Berita » Dega 1 dan Anjasmoro Harapan Petani Binangun Blitar

Tumpangsari jagung-cabai-kedelai milik Pak Suyanto di Binangun, Blitar.

Tumpangsari jagung-cabai-kedelai milik Pak Suyanto di Binangun, Blitar.

Di lahan kering Binangun, Blitar, penerapan tumpangsari jagung, kedelai, dan cabai kecil, telah terbiasa dilakukan oleh petani. Dituturkan oleh Pak Suyanto, yang juga penggerak penangkar kedelai Karya Tani, pola tanam tumpangsari tiga komoditas tersebut dapat meningkatkan pendapatan petani. Air yang terbatas dapat dimanfaatkan secara efisien dengan menanam jagung diawal musim hujan, dan dalam waktu yang bersamaan benih cabai disemai. Saat jagung berumur 20 hari, waktunya cabai dipindah tanam di antara jagung. Jarak tanam jagung adalah 90 cm × 30 cm. Ketika jagung telah berumur 90 hari, saatnya kedelai ditanam di kanan kiri cabai. Pada saat kedelai berumur tiga hari inilah saatnya daun jagung dirompes habis, tinggallah tongkol yang disisakan menunggu keringnya klobot pembungkus biji jagung. Tongkol jagung akan dipertahankan di lahan hingga kelobot jagung kering, tanda jagung siap panen.

Tahun 2021 ini, Dega 1 dan Anjasmoro, dua varietas kedelai Balitbangtan telah ditanam di antara jagung dan cabai di lahan petani di Desa Binangun. Menurut Pak Suyamto, per hektar membutuhkan benih 30 kg. Dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, produktivitas kedelai di antara cabai di sana diperoleh 1,5-2 t/ha calon benih. Secara umum, kualitas calon benih kedelai dari kelompok tani Karya Tani cukup baik, karena dapat dihasilkan benih kedelai 1,3- 1,8 t/ha. Benih kedelai yang dihasilkan penangkar kedelai Karya Tani akan didistribusikan ke Ngawi, Trenggalek, Jember, dan Banyuwangi untuk musim tanam pada musim kemarau di lahan sawah.

Menurut Pak Yanto, pemilihan varietas Dega 1 pada tumpangsari dengan cabai didasarkan pada upaya memenuhi permintaan kedelai berbiji besar dan berumur genjah, sedangkan varietas Anjasmoro yang merupakan varietas adaptif pada berbagai agroekologi masih cukup diminati oleh petani. Penangkar Karya Tani yang juga merupakan binaan Balitkabi, selalu berkonsultasi dengan pihak Balitkabi, termasuk sumber benihnya diperoleh dari UPBS Balitkabi.

Keragaan varietas Dega 1 dan Anjasmoro sangat baik. Varietas Dega 1 telah membentuk polong, sedangkan varietas Anjasmoro membentuk bunga pada awal Februari 2021. Hampir tidak ditemui gulma yang tumbuh, karena kanopi kedelai maupun cabai telah menutup permukaan tanah. Pada tanaman kedelai tidak dilakukan pemupukan, karena kedelai telah mendapatkan pupuk dari tanaman jagung dan cabai. Jagung dipupuk menggunakan urea dan Phonska pada 20 hst dan 70 hst, sedangkan cabai juga dipupuk dua kali menggunakan Phonska dan ZA pada 2 dan 4 bulan setelah tanam. Hama dan penyakit tanaman baik pada cabai maupun kedelai relatif sedikit, sehingga penggunaan pestisida kimia di pertanaman tumpangsari hanya sedikit digunakan.

Pola tumpangsari ini dapat menghasilkan jagung pipilan kering hingga 6 t/ha, dan hasil cabai hingga 12 t/ha. Cabai akan bisa bertahan hingga musim kemarau, bahkan hingga menjelang olah tanah di akhir musim kemarau. Produktivitas kedelai yang cukup tinggi diharapkan hingga lebih dari 2 t/ha. Sumbangan nutrisi dari tanaman kedelai dan sisa tanaman jagung dan cabai sangat penting bagi pengelolaan kesuburan tanah jangka panjang. Semoga Dega 1 dan Anjasmoro membawa kesejahteraan bagi petani Binangun.

binangung1 binangun2
Keragaan Dega 1 (kiri) dan Anjasmoro (kanan) pada tumpangsari dengan cabai di Binangun, Blitar, 2021

RDP