Berita » Berkat Varietas Dega 1, Dena 1, dan Grobogan, Produktivitas Kedelai di Kabupaten Nganjuk Meningkat

Kabupaten Nganjuk merupakan salah satu dari lima sentra kedelai di Jawa Timur dengan luas sekitar 9.300 ha. Produktivitas kedelai di Nganjuk, sekitar 2 t/ha, adalah tertinggi ke-2 setelah Kabupaten Jember (Gambar 1). Sentra kedelai di Nganjuk terutama terdapat di empat wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Rejoso, Loceret, Gondang, dan Bagor (Gambar 2).

Gambar 1. Sebaran sentra produksi dan produktivitas kedelai di Jawa Timur (diolah dari data BPS Jawa Timur, 2015).

Gambar 1. Sebaran sentra produksi dan produktivitas kedelai di Jawa Timur (diolah dari data BPS Jawa Timur, 2015).

Gambar 2. Sebaran wilayah sentra produksi kedelai di Kab. Nganjuk (diolah dari data BPS Nganjuk, 2015).

Gambar 2. Sebaran wilayah sentra produksi kedelai di Kab. Nganjuk (diolah dari data BPS Nganjuk, 2015).

Di Kabupaten Nganjuk terdapat tiga musim tanam kedelai, yaitu 1) awal musim hujan pada lahan kering dan lahan di kawasan hutan, 2) MK I (tanam bulan Februari/Maret) pada lahan sawah dengan pola tanam padi-kedelai-bawang merah, dan 3) MK 2 pada lahan sawah (tanam bulan Juni/Juli) dengan pola tanam padi-padi-kedelai. Varietas kedelai yang banyak ditanam adalah Wilis dan Anjasmoro (petani menyebut varietas Surya) dengan umur panen 90-95 hari.

Penamaan varietas Surya oleh petani, tidak lepas dari asal-usul varietas Anjasmoro, yaitu berasal dari introduksi kedelai asal Mansuria (dengan logat petani menjadi Surya) dan setelah melalui proses pemuliaan dilepas dengan nama Anjasmoro pada tahun 2001. Petani yang menanam varietas Wilis, sudah banyak yang beralih ke Anjasmoro karena produktivitasnya lebih tinggi.

Bawang merah merupakan komoditas andalan di Nganjuk, dan merupakan penghasilan utama bagi petani. Petani yang menanam kedelai pada MK I dalam pola tanam padi-kedelai-bawang merah, menginginkan kedelai yang berbiji besar dan berumur genjah agar intensitas penanaman bawang merah bisa ditingkatkan, dengan hasil kedelai yang tetap tinggi.

Bila petani menanam kedelai varietas Wilis dan Anjasmoro, mereka menanam bawang merah maksimal dua kali (dipanen pada umur optimal). Dengan menanam varietas kedelai yang dapat dipanen pada umur <80 hari, maka menurut perhitungan petani akan bisa menanam bawang merah tiga kali. Pada MK 1 tahun 2016, Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) melakukan demplot varietas unggul kedelai di Dusun Jatikampir, Desa Banaran Wetan, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk.

Kegiatan dilaksanakan bekerjasama dengan 7 petani kooperator dari Kelompok Tani Ngudi Mulyo seluas 1,5 ha. Varietas unggul kedelai yang ditanam adalah yang berumur genjah, terdiri atas varietas Grobogan, Dega 1, dan Argomulyo (berbiji besar), serta kedelai berbiji sedang yang terdiri atas varietas Gema, Dena 1, Dena 2, serta calon varietas unggul (GH Genangan 10).

Kedelai ditanam dengan cara dilarik (tanpa tugal) dengan jarak antar larikan 50 cm dan dalam larikan 15 cm, 2 tanaman/rumpun. Dosis dan macam pupuk yang digunakan adalah: Petroganik dosis 600 kg/ha + 100 kg SP36 diberikan sebelum tanam dengan cara disebar. Pupuk susulan mengunakan 150 kg Phonska/ha disebar saat tanaman berumur 15-20 hari. Keragaan pertanaman sangat bagus (Gambar 3).

Varietas Dega 1

Varietas Dega 1

Varietas Dena 1

Varietas Dena 1

 Varietas Grobogan

Varietas Grobogan

Dari keragaan hasil (Tabel 1), ada tiga varietas yang memenuhi keinginan petani (berbiji besar, bisa dipanen <80 hari, produksi tinggi), yaitu varietas Dega 1, Dena 1, Argomulyo, dan Grobogan.

Menurut ketua kelompok tani Ngudi Mulyo (Bpk Subono), varietas Anjasmoro yang biasa ditanam pada kondisi pertumbuhan tanaman yang baik menghasilkan rata-rata 1,85 t/ha (kadar air rata-rata 14,1%) atau 1,81 t/ha (kadar air 12%).

Dengan demikian, penggunaan varietas unggul Dega 1, Dena 1, Argomulyo, dan Grobogan akan meningkatkan hasil kedelai 0,40-0,53 t/ha. Selain hasil kedelai dapat ditingkatkan, petani juga berpeluang meningkatkan intensitas menanam bawang merah dari 2 kali menjadi 3 kali, yang berarti berpeluang meningkatkan pendapatan usaha taninya.

Tabel 1. Hasil kedelai kegiatan Geltek pada lahan sawah di Dusun Jatikampir, Desa Banaran Wetan, Kec. Bagor, Kab. Nganjuk pada MK1 2016.

Varietas

Tanggal tanam

Tanggal panen

Umur saat dipanen (hari)

Hasil biji (t/ha)

Kadar air biji (%)1)

Hasil biji kadar air 12% (t/ha)

Grobogan

25-2-2016

10-Mei-16

75

2,35

14,6

2,28

Dega 1

25-2-2016

10-Mei-16

75

2,42

13,9

2,36

Argomulyo

25-2-2016

13-Mei-16

78

2,33

13,2

2,30

Dena 1

25-2-2016

10-Mei-16

75

2,42

13,2

2,38

Dena 2

25-2-2016

15-Mei-16

80

1,17

13,8

1,14

Gema

25-2-2016

09-Mei-16

74

1,92

12,1

1,91

Genangan 10

25-2-2016

09-Mei-16

74

2,20

13,7

2,15

1)kadar air saat penimbangan hasil, diukur dengan seed moisture tester.

AT