Berita » Balitkabi Tambah Satu Profesor

Sambutan Menteri Pertanian pada acara orasi Profesor Riset Balitbangtan.

Sambutan Menteri Pertanian pada acara orasi Profesor Riset Balitbangtan.

Prof. Dr. Ir. Sholihin, M.Sc. dari Balitkabi merupakan salah satu dari tiga Profesor Riset yang dalam orasi pengukuhannya dihadiri oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia Dr. Syahrul Yasin Limpo (SYL) serta Kepala Balitbangtan Dr. Fadjry Djufry di Auditorium Sadikin Sumintawikarta kompleks pertanian Cimanggu Bogor, pada Selasa, 29 Oktober 2019. Orasi Profesor Riset ini dilaksanakan Majelis Profesor Riset Kementerian Pertanian di depan tamu undangan sekitar 500 orang yang berasal dari kementerian Pertanian, LIPI, Badan Litbang Kementerian Lembaga, Perguruan Tinggi dan Pejabat daerah lainnya.

Ketiga profesor riset yang dikukuhkan menyampaikan orasi dengan judul orasi sebagai berikut: (1) Prof. Riset Dr. Ir. Ali Asgar, M.P. (Bidang Teknologi Pascapanen) dengan judul “Inovasi Teknologi Pascapanen Kentang untuk Pengembangan Agroindustri”, (2) Prof. Riset Dr. Ir. Sholihin, M.Sc. (Bidang Pemuliaan dan Genetika Tanaman) menyampaikan judul “Inovasi Varietas Unggul Ubi Kayu sebagai Kunci mendukung Keberlanjutan dan Peningkatan Daya Saing Agroindustri”, dan (3) Prof Riset Dr. Ir. Sukarman, M.S. (Bidang Pedologi dan Penginderaan Jarak Jauh) menyampaikan judul orasi “Akselerasi Inovasi Pedologi dalam Optimalisasi Penggunaan Tanah Vulkanik mendukung Pembangunan Pertanian Berkelanjutan”. Secara nasional, mereka adalah Profesor Riset yang ke-523, 524, dan 525, dan merupakan Profesor Riset ke-139, 140 dan 141 di Balitbangtan, Kementerian Pertanian.

Dengan dikukuhkannya Dr. Ir. Sholihin, M.Sc. menjadi Profesor Riset, maka di Balitkabi telah bertambah peta kekuatan SDM penelitian dan pengembangan aneka kacang dan umbi menjadi empat Profesor Riset. Sebelumnya Balitkabi telah memiliki tiga Profesor Riset yaitu : Prof.Dr. Arief Harsono, Prof. Dr. I Made Jana Mejaya dan Prof.Dr. Didik Harnowo.

Disampaikan oleh Kepala Balitbangtan Dr. Fadjry Djufry, bahwa tantangan yang diberikan kepada Prof Dr. Ali Asgar, M.P. untuk menyusun rencana operasional yang memuat langkah-langkah praktis dan terukur dalam implementasi skala luas. Sementara itu, tantangan yang diberikan kepada Prof. Dr. Ir. Sholihin untuk dapat menyusun rancangan program agar varietas-varietas ubi kayu yang telah dirilisnya segera dapat diadopsi oleh petani secara luas. Sedangkan Prof. Dr. Sukarman diberi tantangan untuk terus merumuskan langkah-langkah praktis dalam mengidentifikasi potensi sumber daya lahan yang diperlukan dalam program pengembangan komoditas pertanian strategis, selain itu diminta untuk merumuskan road map penelitian lanjutan tentang pedologi tanah vulkanik.

Mentan Syahrul Yasin Limpo memberi apresiasi yang cukup tinggi kepada ketiga Profesor Riset. Mentan SYL mengatakan riset dan teknologi sangat penting dan tentu akan memberikan kontribusi kuat untuk hadirnya petani menghasilkan pangan berkualitas. Lebih lanjut Mentan menilai momen pengukuhan ini bertepatan dengan dua momentum yang sangat strategis. Pertama, saat ini berada pada tahap awal masa bakti Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024. Hasil riset akan menjadi bagian yang harus diimplementasikan atau dicoba seluruh jajaran Kementan. Momentum kedua, lanjutnya, Presiden Jokowi telah menandatangani UU Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Sisnas Iptek) pada 13 Agustus 2019, disertai pula dengan terbentuknya Kementerian Riset/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Pembentukan BRIN bertujuan memperkuat koordinasi dan sinkronisasi kebijakan dan program penelitian nasional, termasuk bidang pertanian. Badan Litbang Pertanian, sambungnya, tentu tidak akan terlepas dari perubahan kebijakan tersebut. Para peneliti memiliki masa pensiun yang lebih panjang, yakni dari 60 tahun menjadi 65 tahun untuk Peneliti Ahli Madya dan dari 65 tahun menjadi 70 tahun untuk Peneliti Ahli Utama. Dengan begitu para professor mempunyai waktu yang panjang untuk menghasilkan inovasi-inovasi teknologi baru untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk Indonesia yang mencapai 267 juta jiwa.

Prof. Riset Dr. Ir. Sholihin, M.Sc. beserta keluarga didampingi Mentan SYL dan Ka Balitbangtan Dr. Fadjry Djufry setelah dikukuhkan (Kontributor foto: Ka Balitkabi).

Prof. Riset Dr. Ir. Sholihin, M.Sc. beserta keluarga didampingi Mentan SYL dan Ka Balitbangtan Dr. Fadjry Djufry setelah dikukuhkan (Kontributor foto: Ka Balitkabi).

Prof. Riset Dr. Ir. Sholihin, M.Sc. telah menghasilkan beberapa jenis varietas unggul ubi kayu yaitu UK1 Agritan dan Litbang UK2, serta klon harapan OMR 51-20-5. Litbang UK2 merupakan varietas unggul yang dilepas Kementan pada tahun 2012, cocok sebagai bahan baku industri etanol dan bahan baku industri pati. UK1 Agritan merupakan varietas unggul ubi kayu umur genjah yang telah dilepas Kementan pada tahun 2016. Kedua varietas tersebut memiliki nilai kontribusi ekonomi yang cukup tinggi.

Sementara itu, OMR 51-2-5 merupakan klon harapan yang dapat dipanen pada umur 7 bulan, hasilnya lebih tinggi 31% dibanding UJ3. Kadar pati OMR 51-20-5 lebih tinggi dari UJ3 dan UJ5. Klon harapan ini berpeluang besar dilepas sebagai varietas unggul baru guna memenuhi industri keripik singkong karena memiliki warna umbi putih dan rasa tidak pahit. Di akhir paparan orasinya, Prof. Dr. Ir. Sholihin, M.Sc. menegaskan bahwa komoditas ubi kayu di masa datang akan menjadi salah satu sumber pangan potensial untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk Indonesia yang terus meningkat.
YP