Berita » Calon VUB Kedelai dan Menguak Keunikan Self-Incompatibility pada Bunga Ubijalar

Pada hari Senin 4 Mei 2015 di aula Balitkabi, pemulia kedelai Dr. Novita Nugrahaeni dan pemulia ubijalar Ir. St. A. Rahayuningsih, MS., masing-masing memaparkan materi tentang calon VUB kedelai berumur genjah, berukuran biji besar dan potensi hasil tinggi serta self-incompatibility pada bunga ubijalar dan manfaatnya dalam pemuliaan. Seminar kali ini dimoderatori oleh Prof Subandi (Gambar 1).


Gambar 1. Situasi saat seminar internal Balitkabi, (Dr. Novita Nugrahaeni, kiri dan Ir. St. A. Rahayuningsih, MS., kanan). Dalam pemaparan pertama, Dr. Novita menjelaskan bahwa kedelai berukuran biji besar dan berumur genjah semakin diminati konsumen, terlebih lagi jika dipadukan dengan karakter potensi hasil tinggi. Potensi hasil tinggi dapat dijadikan bonus bagi petani yang menanamnya. Uji multilokasi telah dilakukan di 10 lokasi sentra tanaman kedelai dengan tujuh galur harapan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa di antara tujuh galur yang diuji, terdapat satu galur harapan prospektif untuk dicalonkan sebagai VUB, yaitu Grob/Mal-26. Galur tersebut memiliki rata-rata hasil biji 2,76 t/ha dan potensi hasil biji sebesar 3,82 t/ha, yang lebih tinggi dibandingkan kedua varietas pembanding (Grobogan dan Baluran), umur masak genjah (71,3 hst), ukuran biji besar (22,98 g/100biji). Galur harapan tersebut juga memiliki ketahanan terhadap penyakit karat namun rentan terhadap hama pengisap polong dan ulat grayak. Menurut Dr. Novita, keunggulan dan kekurangan dari varietas tersebut perlu diketahui oleh petani agar mereka dapat mengantisipasi hama yang mungkin menyerang dan memaksimalkan manfaat kelebihan calon VUB tersebut. Pemaparan materi kedua disampaikan Ir. St. A. Rahayuningsih tentang self-incompatibility pada bunga ubijalar. Umumnya, perbanyakan ubijalar dilakukan secara vegetatif dengan stek karena perbanyakan menggunakan biji tidak akan menghasilkan keturunan yang secara genetis berkarakter seperti induknya. Mengapa demikian? Salah satu penyebabnya adalah self-incompatibility, yaitu ketidakmampuan ubijalar menghasilkan biji. Beberapa penyebab self-incompatibility, antara lain disebabkan morfologi bunga (kedudukan stamen terhadap karpel), fisiologi (polen dan putik tidak bersamaan masaknya), dan faktor genetik. Uniknya, pada bunga ubijalar kedudukan stamen terhadap karpel (Gambar 2) serta kemasakan polen dan putik bukan penyebab self-incompatible. Hal ini dibuktikan dengan adanya bunga ubijalar yang memiliki kedudukan stamen yang lebih tinggi dari putik serta waktu reseptif yang bersamaan, namun tetap tidak dapat menghasilkan biji.

Penyebab self-incompatible pada ubijalar diantaranya putik menolak polen berkecambah, polen berkecambah akan tetapi buluh polen terhambat di tangkai putik sehingga tidak terjadi pembuahan. Self-incompatible dapat dimanfaatkan dalam pemuliaan untuk meningkatkan keragaman genetik alami dan menghasilkan hybrid. Disampaikan pula, bahwa biji-biji hasil persilangan bebas ubijalar di beberapa negara telah banyak digunakan sebagai tetua unggul dan juga dilepas sebagai varietas unggul. Untuk meningkatkan fruit setting pada ubijalar dapat dilakukan dengan mengoleskan larutan 50 ppm sucrose pada putik yang diserbuki oleh polen sendiri.

Ratri/KN