Berita » Fasilitas Laboratorium Yang Memadai Guna Mendukung Penelitian

lab4

Kombinasi antara penelitian lapang dan dukungan fasilitas laboratorium diperlukan untuk menghasilkan produk berdaya guna dan layak jual. Kunjungan kepala Balitkabi dan Suhartina, MS ke salah satu lab di Department of functional crop, legume and oil crop research division pada tanggal 24 September 2012 ditunjukkan empat alat standar yaitu alat analisis protein (Rapid N Cube), amino acid analyzer, HPLC untuk analisis isoflavon kedelai dan anthocyanin analyzer. Menurut Byong Won Lee, PhD (salah satu peneliti pada Legume and Oil Crop Res Institute), peralatan tersebut dikhususkan untuk memperkuat pelaksanaan penelitian. Rapid N Cube hanya membutuhkan 5 menit per sample untuk analisis protein. Analizer asam amino mampu mengidentifikasi sebanyak 28 asam amino. Analyzer anthocyanin lebih banyak digunakan untuk penelitian kedelai hitam dan tanaman Perilla frutescens. HPLC dioptimalkan untuk analisis kandungan isoflavon pada kedelai dan mampu mengidentifikasi 12 individu isoflavon dan yang dominan pada kedelai adalah daidzein, glycitein dan genistein. Agenda lain kunjungan ke RDA dalam lingkup kerjasama AFACI dan Badan Litbang Pertanian adalah menyampaikan seminar tentang pemuliaan ketahanan kedelai terhadap hama pengisap polong Riptortus linearis di Indonesia. Seminar tanggal 24 September 2012 dihadiri oleh peneliti dari NICS dan dalam diskusi ditanyakan seberapa besar potensi ekonomi hama pengisap polong, apabila kedelai ditanam terus-menerus bagaimana potensi hama dan penyakitnya dan apakah trikoma juga berperan sebagai mekanisme ketahanan terhadap hama yang lain.  Pada kesempatan ini juga didiskusikan tentang peruntukan utama kedelai di Indonesia termasuk sebagai bahan baku industri tahu. Yang menarik adalah kunjungan ke Lab Entomologi. Kunjungan diterima oleh Soon-Do Bae, PhD. Berbagai inovasi yang telah dicapai disampaikan selain diskusi tentang beragam hama di Korea Selatan dan Indonesia. Yang menarik adalah dengan hanya 2 entomologis mampu menghasilkan beragam produk dan produk tersebut sudah diproduksi dalam skala luas oleh industri. Contoh produk yang telah dihasilkan dan telah diproduksi oleh industri adalah Biocide Gelatin Capsule; BTI BIO CAP (Bacillus thuringiensis var isrealensis); dan yang paling anyar adalah Solar Smart-trap, yang mengusung tema eco-world made by hands. Mengawali diskusinya, Dr. Bae menyatakan bahwa upaya operasional di lapang dialihkan ke konsep GPM, green pest management. Dalam mendukung GPM yang penting adalah dukungan attraktan termasuk sex pheromon, trap dan biopestisida.  Harga Solar Smart-trap di Korsel mencapai KW (Korean Won) 900.000 (sekitar 9 juta rupiah) dan dalam 1 ha diperlukan 8 – 10 Solar Smart-trap untuk tanaman kedelai dan padi, dan pada kedelai mampu mengurangi penggunaan pestisida hingga 40%. Pada saat Ibu Suhartina menanyakan tentang status hama Bemisia tabaci yang di Indonesia akhir-akhir ini menjadi hama merugikan. Dr. Bae menyampaikan suhu dan kelembaban memegang peranan penting dan sulit diatur.  Di Korsel terdapat biotipe Q  yang dinilai lebih berbahaya dibandingkan dengan biotipe B.  Dr. Bae juga menemukan sex pheromon untuk hama polong pada kedelai. Pada akhir pertemuan, Dr. Bae menawarkan jika peneliti Balitkabi berkeinginan berdiskusi diminta mengirimkan email kepada beliau.  Hayo renggut kesempatan tersebut.

 

Alat terpelihara dengan baik

Seminar di NICS

Diskusi dengan entomologis, Dr. Bae, dan leaflet Smart-trap