Berita » Eksistensi Peneliti Balitkabi dalam Publikasi Ilmiah

Publikasi ilmiah berperan penting sebagai sarana dalam menyebarluaskan hasil penelitian, mengembangkan ilmu pengetahuan, meningkatkan reputasi lembaga penelitian dan juga merupakan cerminan eksistensi seorang ilmuwan di dalam masyarakat ilmiah.

Bagaimana kiprah peneliti Balitkabi dalam hal publikasi ilmiah? Pustakawan Balitkabi, Sutardji S.Sos menyampaikan hasil analisis bibliometrikanya dengan judul “Publikasi Ilmiah sebagai Indikator Kinerja Lembaga Riset: Studi Kasus di Balitkabi” pada hari Rabu tanggal 24 Mei 2017 dalam seminar internal yang dihadiri oleh Kepala Balitkabi, Pejabat Eselon IV Balitkabi, seluruh peneliti dan teknisi.

Analisis ini bertujuan untuk mengetahui sebaran KTI peneliti Balitkabi yang dipublikasikan, produktivitas dan kontribusi penulis serta tingkat kolaborasi penulis. Pengumpulan data dilakukan terhadap terbitan publikasi tahun 2011‒2015 pada jurnal/buletin, prosiding seminar, monograf, dan buku.

Gambar 1. Pemaparan Sutardji, S.Sos. pada Seminar Internal Balitkabi 24 Mei 2017.

Gambar 1. Pemaparan Sutardji, S.Sos. pada Seminar Internal Balitkabi 24 Mei 2017.

Sutardji menyampaikan bahwa dalam kurun waktu 5 tahun, KTI Balitkabi yang dipublikasikan sebanyak 500 judul, dengan sebaran 52% artikel diterbitkan dalam prosiding, 38% artikel di jurnal, 6% artikel monograf, dan 4% buku dengan total kontributor 76 penulis. Rentang produktivitas penulis berkisar antara 1−16 artikel dalam 5 tahun.

Proporsi artikel jurnal berdasarkan institusi penerbit ditampilkan pada Gambar 2. Berdasarkan gender antara penulis laki-laki dan perempuan, produktivitas penulis relatif berimbang, yaitu rata-rata 1,3 judul/penulis/tahun.

Tingkat kolaborasi penulis juga dinilai cukup tinggi, yaitu 0,73. “Pada bidang penelitian minyak dan gas serta kehutanan, terjadi dominasi penulis laki-laki dibanding perempuan. Namun hal tersebut tidak terjadi di Balitkabi,” ungkap Sutardji.

Gambar 2. Proporsi artikel jurnal berdasarkan institusi penerbit.

Gambar 2. Proporsi artikel jurnal berdasarkan institusi penerbit.

Beberapa saran disampaikan para peneliti untuk perbaikan kajian tersebut, diantaranya adalah teknik pengumpulan data yang komprehensif, sebaran artikel berdasarkan tingkatan fungsional peneliti, tingkatan kualifikasi publikasi, level produktivitas publikasi peneliti Balitkabi dibandingkan institusi lain baik dalam maupun luar negeri, dan sebagainya.

Semoga peneliti Balitkabi dapat terus meningkatkan kuantitas dan kualitas tulisan ilmiah yang dihasilkan di samping terus berinovasi menghasilkan varietas dan teknologi unggulan yang didambakan petani.

RTH