Berita » Balitkabi Perjuangkan Kesejahteraan Petani dengan Senjata Inovasi

dsc_7527

Membuka lembaran baru di tahun 2019, tanggal 2 Januari 2019 Balitkabi mengumpulkan seluruh ASN-nya di Aula Balitkabi termasuk semua ASN di lima Kebun Percobaan. Pertemuan dengan tema “ASN Balitbangtan Pejuang Kesejahteraan Petani Bersenjata Inovasi, Berjiwa Humaniora” diawali dengan menyanyikan Mars WBK dan Mars SPI. “Marilah kita bersatu padu menyiapkan diri bekerja sebaik mungkin, jangan sampai ada dusta di antara kita,” kata Dr. Rudi Iswanto selaku Kasi Yantek dalam membuka acara. Kita harus bekerja sesuai dengan tupoksi masing-masing dan meminimalisir hal-hal negatif sehingga tahun 2019 bisa lebih baik dan semua bisa ditanggung bersama, saling bergandeng tangan sehingga program Kementan bisa terwujud.

dsc_7560Kepala Balitkabi Dr. Yuliantoro Baliadi menyampaikan banyak hal untuk membangkitkan semangat ASN di lingkup Balitkabi dalam melaksanakan tugas masing-masing. Yuliantoro menyampaikan bahwa Menteri Pertanian Dr Andi Amran Sulaiman untuk tahun 2019 ini menyampaikan salam Kementan yaitu “Majulah Petani Indonesia untuk Kemajuan Pertanian Indonesia”. Hampir 85% anggaran Kementan diberikan untuk petani. “Agama saja memberikan apresiasi bahkan insentif bagi dunia pertanian. Petani dan pertanian adalah pekerjaan yang sangat mulia,” kata Yuliantoro.

Dosa besar bagi peneliti jika menelantarkan petani dan menyebabkan rakyat Indonesia krisis pangan,” ungkap Yuliantoro lebih lanjut. Bagaimana kita mau sejahtera jika urusan pangan kita belum bisa menyelesaikan. Pada tahun 2050 diperlukan peningkatan pangan 70% dari kondisi sekarang, padahal luas lahan pertanian tidak bertambah. Inovasi adalah jawabannya untuk menyelesaikan masalah pangan. “Kita harus optimis dari sekarang yaitu dengan inovasi yang akan memberikan optimisme luar biasa, yaitu dengan inovasi dapat meningkatkan produktivitas tanaman dan peningkatan intensitas tanaman,” kata Yuliantoro dengan penuh semangat.

dsc_7578 dsc_7622Kementerian lain sasaran pembangunan sudah mencapai tingkat desa, sedangkan Kementerian Pertanian masih tingkat kecamatan. Sehingga Kementan membangun sinergi dengan kementerian lain untuk bekerja di satu lokus. Pembangunan saat ini berbasis membangun daerah pinggiran dengan senjata inovasi di mana Balitkabi terlibat di dalamnya. Hal tersebut memerlukan sifat humaniora, yang mengandung banyak unsur seperti sastra, teknologi, sosial, ekonomi, hukum, berbasiskan semangat agar kita tidak mudah menyerah. “Dan yang terpenting, dalam membangun dunia pertanian, kita jangan lupa untuk menyiapkan amunisinya,” kata Yuliantoro menutup arahannya.

KN