Berita » Detap 1: Pendatang Baru Pemikat Petani

detap

Keragaan kedelai Detap 1 di Nganjuk.

Kehilangan hasil pada tanaman pangan cukup merugikan petani. Salah satu penyebab kehilangan hasil pada kedelai adalah karena pecah polong (pod shattering). Dilepasnya varietas kedelai Detap 1 oleh Kementerian Pertanian tahun 2017 yang lalu menjawab permasalahan tersebut karena Detap 1 memiliki keunggulan tahan pecah polong, berumur masak genjah (78 hari) dengan rata-rata hasil 2,70 t/ha.

Pengembangan Varietas Detap 1 yang dilakukan pada lahan sawah di Nganjuk pada MK1 2018, memperlihatkan pertumbuhan yang optimal. Jumlah polong rata-rata dapat mencapai 72 polong/tanaman dengan tinggi tanaman 60–70 cm. Kelemahan Detap 1 adalah kurang sesuai dikembangkan pada daerah yang endemik virus daun pada kedelai. Kepekaan Detap 1 terhadap penyakit virus daun identik dengan kepekaan dari salah satu tetuanya, yaitu Anjasmoro. Namun di Nganjuk, Detap 1 tidak menunjukkan gejala serangan virus.

Detap 1 mirip dengan Anjasmoro yang selama ini banyak ditanam petani di Nganjuk selain Varietas Wilis. “Detap 1 lebih menarik karena umurnya lebih genjah dan ukuran bijinya mirip dengan Anjasmoro,” ungkap beberapa petani yang mengamati pertumbuhan Detap 1 di Nganjuk. Bahkan sebagian petani menyampaikan bahwa Detap 1 tidak terlalu bercabang, diduga juga cocok ditanam secara sebar, seperti kebiasaan petani selama ini.

Petani kedelai di Nganjuk menghendaki kedelai yang berumur agak genjah namun ukuran bijinya besar. Di Kecamatan Bagor, sebagian besar petani menanam varietas kedelai yang oleh petani disebut Surya, diduga berasal dari genotipe kedelai Mansuria. Dan Anjasmoro merupakan hasil seleksi terhadap varietas introduksi Mansuria.

Produsen kedelai di Nganjuk, menyampaikan Varietas Detap 1 akan terus dikembangkan untuk sumber benih ke kelas berikutnya. Semoga Detap 1 terus berkembang di Indonesia.

Kedelai Detap 1 yang telah berpolong.

Kedelai Detap 1 yang telah berpolong.

Ayk