Berita » Dialog Hasil Riset Kedelai – Industri

Dunia industri saatnya ditransformasikan, yang semula bertumpu pada sumber daya alam (natural resources based) diubah berbasiskan inovasi (innovation based). Di sisi ini diperlukan prasyarat proses dialog antara pebisnis dengan pelaku penelitian, pengembangan dan perekayasaan (litbangyasa) iptek. Dengan demikian maka hakekat inovasi yang diartikan hanya memiliki nilai guna harus melekat pula nilai tambah dan nilai daya saing.

Dewan Riset Nasional (DRN) menganggap penting proses tersebut, sehingga perlu dilakukan Forum Dialog Riset – Industri, yang untuk pertama kalinya dilakukan 29 Oktober 2013 di Gedung BPPT Jakarta dengan mengetengahkan topik Varietas Unggul Kedelai dan Produk Bioteknologi Hasil Laut. Pemulia kedelai Badan Litbang Pertanian, Dr. Muchlish Adie, diberikan kesempatan sebagai narasumber. Dialog dihadiri oleh Ketua DRN (Prof. Andrianto Handojo) beserta jajarannya termasuk Ketua Komisi Teknologi (komtek), Kemenristek, pelaku industri, pemerhati, birokrat dan dari Badan Litbang Pertanian (Kepala Puslitbang Tanaman Pangan, Kasubid Kerjasama Puslitbangtan, Ir. Achmad Winarto Balitkabi).

Dialog yang dipimpin oleh Ir Betti Alisjahbana, yang sekaligus menjadi Wakil Ketua DRN, mengakrabkan peneliti dan pebisnis bertujuan untuk memberikan pemahaman terhadap kebutuhan inovasi terkini oleh pengguna, inovasi harus dimanfaatkan serta memberikan arah kepada peneliti akan kebutuhan pebisnis. Dialog kedelai dengan tema Varietas unggul kedelai: di lahan menguntungkan; di meja makan menyehatkan; disampaikan nilai ekonomi kedelai tidak hanya dikupas dari sisi manfaatnya untuk kesehatan juga disampaikan korelasinya dengan lingkungan dan peluang bisnisnya. Pemerintah telah menghasilkan 77 varietas kedelai dengan beragam peruntukannya. Banyak keunggulan dari varietas yang dihasilkan oleh pemulia Indonesia untuk bahan baku industri dibandingkan dengan kedelai asal impor. Memang kendalanya adalah kontinyuitas pasokan dan pemenuhan kuantitas kebutuhan industri yang masih belum mampu teratasi. Dialog mendapatkan respon dari peserta dengan mendiskusikan kedelai dari berbagai sudut pandang. Bahkan Ketua DRN, juga mempertanyakan apa kendala periset tidak mampu meyakinkan pihak industri untuk mengadopsi inovasi yang telah dihasilkan.

Beberapa varietas kedelai di Indonesia sesuai untuk bahan baku tempe, tahu, kecap dsbnya. Dalam dialog disampaikan hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh Erliana Ginting dan Rahmi STp, peneliti Balitkabi, bahwa tiga keunggulan jika menggunakan kedelai Indonesia sebagai bahan baku industri dibandingkan dengan kedelai impor yakni rendemen lebih tinggi, citarasa lebih baik dan yang terpenting adalah proteinnya lebih tinggi.

Masalahnya bagaimana berbagai keunggulan tersebut dapat ditangkap dan diadopsi oleh para pebisnis. Terhadap dunia penelitian, salah satu pebisnis menyampaikan tidak melihat titik terang di ujung terowongan. Petuah penting bahwa memang periset harus mampu merancang penelitian dan berakhir dengan inovasi yang memberikan nilai manfaat dan nilai tambah kepada masyarakat Indonesia.

MMA/AW