Berita ยป FGD Taman Teknologi Pertanian di Tegal, Jawa Tengah

TTP Tegal atau yang kemudian disepakati diberi nama TTP Lebaksiu adalah salah satu dari 16 TTP yang akan dibangun pemerintah melalui Balitbangtan pada tahun 2015. Kegiatan PRA dan Baseline Survey telah dilaksanakan, dan untuk menyusun Action Plan diselenggarakan FGD TTP Tegal yang berlangsung pada tanggal 25โˆ’28 Juni 2015.

FGD dilaksanakan di calon lokasi TTP yaitu di kantor UPTD Dintanbunhut, Desa Kesuben, Kec. Lebaksiu, Tegal, dihadiri oleh Kepala BPTP Jawa Tengah, Kadistanbunhut, KaKKP, seluruh UPTD Dintanbunhut, penyuluh, gapoktan, petani, peneliti lingkup Balitbangtan (BB Pascapanen, Balitbu, Balitsa, BB Padi, Balitkabi, Balitnak, Loka Sapipotong, dan Lolit Tungro).

Balitkabi diwakili oleh Dr. Novita Nugrahaeni dan Ir. Suhartina, M.P. Kegiatan FGD diawali acara audiensi dengan Bupati Tegal, dilanjutkan dengan presentasi dan diskusi rencana TTP Tegal, kunjungan lapang, presentasi baseline survey dan diskusi, yang terdiri dari diskusi kelompok padi, jagung, akabi, ternak, duku, serta presentasi hasil diskusi kelompok.

Lokasi TTP Tegal adalah di komplek kantor BPP Kesuben seluas 4 ha, yang disangga oleh sekitar 100 ha lahan petani sebagai petani plasma. Kabupaten Tegal mempunyai luas areal pertanian (sawah dan tegal) seluas 87.879 ha, sebanyak 594 ha diantaranya berada di desa Kesuben, kec. Lebaksiu.

Berdasarkan PRA dan survey baseline ditetapkan komoditi utama di TTP ini adalah padi, jagung, domba, dan duku. Padi dan jagung adalah komoditi utama di kecamatan ini, domba dipilih karena Tegal sangat terkenal dengan kuliner sate Balibul dan martabak Lebaksiu, sedangkan duku merupakan komoditi yang sangat spesifik Lebaksiu karena rasa manisnya, namun populasinya terus menurun.

Duku Lebaksiu hanya menampakkan kekhasannya (manis, lebih manis dibandingkan Duku Palembang) apabila ditanam di Lebaksiu. Melalui TTP Lebaksiu diharapkan populasi tanaman ini di Lebaksiu dapat meningkat, sehingga menjadi ikon Lebaksiu.

Air di Desa Kesuben tersedia sepanjang tahun, sehingga mayoritas (70%) mengikuti pola tanam padi-padi-padi, sebanyak 20% padi-padi-palawija, dan hanya 10% yang mengikuti pola tanam padi-palawija-palawija. Padi yang biasa ditanam adalah varietas Ciherang dan Situbagendit.

Produktivitas padi berkisar antara 4,8โˆ’6 t/ha dengan kendala tenaga kerja, tikus, dan penggerek batang. Sedangkan produktivitas jagung adalah antara 6โˆ’9 t/ha, dengan masalah utama penyakit bulai dan jamur ngrapak. Berdasarkan masalah dan peluang telah diidentifikasi lima titik ungkit peningkatan pendapatan masyarakat pada areal dampak.

Petani, penyuluh, dan petugas sangat antusias mengikuti jalannya presentasi dan diskusi (Gambar), sehingga saran dan batasan inovasi teknologi dapat tergambar dengan jelas. Diantaranya adalah petani hanya menginginkan komoditi pangan padi dan jagung.

Tantangan pada komoditi jagung adalah memberi alternatif varietas yang bisa memberikan hasil biji lebih tinggi atau setara dengan biaya produksi yang lebih rendah. Komoditi kacang-kacangan tidak diminati oleh petani sekitar TTP Lebaksiu.

Kedelai tidak diminati karena hama ulat grayak sangat parah, kacang tanah tidak laku dijual hasil panennya, kacang hijau tidak dapat tumbuh baik, pendek dan polong hampa. Penjelasan yang diberikan tentang peluang mengatasi masalah-masalah tersebut belum dapat diterima oleh petani, sehingga disepakati pada tahun pertama ini tidak ada penanaman tanaman akabi.

Pada tahun pertama ini kegiatan terbatas pada pengenalan varietas ubikayu dan ubijalar. Olahan ubikayu dan ubijalar akan diperkenalkan melalui produksi tepung dan pemanfaatannya.

Kegiatan presentasi dan diskusi pada FGD TTP Tegal/Lebaksiu.

Kegiatan presentasi dan diskusi pada FGD TTP Tegal/Lebaksiu.

NN/Suhartina