Berita » BPSB Jateng Mencari Solusi Kesulitan Benih

Perkembangan pertanaman kedelai maupun kacang tanah khususnya di Sukoharjo, Jateng, tidak terlalu pesat. Salah satu penyebabnya adalah minimnya ketersediaan benih baik jumlah maupun varietas saat diperlukan petani. Kondisi tersebut berakibat tidak sedikit petani akhirnya menggunakan benih tidak bersertifikat. Hal tersebut menyulitkan pihak BPSB Jateng dalam sertifikasi dan pengawasan peredaran benih di masyarakat. Untuk mengatasi hal tersebut, BPSB Jateng berkunjung ke Balitkabi untuk mendapatkan informasi tentang benis sumber, khususnya kedelai dan kacang tanah.Rombongan yang dipimpin oleh Ibu Ir. Neni Ernawati, Kepala BPSB Jateng, bersama 20 orang pejabat eselon dan pejabat fungsional, diterima oleh dua nara sumber teknis: Ir. Joko Purnomo, M.P., dan Ir Suhartina, M.P., Senin (23/09). Ikut menerima Achmad Winarto mewakili Kepala Balitkabi. Balitkabi sangat terbuka bagi siapapun yang ingin mengadopsi hasil-hasil penelitian aneka kacang dan umbi. “Silakan memanfaatkan hasil-hasil penelitian dan pelayanan publik dari Balitkabi”, tutur Pak Winarto. Sementara itu Pak Joko memaparkan materi “Pemurnian Varietas/Benih Kacang Tanah”. Menurut Pak Joko, benih yang merupakan bagian mendasar usaha tani, harus murni dan diketahui jelas varietas dan asal-usulnya. Usaha pertanian akan berhasil jika benih yang digunakan benih murni dan diimbangi teknik budidaya yang tepat. ”Good seed good agriculture”, tegas pak Joko. Rouging (membuang bentuk simpang) wajib dilakukan dalam proses pemurnian benih.
Selanjutnya materi “Permurnian dan Prosedur Pelepasan Varietas Kedelai”, disajikan oleh Ir. Suhartina, MP. Hal penting tentang pelepasan varietas lokal menjadi varietas unggul, menurut Bu Tina, harus memenuhi persyaratan berikut: (1) varietas sudah ditanam secara luas oleh masyarakat di suatu wilayah, (2) memiliki keunggulan dibanding varietas lokal yang sudah dilepas atau varietas yang mirip dengan varietas lokal yang akan dilepas tersebut, dan varietas lokal lain yang berkembang di daerah tersebut, (3) telah dibudidayakan lebih dari 5 tahun, dan (4) merupakan varietas yang telah terdaftar pada Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perijinan Pertanian.

Selain mendapat penjelasan di ruang, tamu BPSB terbut juga disuguhi teknik pengamatan aneka varietas dan galur harapan tanaman kabi (kedelai, kacang hijau, kacang tanah, ubi jalar dan ubikayu). Selain itu para tamu juga bisa memperoleh benih sumber KABI langsung dari Unit Pengelolaan Benih Sumber (UPBS) Balitkabi dan mengunjungi area plasma nutfah umbi-umbian potensial. Selamat mengembangkan perbenihan kabi untuk mendukung kemandirian pangan.NC/AW