Berita » Dari Rawa untuk Dunia

rawa

Puncak acara Hari Pangan Sedunia 2018.

Bangun 4.000 hektar sawah di Kec. Jejangkit Kab. Batola-Kalsel buktikan bahwa Amran “bergerak”. Hal tersebut terbukti di acara Hari Pangan Sedunia (HPS) XXXVIII tahun 2018 di Batola tanggal 18 Oktober 2018. Satu eksekusi luar biasa dari “Our actions are our future” menuju “Zero hunger world by 2030 is possible”.

Melalui tema “Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Rawa Lebak dan Pasang Surut menuju Lumbung Pangan Dunia 2045”, pendobrak regulasi penghambat pembangunan pertanian, 641 Permentan dicabut, untuk disesuaikan dan disederhanakan. Ini yakinkan kepada Indonesia dan representatif FAO Stephen Rutgard serta Duta Besar Negara-negara sahabat, Indonesia sudah bangunkan Raksasa Tidur Lahan Rawa, bukan sekedar jargon bualan kosong.

Kehadiran Menko Perekonomian Darmin Nasution, Ketua DPR RI Bambang Susetya bersama dua anggota Komisi 11 Bidang Keuangan, Fiskal dan Moneter, merupakan bukti kuat dukungan Pemerintah terhadap pergerakan terobosan strategis Kementan untuk memecah kebuntuan di tengah peningkatan kelaparan dunia yakni di tahun 2016 sebesar 804 juta orang naik menjadi 821 juta orang di tahun 2017. Artinya hampir 11% populasi dunia atau 1 dari 9 penduduk dunia mengalami kelaparan. Seperti pernyataan Stephen Rutgerd di acara pembukaan HPS Kalsel. Ditambahkan di tahun 2017 sebanyak 1,5 miliar orang menderita kelaparan tersembunyi dari kurangnya kandungan gizi dan mineral dari asupan pangannya yang salahnya berdampak pada pelambatan pertumbuhan anak (stunting) di bawah usia 5 tahun. Kantor Wakil Kepresidenan melansir 1/3 anak Indonesia di bawah usia 5 tahun mengalami stunting.

“Kita akan lanjutkan program ini Pak Mentan,” kata Darmin Nasution, saat melihat kondisi model pertanian lahan rawa di Jejangkit dari atas helikopter. Dukungan lainnya juga datang langsung dari Bambang Susetya selaku Pimpinan DPR RI melalui Undang-Undang dan Representatif FAO sendiri. Jejangkit adalah sebuah pengakuan terhadap upaya pemerintah Jokowi yang sadar bahwa di tahun 2050 produksi pangan minimal dua kali lipat sebagai dampak penambahan penduduk dunia.

Membangun sistem produksi pangan global juga menjadi target Mentan Amran Sulaiman. Bambang Susetya sampaikan ada 5 hal pokok yang dipotret DPR RI yakni: (a) Kendala sumber daya alam, (b) Perubahan iklim ekstrim, (c) Kepemilikan lahan di bawah 0,5 ha, (d) Ketidakseimbangan produk pangan antar daerah, dan (e) Proporsi kehilangan hasil pangan dan pemborosan pangan masih 10–20%.

Langkah sudah diambil, kebijakan sudah ditetapkan. Pola membangun pemerintah adalah Indonesia sentris bukan Jawa sentris. Seluruh elemen memberi dukungan penuh. Semoga citacita Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia di tahun 2045 dapat terwujud.

rawa1

YB