Berita ยป Bimbingan Teknis Budidaya Porang dengan PT. SBS

Minat masyarakat terhadap tanaman porang semakin meluas. Walaupun sebenarnya tanaman ini sudah lama dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia, akhir-akhir ini minat untuk menanam tanaman umbi-umbian ini makin meningkat. Hal ini karena tanaman porang memiliki harga jual yang cukup tinggi, sehingga memberikan keuntungan cukup besar kepada petani. Nilai ekonomis umbi ini terletak pada kandungan glukomanan yang sangat baik untuk kesehatan, antara lain sebagai sumber serat bagi tubuh, menurunkan kadar kolesterol dan gula darah, mengobati diabetes, dan lain sebagainya.

Seluk beluk budidaya tanaman porang menarik minat PT. Sumbawa Bangkit Sejahtera (PT. SBS) untuk menggali informasi lebih dalam dari Balitkabi. PT. SBS merupakan perusahaan yang berlokasi di Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Perusahaan ini bergerak dalam pengembangan tanaman sisal (Agave sisalana) di Sumbawa sejak tahun 2014, dan saat ini mulai mengembangkan tanaman porang. Bimbingan Teknis (Bimtek) budidaya porang yang dilakukan secara virtual pada Kamis, 21 Januari 2021. Membuka acara Bimtek, Kepala Balitkabi, Dr. Ir. Titik Sundari, M.P., menyambut baik program pengembangan tanaman porang oleh PT.SBS, dan Balitbangtan melalui Balitkabi siap untuk memberikan pendampingan dari sisi teknologinya.

Peserta Bimtek dari PT. SBS adalah Bapak Boedi Susanto, selaku penanggung jawab kebun beserta empat orang lainnya. Pemaparan teknologi budidaya porang dari Balitkabi disampaikan oleh Sutrisno, SP. Pada kesempatan tersebut Sutrisno menjelaskan, memang tanaman porang di wilayah Indonesia cukup beragam. Dalam budidaya tanaman porang, bahan tanam atau benih dapat berasal dari biji, umbi katak atau bulbil, umbi porang kecil maupun bibit dari kultur jaringan. Jika menanam porang berawal dari umbi katak atau bulbil, sedikitnya dibutuhkan waktu tiga tahun untuk bisa menghasilkan umbi yang dapat dijual ke pabrik. Pada usia ini ukuran umbi sudah memenuhi standar pabrik, yang berarti bahwa kualitas glukomanan dalam umbi sudah memenuhi standar.

Ukuran bahan tanam dan kesuburan lahan serta proses perawatan akan mempengaruhi ukuran umbi yang dihasilkan. Rata-rata bobot umbi yang diperoleh pada tahun ketiga berkisar antara 2 hingga 3 kg. Mengakhiri Bimtek budidaya porang, Sutrisno menyampaikan bahwa kunci sukses budidaya porang adalah drainase yang baik, tanah yang gembur dan subur.

Kepala Balitkabi, Dr. Ir. Titik Sundari, M.P. membuka kegiatan Bimtek

Kepala Balitkabi, Dr. Ir. Titik Sundari, M.P. membuka kegiatan Bimtek

Peserta Bimtek dari PT. Sumbawa Bangkit Sejahtera (SBS)

Peserta Bimtek dari PT. Sumbawa Bangkit Sejahtera (SBS)

AA/STR