Berita » FGD Penyusunan Kebijakan Pengembangan Pajale

fgd-kebijakan

Tanpa terasa selama satu jam KaBiro Perencanaan Kementan Dr. Kasdi Subagyono, M.Sc. paparkan perencanaan Kementan menuju lumbung pangan dunia di tahun 2045 secara holistik-integratif termasuk kisi-kisi RPJM 2020‒2024, khususnya arahan-arahan substantif Presiden Jokowi dan Mentan Dr. Andi Amran Sulaiman ,M.P. Bahkan kita sudah diminta untuk memikirkan pangan Indonesia di tahun 2080.

Taktis, tematik, dan strategik, itulah yang bisa disimpulkan. Direktorat Serealia dan Akabi dari Ditjen Tanaman Pangan coba sampaikan rencana ringkas tahun 2019 dan roadmap pajale menuju 2045, khususnya komoditas kedelai yang masih tertinggal. “Kebijakan kedelai harus hati-hati karena impactnya terhadap harga tahu dan tempe,” ujar Prof. Dr. M. Firdaus, dari Departemen Ekonomi IPB.

Balitkabi menyampaikan perlunya tingkatkan rasa optimis untuk mengulangi capaian swasembada kedelai seperti tahun 1992. “Melihat grafik hasil kedelai terus turun mungkinkah bisa dinaikkan?,” kata Dr. Yuliantoro Baliadi selaku Kepala Balitkabi. Perlu keseriusan bersama untuk memastikan bahwa target produksi yang telah ditetapkan tercapai. Balitkabi ingatkan beberapa hal sebagai kunci program dan perencanaan dan hati-hati salam rencana aksinya menuju 2045 yaitu: (1) Trend peningkatan produktivitas VUB 10 tahun terakhir, berapa delta kenaikan per 5 tahunan. Hingga saat ini varietas kedelai produktivitasnya 2,5‒3,5 t/ha dengan rata-rata tertinggi 2,78 t/ha, (2) Trend dongkrak teknologi budi daya 10 tahun terakhir untuk menaikkan produksi, masih perlu terobosan teknologi budi daya untuk atasi kendala-kendala biotik/abiotik, dan (3) Sudah waktunya industri varietas dan benihnya, tanpa keberanian ini siklus masalah dan problematik akan berulang tanpa ujung.

Masalah harga hingga kini tetap belum terselesaikan, petani meminta harga Rp.8000 ‒ Rp.8500 per kg dan tidak lagi minta bantuan lainnya. Apalagi budi daya kedelai di Indonesia tergolong belum efektif dan efisien. Lahan kedelai tergeser dari lahan irigasi ke lahan Perhutani, rawa pasang surut, lahan kering ,dan lahan tadah hujan. Langkah ini sudah benar karena selama ini semuanya dikungkung keterbatasan lahan karena “orientasinya irigasi”.

fgd-kebijakan1

Semoga Balitkabi dengan inovasi kedelainya dapat terus berpartisipasi aktif dalam pencapaian swasembada kedelai…

 

YB