Berita » Balitkabi Jalin Kerjasama dengan PT Monsanto

monsanto-2

Pada tanggal 17 Februari 2012, Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian menerima tamu Direktur PT Monsanto Jakarta yang diwakili oleh Ir Redy Fajar Kurniawan. Kedatangan perwakilan PT Monsanto ke Balitkabi sehubungan dengan tindak lanjut kerjasama yang akan dilakukan pada awal tahun ini dengan Balitkabi. Kerjasama ini berkaitan dengan PT Monsanto telah menghasilkan tanaman jagung transgenik (PRG stacked MON89034 x NK603). Jagung PRG Bt MON89034 x NK603 mengandung gen Cry1A.105 dan Cry2Ab2 yang berasal dari Bacillus thuringiensis yang memproduksi protein Cry1A.105 dan Cry2Ab2, bertanggung jawab dalam ketahanan terhadap serangga penggerek batang jagung Ostrinia furnacalis. Sementara itu, gen CP4 EPSPS untuk toleran terhadap glifosat. Protein Cry1A.105 merupakan protein khimerik yang terdiri atas domain I dan II Cry1Ac atau Cry1Ab, domain III Cry1F dan domain C-terminal Cry1Ac. Identitas sekuen asam amino keseluruhan protein Cry1A.105 terhadap Cry1Ab dan Cry1F masing-masing sebesar 93,6% dan 90% serta 76,7%.

Protein Cry1A105 memiliki efektivitas sebagai insektisida setelah termakan (ingestion) oleh serangga Lepidoptera yang sensitif terhadap protein Cry tersebut. Protein Cry2Ab2 yang dihasilkan dalam jagung MON89034 x NK603 diturunkan dari Bt subspecies kurstaki dan sekuen asam aminonya berbeda dari sekuen yang ada pada protein tipe liar dengan satu asam amino tunggal. Protein Cr2Ab2 memiliki identitas sekuen asam amino 88% terhadap protein Cry2Aa yang ada pada berbagai produk pengendalian  hama yang berbahan akrif mikrobia yang ada di pasaran seperti Dipel dan Crymax. Protein Cry2Ab2 yang dihasilkan pada MON89034 x NK603 sama dengan  pada kapas Bollgard II yang memiliki sekuen asam amino yang identik. Kapas Bollgard II sudah ada di pasaran sejak tahun 2003 dan sejauh ini tidak ada laporan mengenai  dampak yang merugikan terhadap kesehatan manusia dan hewan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa gen Bt aman terhadap organisme non-target. Hal ini ditunjukkan dari paparan protein Cry1A.105 dan Cry2Ab2 memiliki resiko minimal terhadap organisme tanah dan  beberapa spesies decomposer, yaitu  cacing tanah dan Collembola.  Hasil peneletian lain menunjukkan bahwa paparan protein Cry1A.105 dan Cry2Ab2 tidak berdampak negatif terhadap kelangsungan serangga non target  di lapangan meliputi; lebah madu (Apis melifera L.), Collembola, Falsomia candida, predator Orius sp., O. insidiosus, kepik (Coleomegilla maculata) dan parasitoid  (Ichneumon promissorius).

Tanaman jagung PRG stacked MON89034 x NK603 yang dihasilkan oleh Monsanto juga mengandung sifat toleran glifosat yang memiliki gen CP4 EPSPS dari Agrobacterium tumefaciens strain CP4.  Pada tanaman konvensional, glifosat menghambat aktivitas dari enzim EPSPS tanaman dan menghentikan proses biosintesa dari asam aromatik yang dapat menyebabkan tanaman  berhenti tumbuh kemudian mati.  Pada tanaman jagung PRG stacked MON8934 x NK603, proses biosintesa yang penting tersebut dapat berlangsung karena adanya enzim CP4 ESPS yang toleran terhadap glifosat.  Jagung PRG stacked MON89034 x NK603 mengandung dua sifat ketahanan, yaitu terhadap serangga penggerek batang dan toleran terhadap glifosat yang disatukan melalui proses pemuliaan tradisional dengan persilangan dari tetuanya. Oleh karena itu, dengan menanam jagung PRG tersebut akan memberikan keuntungan lebih dalam  pengendalian gulma dan hama utama penggerek batang sehingga sangat cocok untuk sistem konservasi.

Penggunaan gen dari berbagai sumber dengan teknik rekayasa genetik ini dikawatirkan akan menimbulkan polemik dan dampak negatif bagi keamanan lingkungan. Kekhawatiran kemanan lingkungan tersebut dapat berupa potensi tanaman PRG menjadi gulma atau terjadinya hama super, bahkan perpindahan gen asing dari tanaman PRG ke tanaman non-PRG atau kerabat liarnya. Oleh karena itu, penelitian secara bertahap di fasilitas uji terbatas (FUT) hingga ke lapangan uji terbatas (LUT) perlu dilakukan. Hal ini disebabkan Keamanan hayati dan keamanan pangan telah dikukuhkan oleh Keputusan Bersama Empat Menteri pada tahun 1999 (Menteri Pertanian, Menteri Kehutanan dan Perkebunan, Menteri Kesehatan dan Menteri Negara Pangan dan Hortikultura) dengan No.998.11/Kpts –IX/1999;1145a/MENKES/SKB/IX/1999; 015A/NmenegPHOR/09/1999. Dengan demikian kajian penelitian ini harus dilakukan oleh lembaga/institusi yang berkompeten, dan Balitkabi merupakan salah satu lembaga yang ditunjuk dan dipercaya untuk melakukan itu.

Kesepakatan kedua belah pihak tentang kerjasama sudah diterima dan rencana pelaksanaan penelitian tersebut dilakukan di kebun percobaan (KP) Muneng yang biasanya tiap tahun terjadi peledakan hama maupun penyakit sehingga dari kelimpahan athropoda akan terjamin. Oleh karena itu, perwakilan PT Monsanto juga melakukan survei lokasi ke Muneng (Probolinggo) untuk meninjau kondisi lahan yang akan digunakan (Gambar 1).

Gambar 1. Diskusi antara PT Monsanto (Ir Redi Fajar Kurniawan & Staf Agronomis wilayah Jawa Timur) dengan Kepala KP Muneng mengenai pemilihan lahan untuk penelitian organisme non-target jagung PRG.

Kerjasama PT Monsanto dengan Balitkabi ini bertujuan untuk melakukan penelitian kelimpahan keanekaragaman arthropoda di lahan jagung PRG pada uji terbatas (LUT), mempelajari kelimpahan populasi parasitoid telur O. furnacalis pada tanaman jagung PRG di LUT, mempelajari kelimpahan populasi predator yang hadir pada lahan jagung PRG di LUT serta mengetahui kesepadanan agronomis tanaman jagung PRG stacked (MON89034 x NK603) dalam kondisi LUT. Oleh karena itu, Dr Yusmani Prayogo yang merupakan staf peneliti Entomologi di Balitkabi memberikan arahan tentang prosedur dan langkah-langkah persyaratan dalam melakukan kajian untuk mengamati kelimpahan arthropoda di lapangan (Gambar 2).  Dengan paparan yang cukup detail yang disampaikan Pak Yus maka  Pak  Redi (Monsanto) bergegas langsung mengajak ke lapangan dan memilih lahan yang sesuai untuk penempatan penelitian jagung PRG. Hal ini disebabkan keberadaan tanaman tersebut harus dalam keadaan keamanan (safety) yang tinggi dari jangkauan orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan semua pekerja yang boleh masuk dalam area penelitian cukup terbatas dan harus diidentifikasi.  Selain itu, tanaman jagung PRG harus ditanam di lokasi yang memiliki kriteria antara lain, jarak minimal 300 m dari tanaman jagung lain untuk menghindari polinasi bebas, di sekitar lahan di luar border harus ada pagar yang membatasi tanaman jagung PRG dengan tanaman lain, setiap pekerja yang masuk harus didata dan tidak sembarang orang serta pagar dalam keadaan terkunci. Dengan demikian, lahan yang sesuai dan dipilih untuk penempatan kajian jagung PRG adalah di KP Kendalpayak yang keadaan lahannya sangat strategis  dan relative aman (Gambar 3).

Gambar 2. Dr Yusmani Prayogo (kanan) sedang memaparkan tahapan dalam penelitian kelimpahan arthropoda di lahan untuk jagung PRG kepada  Ir Redi Fajar (Kiri) dan Ir Wisnu Unjoyo (tengah) Kepala KP Muneng.

Gambar 3. Lahan di KP Kendalpayak yang dipilih sebagai lokasi penanaman jagung PRG

Yus/Win