Berita » Detap 1, Berjaya di Mojokerto

Hasil Detap 1 di Mojokerto.

Hasil Detap 1 di Mojokerto.

Kehilangan hasil akibat pecah polong merupakan salah satu masalah budi daya kedelai yang tidak hanya terjadi di daerah tropis Indonesia, namun terjadi di beberapa sentra produksi kedelai di negara sub-tropis. Pada tahun 2017, Balitkabi berhasil melepas varietas kedelai tahan pecah polong yaitu Detap 1.

Pengembangan Detap 1 yang telah dilakukan di Nganjuk dan Genteng (Banyuwangi) memperlihatkan pertumbuhan dan produktivitas yang bagus. Keunggulan Detap 1 selain tahan pecah polong, juga berumur genjah dan ukuran bijinya tergolong besar. Sifat tahan pecah polong pada Detap 1 diturunkan dari salah satu tetuanya, yaitu varietas Anjasmoro.

Pada musim tanam Juli–Oktober 2018, UPBS Balitkabi juga melakukan pengembangan produksi benih di Mojokerto pada lahan sawah setelah tanaman padi. Keragaan tanaman Detap 1 memang tidak terlalu tinggi namun jumlah polong cukup banyak, dan karakter umur genjahnya terlihat di lapang. Salah satu petani kooperator menyampaikan memperoleh hasil panen sebanyak 506 kg untuk luasan 1 bagian (1/7 ha) dengan menanam varietas Detap 1, pada kadar air sekitar 14%. Petani yang lain menuturkan kisaran hasil Detap 1 antara 450–500 kg (1/7 ha).

Observasi yang dilakukan oleh UPBS terhadap beberapa varietas yang diujicobakan produksi benihnya di Mojokerto, disampaikan bahwa varietas Devon 1 mulai mengalami pecah polong sejak di pertanaman, jika terlambat dilakukan panen. Varietas Dena 1 mengalami pecah polong pada saat proses penjemuran brangkasan. Sedangkan Detap 1 memang tidak mengalami pecah polong baik pada saat panen terlambat atau pada saat penjemuran brangkasan.

Harapan menyelamatkan kehilangan hasil kedelai, Detap 1 mulai diminati oleh petani kedelai.

Keragaan Detap 1 di Mojokerto pada MK2 2018.

Keragaan Detap 1 di Mojokerto pada MK2 2018.

AyK