Berita » Calon Varietas Unggul Baru Kacang Hijau Segera Direlease

1-aaaintern_maret2013_2

Balitkabi kembali mempersiapkan calon varietas unggul baru kacang hijau. Calon varietas tersebut merupakan hasil persilangan yang dilakukan oleh Ir. Trustinah, MS, Ir. Anwari, MS, dan Dr, Ir. Rudi Iswanto, MP. Galur tersebut telah diuji multilokasi di delapan lokasi yang tersebar di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan agroekologi yang berbeda sejak tahun 2011. Hasil pengujian menunjukkan bahwa 2 galur tersebut memiliki potensi hasil hingga 1,7 per hektar. Potensi hasil ini sedikit lebih tinggi dibanding varietas unggul vima 1 yang memiliki potensi hasil 1,5 ton per hektar. Selain memiliki potensi hasil yang tinggi, galur ini juga memiliki tingkat ketahanan yang tinggi terhadap serangan hama penggerak polong Maruca testulalis G. Selain tahan hama penggerek polong, galu-galur tersebut juga ditenggarai tahan terhadap hama tular tanah. Untuk melengkapi data pelepasan varietas, galur-galur tersebut juga akan diuji terhadap serangan hama tular tanah yang akan dilakukan oleh peneliti penyakit Balitkabi, Ir Sri Hardaningsih MS. Dengan diperolehnya calon varietas unggul tersebut diharapkan dapat menambah sumber keragaman plasma nutfah baru yang dapat memperkaya keanekaragaman hayati tanaman kacang hijau di Indonesia. Demikian yang diungkapkan oleh Peneliti Pemulia tanaman kacang hijau dari Balitkabi Ibu Ir. Trustinah, MS.

Selain menyiapkan calon varietas unggul baru kacang hijau, peneliti Balitkabi juga berupaya untuk mengkaji lebih dalam tentang hama dan penyakit pada tanaman aneka kacang dan umbi. Pengkajian terhadap hama dan penyakit tanaman dimulai dari struktur biologi, ekologi hama dan penyakit, tanaman inang, siklus hidup, dan teknik pengendalian yang efektif dan efisien serta ramah lingkungan. Salah satu penyakit yang dipelajari adalah penyakit karat daun. Penyakit karat daun (Pucci­nia arachidis) merupakan penyakit yang dominan pada pertanaman kacang tanah baik yang ditanam pada lahan kering maupun lahan sawah. Penyakit ini mulai menyerang tanaman pada umur antara 10 hingga 90 hari. Serangan paling kritis terjadi pada umur antara 30–50 hari. Penyakit ini menyerang tanaman dengan menginfeksi kutikula daun. Gejala yang tampak berupa bintik-bintik berwarna coklat pada bagian bawah permukan daun. Serangan penyakit ini dapat mengakibatkan kehilangan hasil hingga 57%. Pengendalian penyakit ini belum dapat ditangani secara maksimal. Alternatif yang bisa dilakukan saat ini adalah menggunakan varietas unggul tahan karat dan menerapkan teknologi budidaya secara komperehensif. Salah satu varietas unggul tahan karat yang juga hasil penemuan peneliti balitkabi adalah Takar 1 dan Takar 2. Selain itu, Peneliti penyakit tanaman di Balitkabi berencana untuk melakukan eksplorasi sumber inang alternatif penyakit ini dan menemukan formulasi pengendalian hayati atau nabati yang efektif dan efisien sehingga pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan baik dan kegagalan akibat serangan hama ini dapat diminimalkan. Demikian yang dikemukakan oleh Phatologys dari Balitkabi Ibu Ir. Sumartini, MS. Dalam seminar intern Balitkabi tanggal 25 Maret 2013.

Sutrisno/AW