Berita » FGD Perencanaan Jangka Panjang Pembangunan Pertanian

Focus Group Discussion (FGD) perencanaan jangka panjang pembangunan pertanian komoditas padi, jagung, dan kedelai dilakukan tanggal 13 Juli 2017 di Balitkabi oleh Biro Perencanaan Kementan yang diikuti oleh peneliti Balitkabi, petugas penyuluh, dan Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) dari Blitar, Nganjuk, serta penangkar dan petani dari Blitar dan Gresik.

birorenPerencanaan yang akan dilakukan menggunakan model sistem dinamik dan sudah didesain oleh Biro Perencanaan. FGD dimaksudkan untuk menggali informasi berkaitan dengan aspek penghambat dan peluang dalam pencapaian swasembada kedelai. Setelah pemaparan dari Tim Biro Perencanaan tentang sistem dinamik dilanjutkan pemaparan dari Tim Balitkabi diwakili oleh Prof. Subandi.

Saran dari Tim Balitkabi untuk Tim Sistem Dinamik bahwa faktor regulasi semestinya berpihak pada petani sehingga petani bergairah untuk menanam kedelai. Selain itu juga perlu diperhatikan adalah faktor curah hujan. Pada daerah tertentu curah hujan masih tinggi sehingga petani memilih tanam padi, namun di daerah pasang surut jika air melimpah justru tidak dapat ditanami. Faktor harga serta ketersediaan benih juga harus mendapat perhatian serius. Balitkabi sebagai sumber teknologi dan inovasi kedelai siap mendukung program Biro Perencanaan Kementan. Kepala Balitkabi yaitu Dr. Joko Susilo Utomo menyampaikan bahwa saat ini Balitkabi juga dilibatkan dalam Program Dirjen Tanaman Pangan dalam kegiatan CPCL, perbenihan, dan penyediaan teknologi.

Penangkar kedelai dari Blitar yaitu Bapak Sugito dengan pengalaman 16 tahun, menyampaikan bahwa selama harga kedelai terjamin petani akan semangat menanam kedelai. Masalah lain adalah benih yang ada di lapang kurang menarik petani karena daya tumbuh benih tidak seragam dan kesulitan untuk mendapatkan benih. “Jika harga kedelai terjamin dan berdampak pada peningkatan pendapatan petani, maka petani Blitar tidak beralih ke komoditas lainnya”, ungkap Pak Sugito.

biroren1Lain halnya dengan petani di Nganjuk. Bapak Sunawan menyampaikan bahwa serangan hama merupakan kendala utama. Di Nganjuk, kedelai masih belum menjadi tanaman unggulan, hanya sebagai penunggu waktu untuk tanam bawang merah. “Petani menanam kedelai hanya sebagai pemacu dan pemicu tanaman bawang merah di musim tanam berikutnya”, tutur Pak Sunawan.

“Kebijakan untuk petani berbasis lahan dan komoditas adalah yang terlemah, perlu ada pemetakan produsen benih kedelai secara nasional”, papar Dr. Muchlish Adie. Dalam acara FGD juga disampaikan perihal hama utama pada tanaman kedelai, bagaimana cara pengendaliannya serta solusi optimum pengendalian hama oleh pakar entomologi Balitkabi yaitu Dr. Yusmani Prayogo.

Banyak sekali masukan dan saran dari Tim Pakar Balitkabi mulai aspek budidaya, perbenihan, proteksi tanaman, sosial ekonomi, dan mekanisasi sehingga jika saran/informasi tersebut diakomodasi akan dapat memperbaiki model sistem dinamik yang dikembangkan oleh Tim Biro Perencanaan Kementan.

 

 BSK/KN