Berita » Esensi Varietas Tahan untuk Pengendalian Ulat Grayak pada Tanaman Kedelai

esensi2

Sebagai pemakalah pada Seminar dua mingguan di Puslitbangtan Bogor, pada tanggal 10 Mei 2012 adalah Dr. Suharsono, MS yang menyampaikan topic Pembentukan Varietas Kedelai Tahan Ulat Grayak Spodoptera litura. Seminar dihadiri oleh 40 peserta dari Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Balitkabi, Dinas Pertanian kabupaten Bogor, Direktorat Perbenihan, Dirjentan, Kapuslitbangtan, dan staf. Seperti diketahui bahwa kurang lebih 50% jenis hama kedelai adalah hama pemakan daun. Ulat grayak Spodoptera litura adalah salah satu jenis hama pemakan daun yang menyebabkan kerusakan pada  tanaman kedelai. Sebagai komponen pengendalian hama, varietas tahan memegang peran yang sangat penting karena beberapa keunggulan antara lain mudah cara aplikasinya, dapat dipadukan dengan cara pengendalian yang lain/kompatibel (pestisida nabati, agens hayati dan lain-lain) dan aman bagi lingkungan. Pada dewasa ini, cekaman hama pada tanaman kedelai termasuk yang disebabkan oleh hama ulat grayak sangat tinggi karena mampu menyebabkan kerusakan (defoliasi) di negara-negara penghasil kedelai seperti Jepang dan Indonesia hingga 80-100%. Paparan dan diskusi Dr. Suharsono MS pada Seminar Puslitbangtan Bogor 10 Mei 2012. Program pemuliaan kedelai di Indonesia sebagian besar diarahkan pada produksi tinggi. Oleh sebab itu, kehadiran varietas kedelai tahan akan sangat membantu dalam pengendalian hama ulat grayak Spodoptera litura karena hama ini bersifat polifag pada berbagai jenis tanaman, sering disemprot dengan pestisida kimia sehingga mudah berubah tahan terhadap berbagai jenis insektisida kimia. Di Balitkabi diseleksi dua galur, yaitu IAC-100 dan IAC-80-596-2 (introduksi dari Brazilia) yang digunakan sebagai sumber ketahanan terhadap ulat grayak. Berbagai kombinasi persilangan telah dilakukan.Sampai saat ini telah dievaluasi sejumlah 180 galur hasil persilangan yang salah satu tetuanya menggunakan IAC-100 dan IAC-80-596-2. Sampai saat ini diperoleh 10 galur hasil persilangan yang diuji dalam UDHP. Pada seminar ini dikemukakan berbagai penelitian ketahanan kedelai terhadap hama di Indonesia termasuk peluang dan kendala yang dihadapi. Berbagai penelitian menunjukkan hasil bahwa sifat tahan dari tetua tahan selalu diwariskan kepada generasi selanjutnya. Hal ini terbukti bahwa seluruh galur yang mengandung tetua tahan berekasi lebih tahan dibanding tetua tidak tahan (Tabel 1). Tabel 1. Intensitas serangan daun galur yang berasal dari generasi IAC-100 dan non IAC-100

Waktu pengamatan

(HSI)

Intensitas kerusakan daun (%)


Uji t

Turunan IAC-100

Bukan IAC-100

3

26,32

39,27

6,15 **

6

27,68

44,31

7,48 **

9

36,50

52,46

7,30**

12

36,72

52,45

7,94**

15

31,40

51,25

11,04**

Rata-rata

31,73

47,95

Menanggapi materi ini, Prof. Dr. Karim Makarim, MS memberikan saran untuk melakukan tinjauan secara detail data hasil penelitian ketahanan kedelai terhadap ulat grayak, mekanisme ketahanan, dan uji multilokasi galur hasil persilangan di berbagai agroekosistem seperti lahan masam, gambut, lahan kering dan sebagainya. Selain itu, hasil UDHP juga mengindikasikan bahwa potensi hasil galur-galur persilangan setara dengan varietas pembanding (Tabel 2) Tabel 2. Reaksi
ketahanan galur-galur hasil persilangan dan potensi hasil di KP Jambegede dan KP Muneng, MK 2011.

Galur

Hasil (t/ha)

Reaksi ketahanan di GH

2010

2011

2010

2011

IAC-100/Kaba-47

2,03

3,08

AT-T

AT-T

IAC-100/Kaba-76

1,94

2,82

T

AT-T

IAC-100/Burangrang-96P

2,16

2,74

T-ST

AT

IAC-100/Kaba-67

2,29

2,68

AT-T

AT-T

IAC-100/Burangrang-95P

1,93

2,57

T-ST

AT

IAC-100/Kaba-80

2,49

2,55

T

AT-ST

IAC-100/Burangrang/Kaba-86P

2,42

2,28

T-ST

AT-ST

IAC-100/Burangrang-94P

2,34

2,10

T-ST

AT

Ijen

2,82

2,40

AT

R

G 100 H

2,32

2,53

AT

AT-ST

AT: agak tahan; T: tahan; ST: sangat tahan; R: rentan