Berita » FGD dan Business Gathering Kacang Hijau Vima 1

Gambar 1. Suasana menjelang FGD.

Gambar 1. Suasana menjelang FGD.

“Mengapa isu komoditas kacang hijau yang diangkat dalam FGD kali ini, apa nilai keuntungan yang didapatkan dari bisnis perbenihan kacang hijau”, tanya Glenn Pardede, Direktur PT EWINDO dengan benchmark “Benih Cap Panah Merah”, mengawali sambutannya pada acara FGD yang diselenggarakan di Jakarta tanggal 7 November 2018.

Lebih lanjut disampaikan adalah “orang gila” yang mau terjun di bisnis perbenihan kacang hijau. “Ini adalah tantangan dan upaya untuk mengangkat harkat petani”, kata Pardede dengan optimis. Dicontohkan EWINDO juga memproduksi benih kangkung yang pada awalnya juga diperkirakan akan merugi, tetapi apabila dikemas dengan baik dan tujuannya baik maka akan memberi manfaat bagi orang banyak. Memang saat ini kacang hijau masih menempati urutan ketiga setelah kedelai dan kacang tanah tetapi melihat keunikannya yaitu beradaptasi terhadap kekurangan air, berumur genjah, dapat meningkatkan kesuburan tanah, petani juga tidak asing dengan komoditas ini, serta harga jualnya yang stabil dan relatif tinggi. Namun kenyataan di lapangan banyak varietas unggul kacang hijau yang dilepas pemerintah ternyata menjadi barang langka. Permasalahan ini langsung ditangkap oleh PRISMA yang dimotori oleh Niken Dhita Larasati bekerjasama dengan EWINDO yang dikoordinasi oleh petugas yang enerjik yaitu Wakrimin dengan dukungan penuh dari pemulia Balitkabi.

FGD dihadiri oleh peserta dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi, pemerintah, peneliti, GAPMMI, ASBENINDO, bahkan perwakilan petani. Direktur Perbenihan Dr. M. Takdir Mulyadi, Kepala Balitkabi Dr. Yuliantoro Baliadi didampingi oleh pemulia kacang hijau Dr. Rudi Iswanto hadir pada kegiatan FGD tersebut .

Gambar 2. Suasana diskusi saat FGD.

Gambar 2. Suasana diskusi saat FGD.

Lima paparan yang disampaikan pada FGD kali ini yaitu: (1) Pengembangan varietas benih kacang hijau lokal dengan teknologi adaptif dan aplikatif bagi petani (Dr. Ir. Tri Koesoemaningtyas, M.Sc., IPB), (2) Kebutuhan benih kacang hijau berkualitas untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani (Ir. H. Winarno Tohir, Ketua Umum KTNA), (3) Kacang hijau sebagai komoditas potensial untuk mencapai ketahanan pangan nasional dan perbaikan gizi (Prof. Surjono H Sutjahjo, IPB), (4) Kacang hijau – komoditas strategis non pajale untuk peningkatan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat pedesaan (Prof. Rudi Wibowo, Unej), dan (5) Nilai strategis kacang hijau untuk menjamin pertumbuhan dan keberlanjutan industri makanan di Indonesia (Stefanus Indrayana, GAPMMI).

Diskusi berjalan sangat menarik dan berbagai masukan disampaikan dalam FGD kali ini. Kepala Balitkabi menyampaikan pada era pertanian 4.0, varietas yang dihasilkan oleh Balitkabi sudah mampu menjawab tantangan, selain produktivitas tinggi, generasi Vima memiliki karakteristik umur yang genjah, masak serempak, dan polongnya yang berada diatas kanopi memudahkan proses panen dan pasca panennya. Dengan menggunakan alat mekanisasi, proses panen lebih efisien dan menekan biaya tenaga kerja. Ditambahkan oleh Rudi Iswanto, pecahnya polong yang mengurangi hasil panen dapat ditekan karena generasi Vima ini memiliki keunggulan tahan pecah polong selain juga tahan terhadap serangan hama penyakit.

“Kacang hijau mempunyai bargaining yang bagus dibandingkan bila harus impor”, tutur Dewa dari PSEKP. Oleh karena itu sekarang yang perlu dipikirkan adalah bagaimana varietas unggul berada di pasar, sehingga petani lebih mudah mendapatkannya. Hal ini langsung dijawab oleh PT EWINDO, yang di akhir acara dilakukan peluncuran benih Varietas Vima 1 dengan kemasan 1 kg. Harapannya agar benih segera tersedia di pasar dan petani tidak kesulitan memperolehnya.

Gambar 3. Peluncuran produk benih Varietas Vima 1 EWINDO.

Gambar 3. Peluncuran produk benih Varietas Vima 1 EWINDO.

RI