanti akan menghasilkan benih kelas benih pokok (stock seed); dengan perkiraan hasil minimal 2,5 ton benih varietas Grobogan (potensi hasil biji 3,4 t/ha, biji besar, umur panen 74-76 hari) dan 1,5 ton varietas Anjasmoro (potensi hasil biji 3,2 t/ha, biji besar, umur panen 83-85 hari). Benih kelas benih pokok tersebut selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai benih penangkaran kedelai oleh para penangkar untuk memproduksi benih kelas benih sebar (extension seed). Kualitas pembinaan yang baik dan semangat petani yang tinggi, berujung dapat diperoleh pertumbuhan tanaman yang sangat memuaskan (Gambar 1). Pada saat peninjauan pada tanggal 12 September 2012, varietas Grobogan telah membentuk polong, sedangkan varietas Anjasmoro pada fase berbunga (Gambar 2). Petani dibina tidak hanya terbatas pada cara berbudidaya (menyiapkan lahan, menanam, memupuk, mengairi, menyiang, dan mengendalikan hama/penyakit) melain juga meliputi cara mengenal dan memurnikan varietas, panen dan prosesing, serta administrasi dan pemasaran benihnya. Diperkirakan panen terlaksanan pada minggu pertama Oktober untuk varietas Grobogan dan minggu kedua Oktober bagi varietas Anjasmoro; dan dengan demikian benih tersedia pada bulan November 2012.

Kegiatan roguing juga diajarkan ke petani.

Hamparan pertanaman perbanyakan benih SS varietas Grobogan dan Anjasmoro.

Varietas Anjasmoro                                                            
                    Varietas Grobogan