Berita » Evaluasi Kegiatan Penelitian AFACI 2012-2013

afaci_mei_2013_1

Kerjasama penelitian antara Indonesia dan Korea diwadahi dalam Program AFACI. Salah satu kegiatan program ini adalah Variety Development and Improvement of Production Technologies of the Tropical Soybean, yang dilaksanakan oleh Balitkabi. Pada dasarnya, kerjasama AFACI dilaksanakan selama dua tahun dan dapat diperpanjang satu tahun. Saat ini, program AFACI sudah berjalan tiga tahun, dan pada tahun ketiga ini merupakan tahun terakhir program perpanjangan.

Pada setiap tahun berjalan selalu dilakukan monitoring dan evaluasi. Pada kegiatan AFACI 2012-2013, monitoring dan evaluasi dilakukan oleh Dr. Han Won Young dan Dr. Oh Ki Won mulai tanggal 13–17 Mei 2013. Dalam monitoring dan evaluasi pertanaman kedelai di lahan kering masam, disarankan penggunaan jarak tanam 40 cm x 10 cm karena pertumbuhan tanaman kedelai lebih kecil daripada pertumbuhan kedelai pada kondisi lahan optimal. Hal ini terlihat pada saat umur berbunga tajuk tanaman belum dapat menutupi lahan. Dengan penggunaan jarak tanam lebih rapat atau ditingkatkannya kepadatan tanaman, maka hasil kedelai akan lebih tinggi.

Pada percobaan pemupukan, tanaman yang dipupuk dengan 400 kg/ha NPK lebih baik daripada tanaman yang dipupuk 100, 200 dan 300 Kg/ha NPK. Oleh karena, juga disarankan penggunaan pupuk anorganik yang lebih tinggi karena ketersediaan hara dalam tanah relatif rendah. Penggunaan pupuk organik dan penggunaan rhizobium juga perlu, karena pada saat dilakukan pengambilan contoh tanaman, bintil akar yang terbentuk berjumlah sekitar 5 bintil akar. Kondisi ini berbeda jauh dengan bintil akar yang terbentuk pada pertanaman kedelai di Korea yang rata-rata mencapai lebih dari 100 bintil akar.

Dalam penelitian ini, juga ditanam varietas kedelai introduksi dari Korea. Pertumbuhan dari varietas-varietas ini tidak seperti pertumbuhannya pada saat ditanam di Korea. Keragaan tanaman lebih pendek dan berbunga lebih cepat. Keragaan tanaman varietas introduksi dari Korea yang lebih pendek dapat disebabkan oleh perbedaan kondisi lingkungan dengan daerah asal. Suhu dan panjang hari merupakan dua komponen utama dalam perbedaan kondisi lingkungan asal yang beriklim subtropik dan lingkungan Indonesia yang beriklim tropik. Pertumbuhan vegetatif tanaman yang pendek ini pada akhirya juga berpengaruh pada pertumbuhan generatif tanaman, ditunjukkan oleh jumlah buku subur lebih sedikit. Oleh karena itu, disarankan agar kedelai introduksi ini digunakan sebagai materi pemuliaan untuk merakit varietas berumur genjah dan berbiji besar.


Kiri: Dr. Han Won Young dan Dr. Oh Ki Won mengamati salah satu galur harapan yang menunjukkan pertumbuhan generatif yang baik.
Kanan: Dr. Oh Ki Won mengamati pertumbuhan varietas kedelai asal Korea yang ditanam di Indonesia.


Kiri: Dr. Han Won Young dan Dr. Oh Ki Won, didampingi Dr. Heru Kuswantoro mengunjungi penelitian lahan kering masam di Kebun Percobaan Taman Bogo, Lampung Timur. Tengah. Tengah: Dr. Han Won Young mengamati pertumbuhan galur-galur harapan kedelai adaptif lahan kering masam di Kebun Percobaan BP3T Tambang Ulang, Kalimantan Selatan. Kanan: Dr. Han Won Young dan Dr. Oh Ki Won, didampingi Dr. Heru Kuswantoro mengunjungi penelitian lahan kering masam di BP3T, Tambang Ulang-Kalimantan Selatan.

Tris/AW