Berita » Bimtek Padat Karya Upayakan Peningkatan Hasil dan Mutu Kedelai Petani Tapan Rejo

Setelah Pasuruan, acara Sambang Petani kedelai dilanjutkan ke Kabupaten Banyuwangi pada tanggal 19 Maret 2021, tepatnya di Desa Tapan Rejo, Kecamatan Muncar. Acara Bimtek dihadiri oleh Kepala Desa Tapan Rejo (Bapak Sulaiman), Kepala BPP Kecamatan Muncar (Ibu Eva), Babinsa, Babin Kamtibmas, dan lima Kelompok Tani (Poktan) di Desa Tapan Rejo (Poktan Sido Mulyo, Poktan Dewi Ratih, Poktan Sido Makmur, Poktan Tani Makmur, dan Poktan Beringin). Balitkabi diwakili oleh Sub Koordinator Substansi Jasa Penelitian (B.S. Koentjoro, S.P., M.Kom.) dan pemateri dari UPBS (Dr. Kartika Noerwijati dan Agus Supeno, A.Md.). Jumlah peserta Bimtek mencapai 95 orang.

Jawa Timur merupakan sentra produksi kedelai tertinggi di Indonesia, dan Kabupaten Banyuwangi adalah Kabupaten dengan produksi kedelai tertinggi di Jawa Timur, sehingga tidak salah jika banyak produsen benih yang mengincar Banyuwangi dalam memproduksi benihnya, termasuk Balitkabi. Petani kedelai di Banyuwangi sudah biasa mencapai hasil kedelai di atas 2 ton per hektar.

Namun demikian dalam sambutannya, Sulaiman selaku Kepala Desa Tapan Rejo menyatakan bahwa mayoritas petani masih membutuhkan bimbingan dan arahan. Di Tapan Rejo khususnya dan Kecamatan Muncar pada umumnya, petani tidak hanya bertanam kedelai, namun juga ada komoditas jagung dan jeruk yang memiliki harga jual lebih bagus. Ini merupakan ancaman bagi ketersediaan kedelai yang terus menurun, karena petani beralih ke komoditas lain. “Oleh karena itu, kami sangat berharap dapat memperoleh bimbingan untuk meningkatkan kemampuan SDM petani di sini”, kata Sulaiman. Demikian pula perlu adanya peningkatan peran PPL. Sudah lama Balitkabi hadir di Tapan Rejo dan sangat peduli terhadap petani.

Eva, Ketua BPP Kecamatan Muncar, yang telah mengabdi sejak tahun 2006, menyampaikan bahwa Muncar sangat potensial untuk ditanami kedelai. Namun dalam satu tahun terakhir, di Kabupaten Banyuwangi terjadi penurunan luas tanam kedelai dari 500 hektar menjadi sekitar 200 hektar. “Penyebabnya adalah harga kedelai yang kurang bersahabat buat petani”, kata Eva. Melalui Bimtek Padat Karya ini Eva berharap petani dapat tergugah semangatnya untuk bertanam kedelai kembali. “Mulai kretek ati nandur dele maneh”, kata Eva dalam bahasa Jawa. Jika harga kedelai stabil dan menguntungkan, pasti petani semangat bertanam kedelai.

Sambutan Kepala Desa Tapan Rejo

Sambutan Kepala Desa Tapan Rejo

Menegaskan kembali apa yang sudah disampaikan oleh Kepala Desa Tapan Rejo dan Kepala BPP Kecamatan Muncar, Koentjoro menyampaikan bahwa pertanian jangan sampai lesu. Pangan merupakan masalah utama dan harus tersedia setiap saat. “Pandemi Covid-19 jangan jadi penghalang dalam bertani”, kata Koentjoro, karena Indonesia bercita-cita menjadi lumbung pangan dunia. Indonesia memiliki lahan yang luas dan subur, dengan petani-petani yang hebat. Desa Tapan Rejo ini telah lama menjadi lokasi kegiatan penelitian Balitkabi. “Sehingga bapak-bapak semua di sini telah berperan dalam menghasilkan varietas unggul kedelai”, ungkap Koentjoro. Demi menggugah semangat para petani di seluruh wilayah negeri, Menteri Pertanian Dr. Syahrul Yasin Limpo melaksanakan program kegiatan Bimtek Padat Karya.

Sambutan Sub Koordinator Substansi Jasa Penelitian Balitkabi

Materi Bimtek di Desa Tapan Rejo dengan judul “Teknologi Budi Daya dan Pascapanen Produksi Benih Kedelai” disampaikan oleh Agus Supeno, selaku salah satu manajer di UPBS Balitkabi. Titik berat materi yang disampaikan adalah bagaimana budi daya kedelai untuk meningkatkan hasil dan cara penanganan pascapanen yang baik, sehingga dapat menghasilkan calon benih kedelai yang bagus.

banyuwangi3
Penyampaikan materi Bimtek oleh Agus Supeno, A.Md (kiri) dan peserta Bimtek (kanan)

Dalam acara diskusi, Sunyoto (Ketua Poktan Sido Mulyo) menyampaikan bahwa bagi petani masalah harga adalah yang paling penting. Bermitra dengan pemerintah akan lebih baik. Semoga ke depan, petani kedelai semakin bersemangat lagi untuk menanam kedelai.

KN/AS