Berita » Dapatkah Ubi Kayu Memutus Siklus Hidup Ganoderma boninensis pada Tanaman Kelapa Sawit?

ptpn1

Pada tanggal 27–28 Agustus 2014, Dr. Nasir Saleh dan Ir. Budhi Santoso Radjid, MS atas undangan PT Perkebunan Nusantara (PTPN-IV) Medan telah menghadiri pertemuan yang diselenggarakan PTPN-IV, membahas penyakit busuk pangkal batang (basal stem rot) pada tanaman kelapa sawit. Rapat dihadiri lebih kurang 50 peserta terdiri atas Direksi, Manager dan staf PTPN-IV, undangan dari PT Medco Ethanol, PT Ethanol Indonesia, PT Pertamina, Balitkabi Malang, dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Medan. Dalam sambutannya, Direktur Utama PTPN-IV (Bpk. Nasution), menyampaikan bahwa pada saat sekarang rata-rata lebih kurang 7,0% dari total luas kebun kelapa sawit PTPN-IV yang mencapai 200.000 ha% telah terinfeksi oleh penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh jamur Ganoderma boninensis, dengan intensitas serangan di tiap kebun berkisar antara 5–31%. Jamur terutama menyerang pertanaman yang memasuki generasi 2–4. Tanaman kelapa sawit yang terinfeksi akhirnya mati dan roboh, mengakibatkan populasi tanaman kelapa sawit menjadi berkurang dan menyisakan lahan-lahan bero di antara pertanaman kelapa sawit. Oleh karena itu penyakit tersebut perlu segera ditanggulangi. Pada diskusi yang dipimpin oleh Direktur Pengembangan Usaha (Ir. Memed), yang menggaris-bawahi pentingnya memutus siklus penyakit busuk pangkal batang. Dalam kaitannya dengan ubi kayu, pertanyaannya adalah apakah ubi kayu akan menguruskan tanah? Apakah jamur Ganoderma dapat menginfeksi tanaman ubi kayu? Apakah penanaman ubi kayu di antara tanaman kelapa sawit sakit dapat menghambat/memutus siklus jamur G. boninensis?

Gambar 1. (a) Ir Memed (Direktur Perencanaan dan Pengembangan Usaha PTPN-IV) memimpin diskusi,
(b) Beberapa tanaman kelapa sawit yang telah mati dan roboh di Perkebunan Adolina, PTPN-IV akibat infeksi jamur G. boninensis. Dalam kaitannya dengan kekhawatiran tanaman ubi kayu akan menguruskan tanah, Dr. Nasir Saleh dan Ir. Budhi Santoso dari Balitkabi menegaskan bahwa apabila dilakukan pengelolaan tanaman dengan baik, termasuk memberikan pupuk yang cukup maka tanaman ubi kayu tidak akan menguruskan tanah. Ir. Rizal dari PTPN-IV melaporkan bahwa selain oleh spora jamur, penularan dapat terjadi melalui kontak akar tanaman sakit pada akar tanaman sehat di dekatnya. Usaha pengendalian yang telah dilakukan antara lain membuat big hole pada bekas tanaman mati sambil mencacah akar dan pangkal batang serta membakarnya, membersihkan sisa-sisa tanaman sakit dari kebun, menambahkan bahan organik, menggunakan jamur antagonis Trichoderma sp., pembubunan pokok tanaman serta penanaman klon yang toleran. Sejauh ini usaha pengendalian yang telah dilakukan belum dapat memutus siklus hidup jamur Ganoderma dan hanya dapat menunda laju perkembangan dan penyebaran penyakit busuk pangkal batang. Dalam hubungannya dengan kemungkinan ubi kayu sebagai tanaman inang jamur G. boninensis, Dr. Nasir Saleh menginformasikan bahwa hingga sekarang tidak ditemukan informasi infeksi jamur G. boninensis pada tanaman ubi kayu. Hanya ada satu referensi yang melaporkan bahwa spesies lain yaitu Ganoderma pseudoferrum ditemukan pada perakaran ubi kayu. Hal tersebut dikuatkan oleh Dr. Agus Eko Prasetyo dari PPKS yang menyampaikan bahwa sejauh ini belum diketahui dengan pasti apakah jamur G. boninensis dapat menginfeksi tanaman ubi kayu. Namun inokulasi buatan menunjukkan bahwa jamur tersebut dapat menginfeksi tanaman Mucuna sp. dan Crotalaria sp. yang sering dimanfaatkan sebagai cover crop. Oleh karena itu disepakati perlu dilakukan penelitian untuk memastikan apakah tanaman ubi kayu dapat terinfeksi jamur G. boninensis dan seberapa efektif rotasi tanaman ubi kayu dapat menekan perkembangan penyakit busuk pangkal batang pada kelapa sawit tersebut.
NS/AW